Mengapa 'Slop' Jadi Kata Tahun Ini: Dampak AI dan Konten Palsu

ORBITINDONESIA.COM – Di tengah maraknya konten digital berkualitas rendah, kata 'slop' muncul sebagai kata tahun ini menurut Merriam-Webster, mencerminkan dampak besar kecerdasan buatan (AI) dalam memproduksi konten yang menyesatkan.

Kata 'slop' awalnya berarti lumpur lunak pada 1700-an, namun kini berkembang menjadi istilah untuk konten digital berkualitas rendah yang dihasilkan oleh AI. Konten seperti video absurd, gambar iklan aneh, dan berita palsu yang tampak nyata semakin membanjiri media sosial.

Peningkatan konten 'slop' sejalan dengan ketersediaan alat AI yang mudah diakses. Generasi video AI seperti Sora mampu menciptakan klip realistis dengan cepat hanya berdasarkan teks. Ini menimbulkan kekhawatiran tentang misinformasi, deepfake, dan hak cipta, terutama ketika digunakan untuk kepentingan politik.

Menurut Greg Barlow, Presiden Merriam-Webster, meskipun kata ini menggambarkan ketakutan, ia juga mencerminkan harapan. Kesadaran masyarakat terhadap konten palsu meningkat, dan ada keinginan kuat untuk mencari keaslian. Ini menunjukkan bahwa meski AI berkembang, kreativitas manusia tetap tak tergantikan.

Di tengah derasnya arus konten 'slop', penting bagi kita untuk tetap kritis dan mencari kebenaran. Apakah AI mampu menggantikan kreativitas manusia, atau justru mendorong kita untuk lebih menghargai karya asli? Pertanyaan ini layak untuk direnungkan dalam era digital yang semakin kompleks.

(Orbit dari berbagai sumber, 16 Desember 2025)