Teleskop Roman NASA, Eksoplanet dan Energi Gelap yang Mengguncang Kosmologi
ORBITINDONESIA.COM – Teleskop Luar Angkasa Nancy Grace Roman (Roman Space Telescope) meluncur 30 Agustus dari Florida, menuju titik Lagrange Matahari–Bumi sejauh sekitar satu juta mil dari Bumi. Dari sana, Roman memburu eksoplanet sekaligus menguji misteri energi gelap, dua kata kunci yang kini paling dicari publik ketika membahas masa depan alam semesta.
Selama tiga bulan, Roman akan menempuh perjalanan ke “rumah” orbitnya, wilayah stabil tempat gravitasi Matahari dan Bumi seimbang. Di lokasi itu, Roman akan “bertemu” James Webb Space Telescope yang sudah lebih dulu bekerja selama empat tahun.
Roman juga unik menurut standar NASA karena datang lebih cepat dan lebih murah dari rencana. Cermin utamanya adalah hibah dari National Reconnaissance Office, berasal dari program satelit mata-mata yang dibatalkan, lalu diubah menjadi instrumen ilmu pengetahuan.
Namun Roman tidak langsung bekerja penuh karena perlu masa uji dan kalibrasi, sehingga layanan resminya baru dimulai tahun depan. Di titik inilah publik cenderung menunggu foto-foto perdana, padahal misi Roman menyasar pertanyaan yang jauh lebih besar daripada sekadar gambar indah.
Bagian paling “seksi” dari Roman adalah perburuan eksoplanet, planet yang mengorbit bintang lain. Roman memakai Coronagraph Instrument paling maju, alat yang menutup cahaya bintang agar objek redup di sekitarnya bisa terlihat.
Secara konsep coronagraph tampak sederhana, seperti menaruh penutup di depan sumber silau. Tetapi praktiknya rumit karena planet jauh lebih redup, sementara jarak planet dan bintang nyaris tak terpisah dari sudut pandang kita.
Karena itu Roman memakai rangkaian masker, baffle, stop, dan detektor untuk menyaring cahaya bintang. Ada pula dua cermin fleksibel dengan ratusan “piston” mikro yang membentuk permukaan cermin untuk menekan panjang gelombang tertentu dan menonjolkan sinyal planet.
Sejauh ini daftar eksoplanet yang bisa dipotret langsung masih pendek dan bias, umumnya planet muda yang terang di inframerah serta jauh dari bintangnya. Bahkan banyak “gambar” yang hanya berupa satu piksel, sehingga informasi fisiknya sangat terbatas.
Roman ditargetkan melihat planet yang lebih dekat ke bintang, termasuk yang berada di “zona layak huni” sistemnya. Roman juga diproyeksikan mampu memotret planet berusia miliaran tahun, sehingga memberi petunjuk tentang evolusi planet di luar Tata Surya.
Yang lebih penting, mode spektroskopi coronagraph memungkinkan Roman menilai apakah sebuah eksoplanet punya awan atau atmosfer. Jika berhasil, tahun depan publik bisa saja melihat “Pale Blue Dot” versi bintang lain, bukan hanya konsep puitik ala Bumi.
Separuh lain misi Roman justru lebih menentukan arah kosmologi: energi gelap. Energi gelap adalah penjelasan paling populer ketika matematika ekspansi alam semesta “tidak cocok” tanpa komponen tambahan.
Sejak 1929, Edwin Hubble menunjukkan bahwa galaksi yang lebih jauh bergerak menjauh lebih cepat, tanda alam semesta mengembang. Teori Big Bang lalu masuk akal, dan dulu banyak ilmuwan menduga gravitasi akan membuat ekspansi melambat dan berakhir pada Big Crunch.
Tetapi pada 1998, pengamatan menunjukkan ekspansi tampaknya justru makin cepat. Di sinilah energi gelap diperkenalkan sebagai gaya misterius bertekanan negatif yang tersebar relatif merata dan mendorong percepatan ekspansi.
Dalam model kosmologi yang paling diterima, materi dan energi biasa hanya sekitar 5% dari kandungan massa-energi alam semesta teramati. Sekitar 27% adalah materi gelap, dan sisanya 68% “harus” berupa energi gelap agar pengukuran laju ekspansi konsisten.
Masalahnya, model dominan menganggap energi gelap konstan, sama di setiap tempat dan waktu. Namun beberapa tahun terakhir, data dari objek sangat jauh, termasuk Cosmic Microwave Background, memberi indikasi bahwa efek energi gelap mungkin melemah seiring waktu.
