Rusia Tuduh AS Lakukan "Tindakan Agresi Bersenjata" Terhadap Venezuela

ORBITINDONESIA.COM - Presiden AS Donald Trump mengatakan, AS telah menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro setelah serangan besar-besaran di negara Amerika Selatan tersebut. Presiden sayap kiri Venezuela dan istrinya diterbangkan keluar negeri dalam operasi militer yang dilakukan bersama dengan aparat penegak hukum AS.

Berita tentang serangan tersebut memicu reaksi terkuat dari sekutu lama Venezuela. Rusia menuduh AS melakukan "tindakan agresi bersenjata" yang "sangat mengkhawatirkan dan patut dikutuk".

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei mengatakan: "Yang penting adalah ketika seseorang menyadari bahwa musuh dengan arogan mencoba memaksakan sesuatu pada negara, pada para pejabat, pada pemerintah, dan pada bangsa, seseorang harus berdiri teguh melawan musuh dan menunjukkan perlawanan."

Presiden Kolombia Gustavo Petro menyebut serangan itu sebagai "serangan terhadap kedaulatan" Amerika Latin, sementara Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel menggambarkannya sebagai "serangan kriminal".

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Spanyol menyerukan "de-eskalasi" dan agar tindakan selalu diambil sesuai dengan hukum internasional, sementara Jerman dan Italia mengatakan mereka memantau situasi dengan cermat.

Nicolás Maduro mulai dikenal luas di bawah kepemimpinan Presiden sayap kiri Hugo Chávez dan Partai Sosialis Bersatu Venezuela (PSUV). Maduro menggantikan Chávez sebagai presiden pada tahun 2013.

Pada tahun 2024, Maduro dinyatakan sebagai pemenang pemilihan presiden, meskipun penghitungan suara yang dikumpulkan oleh oposisi menunjukkan bahwa kandidat mereka, Edmundo González, telah menang telak.

Ia berselisih dengan Trump terkait kedatangan ratusan ribu migran Venezuela di AS dan upaya Gedung Putih melawan masuknya narkoba—terutama fentanyl dan kokain—ke AS.

Trump telah menetapkan dua geng narkoba Venezuela—Tren de Aragua dan Cartel de los Soles—sebagai Organisasi Teroris Asing (FTO) dan menuduh bahwa yang terakhir dipimpin oleh Maduro sendiri.

AS telah menawarkan hadiah $50 juta untuk informasi yang mengarah pada penangkapan Maduro.

Maduro dengan keras membantah menjadi pemimpin kartel dan menuduh AS menggunakan "perang melawan narkoba" sebagai dalih untuk mencoba menggulingkannya dan menguasai cadangan minyak Venezuela yang melimpah.

Dalam beberapa bulan terakhir, pasukan AS juga telah melakukan lebih dari dua lusin serangan di perairan internasional terhadap kapal-kapal yang diduga digunakan untuk menyelundupkan narkoba ke AS. Lebih dari 100 orang telah tewas.***