Industri Pertahanan Ukraina: Drone Fire Point Ubah Arah Perang
ORBITINDONESIA.COM – Industri pertahanan Ukraina kini punya wajah baru: Iryna Terekh, CEO Fire Point, pabrik drone serang jarak jauh yang mengklaim memproduksi 300–400 unit per hari. Di tengah perang Rusia-Ukraina, kisahnya menandai pergeseran besar dari negara penerima bantuan menjadi pusat inovasi teknologi militer.
Kyiv menjadi panggung bagi paradoks perang modern: CEO produsen senjata terpenting Ukraina mengenakan anting tidak serasi dan gaun rajut hitam. “Hal baik menjadi bos adalah bisa menentukan aturan berpakaian,” kata Iryna Terekh, 34 tahun, kepada CBS News sambil tersenyum.
Di pabriknya, Terekh tampak kontras dengan kerumunan pekerja pria paruh baya yang mengangkut komponen drone dan mengoperasikan perkakas listrik. Namun ia juga cermin dari Ukraina yang dipaksa menemukan ulang dirinya sejak invasi skala penuh Rusia pada Februari 2022.
Menurut Terekh, invasi memaksa banyak orang menilai ulang dampak personal yang bisa mereka berikan. “Kita tidak pernah benar-benar tahu pengetahuan dan pengalaman apa yang bisa diubah dan diputar ke sesuatu yang baru,” ujarnya.
Sebelum perang, keahliannya ada pada desain dan manajemen, bukan militer. Ia dilatih sebagai arsitek di Irpin, Ukraina utara, lalu membangun bisnis patio, furnitur luar ruang, dan beton performa tinggi.
Pada awal 2022, pasukan Rusia menduduki Irpin dan menghancurkan sekitar 70% kota itu. “Saya memahami betapa rentannya kita terhadap perilaku barbar musuh,” kata Terekh kepada CBS News.
Setelah lolos dari pendudukan, ia mencari cara konkret untuk membantu perang. Pada musim gugur 2022, Rusia mulai menyerang kota-kota Ukraina dengan drone peledak jarak jauh Shahed buatan Iran, lalu memproduksi versinya sendiri yang dikenal sebagai Geran.
Bersama pebisnis Denys Shtilerman, rekan lamanya dalam proyek ruang kota sebelum perang, Terekh memutuskan membangun drone serang jarak jauh untuk membalas. Shtilerman berlatar rekayasa pertahanan, tetapi sebagian besar tim awal berasal dari sipil.
Salah satu pendiri lain, Yehor Skalyha, bahkan seorang produser film. Target awal mereka sederhana: 20 drone FP-1 per bulan, sebuah angka yang terdengar kecil di tengah perang besar.
Lonjakan skala Fire Point menggambarkan industrialisasi cepat perang drone Ukraina. Dari 20 unit per bulan, perusahaan itu kini mengklaim menghasilkan 300–400 drone serang jarak jauh per hari, angka yang mengisyaratkan lini produksi massal dan rantai pasok yang matang.
Pada 2024, drone mereka disebut rutin menyerang pangkalan udara Rusia, depot amunisi, dan kilang minyak. Serangan semacam ini bukan sekadar taktis, tetapi juga ekonomi, karena memaksa lawan mengeluarkan biaya pertahanan dan perbaikan yang berulang.
Pernyataan paling provokatif datang dari capaian senjata baru. Terekh mengklaim pada Juni sebuah rudal jelajah Fire Point menuntaskan misi lebih dari 1.000 mil, yang ia sebut sebagai serangan jarak terjauh oleh rudal jelajah dalam sejarah tempur.
Ia juga mengklaim Ukraina meluncurkan dua kali lebih banyak serangan jauh ke wilayah Rusia dibanding serangan Rusia ke Ukraina pada 2026. Lebih jauh, ia mengatakan 60% serangan Ukraina itu menggunakan senjata Fire Point, klaim yang menuntut verifikasi independen namun menunjukkan ambisi narasi dominasi.
Fire Point disebut tinggal beberapa bulan lagi mengerahkan rudal balistik pertama yang dirancang dan diproduksi domestik. Berbeda dengan rudal jelajah yang terbang rendah, rudal balistik mengikuti lintasan melengkung ke ketinggian lebih tinggi, sehingga lebih sulit dicegat.
