Indonesia Bergabung dengan Board of Peace: Antara Kemaslahatan dan Kontroversi
ORBITINDONESIA.COM – Keputusan Indonesia untuk bergabung dengan Board of Peace menuai sorotan tajam dari berbagai kalangan, menggugah pertanyaan tentang masa depan diplomasi dan perdamaian dunia.
Bergabungnya Indonesia ke dalam Dewan Perdamaian, yang didirikan oleh Presiden AS Donald Trump, telah menimbulkan perdebatan hangat. Majelis Ulama Indonesia (MUI) memberikan dukungan dengan syarat kemaslahatan umat tetap terjaga. Namun, ada kekhawatiran terkait keberadaan Israel dalam forum ini.
Prabowo Subianto, Presiden Indonesia, mengundang organisasi Islam untuk mendiskusikan manfaat bergabung dengan Board of Peace. Komitmen utama yang disorot adalah perjuangan untuk kemerdekaan Palestina dan bantuan kepada warga Gaza. Namun, sejarah menunjukkan bahwa keterlibatan negara-negara besar dalam konflik Timur Tengah sering kali berbenturan dengan kepentingan politik yang lebih luas.
Keputusan politik ini mengundang pertanyaan mendasar: apakah Indonesia dapat mempertahankan posisi netral dan tetap berkomitmen pada kemaslahatan umat? Sikap tegas Prabowo untuk mundur jika kemaslahatan tak tercapai menjadi janji yang harus diuji waktu. Keterlibatan Israel tanpa Palestina dalam forum ini menjadi titik kritik yang signifikan.
Keputusan bergabung dengan Board of Peace bisa menjadi langkah strategis atau justru jebakan diplomatik. Pertanyaan yang tersisa adalah: Bisakah Indonesia memanfaatkan forum ini untuk benar-benar memperjuangkan perdamaian dunia? Waktu yang akan menjawab, namun publik diharapkan terus mengawasi kebijakan luar negeri yang diambil.
(Orbit dari berbagai sumber, 6 Februari 2026)