Amazon dan Tren PHK: Mengurai Alasan di Balik Keputusan

ORBITINDONESIA.COM – Amazon baru-baru ini mengumumkan pemotongan 14.000 pekerjaan, bukan karena alasan finansial melainkan budaya. Pernyataan ini menimbulkan berbagai spekulasi di kalangan publik dan pengamat industri.

PHK massal di Amazon dilihat sebagai bagian dari strategi untuk menyederhanakan struktur organisasi. CEO Amazon Andy Jassy menekankan bahwa peningkatan jumlah karyawan selama beberapa tahun terakhir telah menciptakan lapisan manajemen yang rumit. Langkah ini dimaksudkan untuk mengembalikan semangat 'startup' yang diyakini akan meningkatkan inovasi dan efisiensi.

Langkah Amazon ini sejalan dengan tren global di mana perusahaan besar melakukan efisiensi tenaga kerja. Salesforce, UPS, dan Target juga melakukan PHK besar-besaran dengan alasan serupa, menekankan pada peningkatan otomatisasi dan efisiensi AI. Data dari CNN menunjukkan bahwa perubahan ini lebih bersifat strategis ketimbang finansial, di mana perusahaan berusaha tetap gesit menghadapi tantangan masa depan.

Keputusan Jassy menandai pergeseran budaya korporat yang menarik. Alih-alih berfokus pada keuntungan jangka pendek, Amazon menempatkan nilai pada struktur organisasi yang lebih ramping dan gesit. Namun, di sisi lain, ini menimbulkan pertanyaan tentang dampak sosial dari pengurangan tenaga kerja global dan bagaimana perusahaan bertanggung jawab terhadap karyawannya.

Pemotongan pekerjaan ini menggarisbawahi tantangan bagi pekerja di era otomatisasi dan AI. Meskipun langkah ini bisa membawa keuntungan bagi perusahaan, penting untuk mempertimbangkan dampak jangka panjang terhadap tenaga kerja dan kesejahteraan karyawan. Bagaimana perusahaan dapat menyeimbangkan antara kemajuan teknologi dan tanggung jawab sosial mereka?

(Orbit dari berbagai sumber, 12 Desember 2025)