Jika klaim ini terealisasi, Ukraina bukan hanya memproduksi “drone murah” melainkan menaikkan kelas ke sistem strategis. Artinya, inovasi tidak berhenti di improvisasi medan perang, tetapi masuk ke kompetisi industri rudal yang biasanya dikuasai negara besar.
Fire Point bukan pengecualian, melainkan bagian dari ekosistem startup pertahanan Ukraina. Artikel CBS News menyebut Sine Engineering yang menarik investasi Amerika, dengan pendiri yang sebelumnya berbisnis meja kerja berdiri.
Disebut pula Yaroslav Azhnyuk, pendiri Fourth Law, pembuat sistem pemandu otonom drone, yang sebelumnya mendirikan Petcube dan didukung akselerator AS Y Combinator. Pola yang muncul jelas: talenta sipil beralih cepat ke kebutuhan militer.
Terekh menilai keberhasilan ini lahir dari tiga faktor: birokrasi rendah, komunikasi langsung dengan militer, dan perusahaan yang responsif. Dalam perang, kecepatan iterasi sering lebih menentukan daripada kesempurnaan desain.
Perubahan ini juga menarik perhatian sekutu. Pada 2025, militer AS mengumumkan program meniru drone Shahed Iran bernama “LUCAS,” dan mengerahkan drone jarak jauh murah pertamanya di Timur Tengah pada Februari.
AS dan Ukraina disebut akan menandatangani perjanjian pertahanan baru yang memperluas ekspor teknologi militer Ukraina ke AS dan usaha patungan dengan perusahaan Amerika. Ini menandai pembalikan arus: dari penerima bantuan menjadi pemasok solusi.
Di balik kisah inspiratif CEO muda dan pabrik yang berdengung, ada pertanyaan etis dan strategis yang harus dijawab. Ketika industri pertahanan Ukraina menjadi mesin inovasi, perang berisiko berubah menjadi laboratorium permanen yang menormalisasi eskalasi.
Klaim-klaim spektakuler tentang rekor jarak dan dominasi serangan dalam 2026 juga perlu dibaca sebagai bagian dari perang informasi. Dalam konflik modern, narasi kemampuan sering sama pentingnya dengan kemampuan itu sendiri, karena memengaruhi dukungan publik dan keputusan sekutu.
Namun, ada realitas yang sulit dibantah: Ukraina belajar memotong jalur birokrasi dan mempercepat pengadaan. Model ini efektif di masa perang, tetapi bisa berbahaya bila tanpa pagar akuntabilitas, karena industri senjata selalu menggoda korupsi dan penyalahgunaan.
Ketika startup sipil bertransformasi menjadi produsen senjata, negara juga berubah dari “lumbung pangan” menjadi eksportir keamanan. Terekh sendiri menyiratkan pergeseran itu: Ukraina tidak boleh hanya dikenal sebagai penyuplai gandum, karena kini punya sesuatu yang “lebih bernilai,” yakni industri pertahanan.
Pernyataan itu tajam, tetapi mengandung ironi. Nilai “lebih bernilai” diukur dari daya rusak dan daya gentar, sementara biaya sosialnya ditanggung oleh warga yang hidup di bawah sirene dan pemadaman listrik.
Di sisi lain, sulit menuntut Ukraina bertahan hanya dengan moralitas abstrak ketika diserang. Pilihan untuk membangun drone, rudal jelajah, hingga rudal balistik adalah cara merebut kembali ruang tawar, agar perang tidak sepenuhnya ditentukan oleh stok dan suplai dari luar.
Kisah Fire Point menunjukkan bahwa industri pertahanan Ukraina bukan sekadar respons, melainkan transformasi nasional yang dipacu keadaan darurat. Dari arsitek Irpin yang kotanya hancur 70%, lahir CEO yang mengklaim mampu memproduksi ratusan drone per hari dan menyiapkan rudal balistik domestik.
Namun pertanyaan akhirnya bukan hanya apakah Ukraina bisa memproduksi lebih cepat, lebih jauh, dan lebih presisi. Pertanyaan yang lebih sunyi adalah: setelah perang usai, apakah mesin inovasi ini akan diputar untuk membangun kembali kehidupan, atau justru membuat logika perang menetap sebagai identitas ekonomi baru?
(Orbit dari berbagai sumber, 12 September 2026)