Wabah Demam Babi Afrika Memaksa Pemusnahan Massal di Peternakan Korea Selatan

ORBITINDONESIA.COM - Pihak berwenang Korea Selatan telah memusnahkan sekitar 20.000 babi dan memberlakukan perintah penghentian sementara regional setelah mengkonfirmasi wabah baru demam babi Afrika.

Kasus di kota Gangneung adalah yang pertama terdeteksi di negara itu dalam dua bulan, yang mendorong respons penahanan yang mendesak.

Pihak berwenang Korea Selatan telah memusnahkan sekitar 20.000 babi dan memberlakukan perintah penghentian sementara regional setelah mengkonfirmasi wabah baru demam babi Afrika.

Kasus di kota Gangneung adalah yang pertama terdeteksi di negara itu dalam dua bulan, yang mendorong respons penahanan yang mendesak.

Para pejabat pertanian Korea Selatan mengkonfirmasi wabah baru demam babi Afrika (ASF) di sebuah peternakan babi di kota Gangneung bagian timur pada hari Sabtu, 17 Januari 2026, menandai kasus pertama penyakit hewan yang sangat menular ini di negara itu dalam dua bulan.

Penemuan ini memicu tindakan darurat segera, termasuk pemusnahan massal ternak dan larangan sementara terhadap semua pergerakan babi dan kendaraan terkait di wilayah yang terkena dampak.

Tindakan Pencegahan Segera Diberlakukan

Pihak berwenang provinsi melaporkan bahwa 29 dari 32 babi yang ditemukan mati di peternakan pada hari Jumat dinyatakan positif terinfeksi virus demam babi Afrika.

Sebagai tanggapan, sekitar 20.000 babi di peternakan yang terinfeksi dimusnahkan untuk mencegah penyebaran lebih lanjut.

Perintah penghentian sementara selama 48 jam wajib dikeluarkan untuk semua peternakan babi di enam kota dan kabupaten tetangga, menghentikan pengangkutan hewan, pakan, dan personel untuk menahan wabah di dalam zona tersebut.

Perdana Menteri Kim Min-seok memerintahkan penyelidikan epidemiologi mendesak untuk menentukan sumber infeksi.

Ancaman Berulang bagi Peternakan dan Ekonomi
Wabah ini adalah yang pertama sejak November 2025, ketika kasus dilaporkan di Provinsi Chungcheong Selatan.

Demam babi Afrika, meskipun tidak berbahaya bagi manusia, hampir selalu fatal bagi babi domestik dan babi hutan, yang menyebabkan kerugian ekonomi yang besar bagi industri daging babi.

Korea Selatan telah berjuang melawan wabah sporadis sejak pertama kali mendeteksi virus tersebut pada tahun 2019, menerapkan protokol biosekuriti yang ketat dan pemusnahan massal untuk mengendalikan penyebarannya.

Penyakit ini tidak memiliki vaksin komersial, sehingga pengendalian melalui pembatasan pergerakan dan depopulasi menjadi strategi pertahanan utama bagi pemerintah di seluruh dunia.

Signifikansi Global dan Implikasi bagi Ketahanan Pangan
Insiden ini menyoroti ancaman global yang terus-menerus dari penyakit hewan lintas batas terhadap ketahanan pangan dan ekonomi pertanian.

Wabah semacam itu dapat menghancurkan pertanian lokal, mengganggu rantai pasokan daging, dan menyebabkan kesulitan ekonomi yang signifikan.

Negara-negara dengan sektor peternakan yang kuat, seperti Turki, mempertahankan pengawasan yang waspada dan sistem respons cepat untuk melindungi basis pertanian mereka dari ancaman serupa.

Tindakan cepat oleh otoritas Korea Selatan menunjukkan pentingnya kesiapan dan intervensi pemerintah yang tegas untuk melindungi produksi pangan nasional dari risiko biologis yang tidak dapat diprediksi.***