Broken Strings:Ketika Luka Bersuara
Ada luka yang tidak berdarah, tetapi terus berdenyut setiap kali ingatan menyentuhnya. Luka itu tidak selalu terlihat di wajah, tidak selalu terdengar dalam suara. Ia bersembunyi di balik sorotan lampu yang sering kita kira sebagai tanda kebahagiaan. Luka semacam itu yang dituliskan Aurelie Moeremans dalam bukunya Broken Strings: Fragments of a Stolen Youth.
Buku ini bukan lahir dari ambisi sastra, bukan pula dari keinginan untuk menjelaskan diri kepada publik. Ia lahir dari keberanian seorang perempuan yang mau menyuarakan luka masa lalunya: keberanian untuk mengakui bahwa ada masa muda yang pernah dirampas, ada kepolosan yang tidak sempat tumbuh dengan wajar, ada rasa percaya yang hancur sebelum waktunya.
Aurelie menulis seperti seseorang yang akhirnya berani duduk bersama kenangannya sendiri. Tidak tergesa-gesa. Tidak ingin tampak kuat. Ia membiarkan pembaca masuk ke ruang-ruang paling rapuh dalam hidupnya, tentang hubungan yang tampak aman namun perlahan berubah menjadi jerat, tentang manipulasi yang menyamar menjadi bentuk perhatian, tentang seorang remaja yang belum memiliki bahasa untuk berkata: ini salah, ini menyakitkan.
Yang membuat Broken Strings terasa menggugah bukanlah detail peristiwanya semata, melainkan kejujuran emosionalnya. Dalam bukunya Aurelie tidak menempatkan dirinya sebagai tokoh yang selalu tahu apa yang sedang terjadi. Ia justru jujur pada kebingungan, pada rasa bersalah yang seharusnya tidak ia tanggung, pada diam yang terlalu lama dibiarkan. Di situlah pembaca merasa dekat, karena banyak dari kita memilih diam, meski harus menyimpan pengalaman pahit saat menjadi korban.
Judul Broken Strings terasa tepat. Senar yang putus tidak selalu berarti musik berhenti. Kadang, ia hanya menunggu disetem ulang, meski nadanya tak lagi sama. Buku ini tidak menawarkan akhir yang manis. Tidak ada janji bahwa luka sembuh sepenuhnya. Yang ada adalah proses: menerima bahwa masa lalu tidak bisa dihapus, tetapi bisa diceritakan kembali dengan cara yang lebih berani dalam menghadapi .
Di tengah budaya yang sering memaksa korban untuk “move on” dengan cepat, buku ini memilih jalan lain: menghadapi. Menghadapi rasa malu, marah, takut, dan kehilangan, tanpa menutupinya dengan kalimat motivasi yang kosong. Karena itulah banyak pembaca merasa seolah buku ini tidak sedang berbicara tentang Aurelie semata, tetapi tentang mereka sendiri, atau seseorang yang mereka kenal namun tak pernah berani bersuara.
Broken Strings akhirnya menjadi lebih dari sekadar memoar pribadi. Ia adalah pengingat bahwa suara yang lama terbungkam pun layak didengar, bahwa cerita yang menyakitkan tetap memiliki tempat, dan bahwa keberanian tidak selalu datang dalam bentuk teriakan, kadang ia hadir sebagai tulisan yang pelan, tetapi jujur.
Buku ini dapat dibaca secara gratis dalam format digital, baik versi Bahasa Indonesia maupun Bahasa Inggris, melalui tautan resmi yang dibagikan Aurelie di akun media sosialnya. Keputusan untuk membagikannya secara terbuka terasa sejalan dengan semangat buku ini: agar cerita tidak lagi menjadi beban yang ditanggung sendirian, melainkan cahaya kecil bagi siapa pun yang sedang berusaha merangkai kembali senarnya yang pernah putus.