Transformasi Eropa Menuju Federasi Sejati: Tantangan dan Peluang

ORBITINDONESIA.COM – Europe berisiko menjadi terpinggirkan dan terpecah jika tidak bertransformasi menjadi federasi sejati, menurut Mario Draghi, mantan Perdana Menteri Italia dan Presiden Bank Sentral Eropa.

Dalam pidatonya di Universitas KU Leuven, Draghi menguraikan risiko jika Eropa tetap dalam bentuk konfederasi. Dia menyoroti kegagalan tatanan global sejak Tiongkok bergabung dengan WTO dan mulai bersaing dalam perdagangan internasional dengan ambisi menjadi kekuatan global tersendiri. Hal ini mengakibatkan perdagangan yang lebih sedikit dan aturan yang lebih lemah.

Draghi menunjukkan bahwa Amerika Serikat telah mulai mengenakan tarif pada Eropa, menunjukkan fragmentasi politik Eropa menguntungkan kepentingan AS. Di sisi lain, Tiongkok mengendalikan rantai pasokan global dan siap memanfaatkan leverage tersebut. Draghi menekankan pentingnya perubahan struktur signifikan dalam Uni Eropa, dengan contoh keberhasilan dalam perdagangan, persaingan, dan kebijakan moneter.

Draghi mengusulkan 'federalisme pragmatis' untuk mengatasi kebuntuan politik Eropa. Anggota dapat memilih untuk bergabung tanpa mengorbankan nilai-nilai dasar. Dengan pengalaman euro sebagai contoh, Eropa dapat menghindari subordinasi dan tetap menjadi kekuatan global sejati di antara AS dan Tiongkok.

Draghi menegaskan bahwa Eropa harus memutuskan apakah akan tetap menjadi pasar besar yang tunduk pada kepentingan lain, atau mengambil langkah untuk menjadi kekuatan tunggal. Sebuah Eropa yang tidak dapat mempertahankan kepentingannya tidak akan lama mempertahankan nilainya. Pertanyaan terbuka adalah apakah Eropa siap untuk perubahan ini.

(Orbit dari berbagai sumber, 5 Februari 2026)