Will Percival dari University of Waterloo, yang terlibat dalam proyek Dark Energy Spectroscopic Instrument, mengatakan, “Semakin terlihat bahwa kita mungkin perlu memodifikasi model standar kosmologi agar berbagai dataset ini masuk akal bersama.” Ia menambahkan bahwa gagasan “energi gelap yang berevolusi” tampak menjanjikan.
Jika energi gelap berubah, skenario akhir alam semesta ikut berubah. Ekspansi yang makin liar membuka kemungkinan Big Rip, ketika struktur kosmik hingga partikel paling dasar tercerai-berai.
Jika ekspansi melambat cukup jauh, gravitasi bisa menang dan alam semesta runtuh dalam Big Crunch. Jika energi gelap bersiklus, alam semesta bisa mengalami rangkaian Big Crunch dan Big Bang berulang, dan kita hanya hidup di salah satu putaran.
Namun semua ini berdiri di atas perbedaan pengukuran yang sangat tipis, sehingga bisa saja masih dalam batas galat. Cara memastikannya adalah membuat pengukuran jauh lebih presisi dan berulang, dan itulah ruang kerja Roman.
Kamera Roman tidak jauh lebih “kuat” daripada Hubble dalam hal ketajaman, tetapi bidang pandangnya 100 kali lebih lebar. Konsekuensinya, Roman dapat menyurvei langit jauh lebih cepat dan mengulang survei area yang sama berkali-kali untuk menangkap perubahan.
Supernova yang baru menyala atau meredup akan terdeteksi lebih cepat daripada sebelumnya. Perubahan kecil pada citra galaksi yang terdistorsi lensa gravitasi juga bisa dicatat, sehingga peta kosmos sebagai sistem dinamis menjadi lebih rinci.
Roman juga tidak bekerja sendirian karena data akan dibandingkan dengan observatorium lain seperti Webb, Euclid milik ESA, Rubin yang berbasis darat, dan Hubble yang masih aktif setelah 36 tahun. Julie McEnery, ilmuwan proyek senior Roman, menegaskan kolaborasi itu: “Roman, Rubin, dan Euclid itu saudara; kami bukan kompetitor, kami lebih kuat bersama.”
Roman adalah contoh bagaimana sains besar kadang lahir dari logika yang tidak romantis, yaitu memanfaatkan aset intelijen yang terbengkalai menjadi instrumen publik. Ada ironi yang produktif ketika “cermin mata-mata” justru dipakai untuk mengintip asal-usul dan nasib kosmos.
Di sisi lain, narasi eksoplanet sering menenggelamkan bagian paling radikal dari misi ini, yaitu menguji apakah model kosmologi standar perlu direvisi. Publik menyukai planet karena bisa dibayangkan, sementara energi gelap menuntut kita nyaman dengan ketidakpastian yang tidak punya bentuk.
Jika Roman menemukan indikasi kuat bahwa energi gelap berevolusi, dampaknya bukan sekadar angka baru di jurnal. Itu berarti peta pengetahuan kita tentang “bahan” alam semesta berubah, dan buku teks harus mengalah pada data.
Namun bila Roman justru menegaskan energi gelap konstan, itu juga bukan kegagalan. Itu berarti anomali sebelumnya kemungkinan efek sistematik atau galat, dan sains menang karena berhasil membedakan sinyal dari kebisingan.
Yang patut dikritisi adalah kecenderungan mengemas misi seperti ini sebagai perlombaan antar-teleskop. Pernyataan McEnery mengingatkan bahwa kosmologi modern adalah ekosistem instrumen, bukan panggung solo, dan kebenaran lahir dari silang-verifikasi.
Roman menjanjikan dua jenis “foto” yang sama-sama mengguncang: potret planet asing dan potret ulang alam semesta yang sedang berubah. Di antara keduanya, energi gelap mungkin tidak fotogenik, tetapi ia menentukan apakah masa depan kosmos adalah robek, runtuh, atau berulang.
Ketika Roman mulai rutin menyapu langit dengan bidang pandang raksasa dan pengulangan teliti, ia akan memaksa kita memilih: mempertahankan model lama atau menerima alam semesta yang lebih aneh dari dugaan. Pada akhirnya, mungkin pelajaran terbesarnya sederhana, bahwa ketidaktahuan bukan aib, melainkan pintu masuk menuju pengukuran yang lebih jujur.
(Orbit dari berbagai sumber, 5 September 2026)