Uang Bank Sentral Irak Masih Tersandera oleh AS, Sehingga AS Mudah Mengintervensi Politik Irak
ORBITINDONESIA.COM - Ternyata sampai hari ini, Pemerintah Irak kalau mau mencairkan dana dari minyak dan gas Irak itu harus melewati proses invoicing yang dapat pengesahan dari Departemen Keuangan AS/Treasury Department.
Awalnya, dana penjualan minyak Irak itu ditangani oleh Development Fund for Iraq (DFI), lalu digantikan oleh Central Bank of Iraq, yang uangnya itu disimpan di Akun The Fed New York.
Makanya mata uang Irak sampai hari ini itu masih tersandera oleh AS, karena dari Baghdad masih harus minta uang dolar yang dikirim via pesawat kargo dalam jumlah miliaran dollar ke Feds New York.
Prosesnya: Central Bank of Iraq (CBI) mengajukan permintaan -> US Treasury memveto/menyetujui -> Uang fisik dimuat ke palet -> Diterbangkan dengan pesawat kargo militer/charter ke Baghdad -> Dilelang oleh CBI ke bank-bank swasta Irak.
Jika AS menahan pesawat ini selama 2 minggu saja, nilai tukar dinar di pasar gelap akan meroket, harga roti naik, dan rakyat akan turun ke jalan membakar ban. Ini adalah tombol "On/Off" kerusuhan sosial yang dipegang Washington.
Pemerintah Irak itu sebenarnya punya ide untuk bagaimana mendapatkan uang selain USD, seperti menukarkan minyak dengan uang non USD seperti Yuan. Central Bank Irak itu pernah ada ide agar buyer Irak itu --kalau membeli barang dari China-- untuk menggunakan mata uang Yuan. Ini seperti Presiden Xi Jinping yang mengusulkan dalam pertemuan ke negara Arab Teluk, untuk berdagang dengan China menggunakan Yuan atau mata uang lokal.
Tahun 2019 PM Irak Adil Abdul-Mahdi ke China membawa ide untuk menukar 100.000 barrel minyak per hari, China mau beli 750.000 barrel minyak per hari dari Irak. PM Irak saat itu harapannya akan depositkan uang pembelian itu untuk mendepositkan di Shanghai dan mata uang Yuan, agar bisa dapat uang untuk pembangunan infrastruktur, energi, pangan, dll. Dan akhirnya tidak lama setelah balik dari China, PM Adil Abdul-Mahdi didemo besar-besaran sampai mundur di Irak.
Makanya Presiden Donald Trump itu ketika tahu calon PM Irak selanjutnya adalah Nouri Al Maliki, yang dari Islamic Dawa Party yang terkenal dekat dengan Iran itu, langsung mengeluarkan peringatan keras ke Irak. Kalau Nouri Al Maliki jadi PM maka Pemerintah AS akan menahan seluruh pengiriman uang USD ke Irak agar mata uang Dinar Irak jatuh hancur
Skema negara normal seperti Indonesia, Arab Saudi, Malaysia, dll. adalah ketika mereka menjual minyak dalam USD, mereka bebas mau menyimpan itu di bank komersial atau bank sentral negara tersebut.
Sedangkan dalam kasus Irak, karena mereka terikat dengan Resolusi 1483 yang mengharuskan uang hasil jual minyak Irak harus ditaruh di DFI, lalu Bank Sentral Irak, yang punya akun di The Feds NY. Itulah yang membuat kebijakan ekonomi politik Irak sangat tersandera oleh Pemerintah AS
Sebenarnya proyek rekonstruksi Irak pasca Perang 2003, kalau dicek data, yang banyak mengerjakan itu ya China. Bikin Power Plant, bikin proyek jalan, bikin bandara, Bikin ini itu lebih banyak yang mengerjakan adalah dari China. Karena waktu itu kontraktor-kontraktor Amerika belum berani masuk Irak karena resikonya masih tinggi, instabilitas. Belum lagi, syarat finansial Amerika lebih berat daripada China.
(Sumber: Admin TDW) ***