Iyek Aghnia: Buku, Penulis Lokal, dan Hari Jadi Bangka Selatan
Oleh Iyek Aghnia
ORBITINDONESIA.COM - Literasi tidak semata-mata berkaitan dengan minat baca dan tulis. Ia adalah fondasi penting dalam membangun masyarakat yang kritis, berdaya pikir, dan berdaya saing. Melalui literasi, sebuah daerah tidak hanya merawat ingatan kolektifnya, tetapi juga menyiapkan masa depan warganya.
“Ini adalah bentuk pengakuan terhadap kerja intelektual penulis lokal. Kami ingin menunjukkan bahwa Bangka Selatan memiliki potensi literasi yang tidak kalah dengan daerah lain,” ujar Rapi Pradipta, Koordinator Peluncuran Buku Hari Jadi Kabupaten Bangka Selatan 2026.
Pernyataan tersebut mengisyaratkan satu hal penting: buku tidak dipandang sekadar produk budaya, melainkan bagian integral dari pembangunan daerah dan bangsa.
Buku adalah jendela dunia—melalui halaman-halamannya, manusia belajar memahami kehidupan dalam berbagai lapis dan sudut pandang. Buku memegang peranan penting dalam perkembangan pengetahuan dan kecerdasan manusia. Ia bukan hanya menyimpan informasi, tetapi juga menjadi penghubung antargenerasi, menyampaikan ide, nilai, dan pengalaman dari satu zaman ke zaman berikutnya. Karena itulah buku layak dirayakan dan dilestarikan.
Lebih jauh, buku merupakan ruang dialektika antara membaca dan menulis. Ia adalah manifestasi kebudayaan tertinggi manusia, tempat aksara dan tanda-tanda berkumpul membangun gagasan. Buku menjadi jembatan diskursus antarmanusia—makhluk berpikir yang terus bertanya, menafsir, dan memaknai dunia.
Buku bukan sekadar kumpulan kertas yang disusun menjadi halaman-halaman. Ia adalah wahana di mana pemikiran dituangkan, gagasan diabadikan, dan rasa ditumpahkan. Buku menjadi storage pemikiran penulis, sekaligus medium bagi pembaca untuk mengakses, menafsirkan, dan menghidupkannya kembali.
Hal ini sejalan dengan salah satu misi fundamental berdirinya Republik Indonesia: mencerdaskan kehidupan bangsa. Mencerdaskan kehidupan bangsa berarti mencerdaskan akal budi warga negara agar mampu menunjukkan jati diri, berperan aktif, dan relevan dalam pergaulan dunia.
Dalam konteks itulah, kado Hari Jadi Kabupaten Bangka Selatan berupa buku-buku karya penulis lokal menjadi sangat bermakna. Ia adalah bukti nyata bahwa literasi ditempatkan sebagai elemen penting dalam pembangunan daerah. Seperti dikatakan Rapi Pradipta—penulis buku Lawang Uma—literasi merupakan fondasi dalam membangun masyarakat yang kritis dan berdaya saing.
Yang lebih menggembirakan, sejumlah buku tersebut merupakan karya pelajar dari Negeri Junjung Behaoh—para pewaris masa depan daerah dan bangsa. Sebut saja Aridho dan Rafel Aditya, pelajar SMPN 2 Toboali, dengan buku Ikan Hemilang Sakti. Ada pula Fiora Villela dkk dari SMAN 1 Toboali dengan Antologi Cerita Pendek Berani Bermimpi, serta Naomi Kania Dealova dkk dengan Kumpulan Cerita Pendek Bidadari Kehidupan yang dieditori oleh guru sekaligus budayawan Ahmad Gusairi.
Buku, pada akhirnya, adalah jendela untuk memahami dunia, cermin untuk merefleksikan identitas kolektif sebagai bangsa, sekaligus pembuka mata pikiran dan mata hati. Ia memainkan peran sentral dalam transmisi pengetahuan, pembentukan wacana, dan pembangunan jati diri kita sebagai warga bangsa.
Sebanyak 23 buku karya penulis lokal Bangka Selatan yang dipersembahkan sebagai kado Hari Jadi ke-23 merupakan bukti nyata komitmen para penulis daerah ini untuk ikut membangun tanah kelahirannya melalui jalan literasi.
Selamat Hari Jadi Kabupaten Bangka Selatan ke-23.
Ayo menulis.
Iyek Aghnia adalah nama pena Rusmin Sopian, penulis dan pegiat literasi yang tinggal di Toboali, Bangka Selatan.