Catatan Denny JA: Saling Pecat di NU, Sihir Tambang dan Berharap Islah

Oleh Denny JA

ORBITINDONESIA.COM - Kubu Syuriyah menyatakan Ketua Umum PBNU (Tanfidziyah) sudah diberhentikan. Sebaliknya, kubu Tanfidziyah membalas bahwa Sekjen Saefullah Yusuf telah digeser dan dirotasi.

Ribut-ribut di NU dan lahirnya dualisme kepemimpinan ini mengingatkan saya pada sebuah kisah bergaya dongeng karya H.C. Andersen.

Di sebuah negeri antah berantah, konon ada satu kaum yang terkenal paling solid di antara semua suku di sekitarnya.

Mereka seperti sekumpulan bambu yang tumbuh dari satu rimpang, berdiri rapat, bergerak serempak, dan sulit dipatahkan oleh angin mana pun.

Selama puluhan tahun, kekuatan mereka lahir dari kesederhanaan hidup. Tidak ada harta besar untuk diperebutkan, tidak ada tahta megah untuk direbut. Kesetiaan dan persaudaraan menjadi perekat utama.

Hingga suatu hari, kabar aneh datang dari utara. Di bukit yang mereka jaga turun-temurun ditemukan emas yang berkilau seperti matahari yang jatuh ke tanah.

Gunung itu, yang tadinya hanya gunung, mendadak berubah menjadi sumber rezeki baru. Para tetua awalnya bersyukur.

Namun seiring kilau emas itu menyala, sesuatu yang lain ikut menyala. Kecurigaan kecil tumbuh, bisik-bisik mulai beredar, dan perlahan persahabatan retak di celah yang dulu tak pernah mereka sadari.

Anehnya, kekuatan yang tak pernah memecah mereka, seperti badai, perang, dan musim panjang yang kejam, justru kalah oleh satu hal yang tampak indah: rezeki besar.

Dongeng itu berakhir dengan pesan, “Tak ada yang lebih mudah memecah manusia selain harta yang datang terlalu mendadak.”

Dan entah mengapa, dongeng itu terasa sangat akrab hari-hari ini.

-000-

Apa yang terjadi di tubuh PBNU pada akhir November 2025 terasa seperti gema dongeng itu.

Rais Aam PBNU, KH Miftachul Akhyar, lewat rapat harian Syuriyah menyatakan bahwa Gus Yahya tidak lagi menjabat sebagai Ketua Umum PBNU per 26 November pukul 00.45 WIB. Surat edaran itu beredar luas dan memberi kesan bahwa keputusan sudah final.

Namun pihak Tanfidziyah bereaksi cepat. Ketua PBNU menegaskan, “Syuriyah tidak bisa memecat Ketum tanpa Muktamar Luar Biasa.” Menurutnya, AD dan ART lebih tinggi dari keputusan rapat mana pun.

Gus Yahya juga menolak mundur. Ia menegaskan dirinya hanya dapat diberhentikan melalui forum tertinggi, yaitu Muktamar.

Maka tampaklah dua legitimasi saling berhadapan. Legitimasi moral Syuriyah bertemu dengan legitimasi konstitusional Tanfidziyah.

-000-

Secara resmi, Syuriyah menjelaskan bahwa pencopotan berkaitan dengan dua hal:

1. Kegiatan AKN NU yang menghadirkan narasumber yang dikaitkan dengan jejaring pro-Zionis.

2. Masalah tata kelola keuangan dan administrasi internal.

Mereka membantah keras bahwa isu tambang menjadi penyebab konflik.

Namun di luar ruang rapat, narasi lain bergerak jauh lebih cepat.

Tokoh seperti Mahfud MD dan Ulil Abshar Abdalla menyatakan bahwa konflik ini tidak dapat dilepaskan dari konteks bahwa NU baru saja mendapatkan izin mengelola tambang eks grup Bakrie.

Ini aset besar yang nilainya dapat mengubah peta kepentingan politik dan ekonomi nasional.

Bagi sebagian publik, tafsir wajar muncul:

“Sebelum memegang tambang, NU kompak mengkritik pemerintah soal korupsi tambang. Setelah memegang tambang, justru ribut ke dalam.”

Apakah tafsir ini benar? Belum tentu. Namun persepsi publik sering melaju lebih cepat daripada fakta.

-000-

Secara tekstual, dokumen resmi PBNU memang tidak satu kali pun menyebut kata tambang. Itu fakta yang bersih.

Namun secara struktural, izin tambang menciptakan medan gravitasi baru. Ia mungkin bukan alasan resmi, tetapi tetap menjadi faktor lingkungan. 

Ia seperti angin kencang yang tidak terlihat, namun cukup kuat untuk membuat layar kapal bergetar.

Tambang bukan sekadar persoalan komoditas. Ia adalah ujian etis bagi ormas keagamaan: apakah kekayaan berhasil dijinakkan oleh tata kelola modern, atau sebaliknya justru menjinakkan nurani sehingga ormas agama akhirnya tunduk pada logika rente.

Dalam analisis politik, sumber daya ekstraktif hampir selalu membawa tiga konsekuensi:

* akses ke rente ekonomi,

* masuknya aktor eksternal seperti politisi, kontraktor, dan pengusaha,

* perpindahan keseimbangan kekuasaan dalam organisasi.

NU yang selama puluhan tahun hidup dari khidmat sosial tiba-tiba memegang aset ekstraktif bernilai besar.

Di titik ini saya teringat uraian Robert Hefner dalam “Civil Islam”. Ia menjelaskan bagaimana NU bertahan sebagai kekuatan moral karena tidak tergoda oleh pusat-pusat kekayaan besar.

NU hidup dari modal sosial, bukan modal ekonomi. Ketika sumber daya materi masuk terlalu besar, arah organisasi bergeser ke ranah yang sebelumnya tidak dikenal.

Greg Barton dalam biografi Gus Dur menggambarkan bahwa NU mampu melintasi zaman karena kiai selalu menjaga jarak tertentu dari kekuasaan duniawi.

Kedekatan yang terlalu intim dengan sumber daya material justru dapat mengaburkan kejernihan pandang.

Dua pelajaran itu terasa sangat relevan hari ini.

Dalam situasi seperti sekarang, sulit bagi publik untuk percaya bahwa konflik murni teologis atau administratif. Sejarah Indonesia menunjukkan bahwa setiap kali sumber daya besar muncul, faksionalisme hampir selalu ikut tumbuh.

-000-

Yang terjadi sekarang adalah benturan dua jalan besar.

Jalan tradisi. Rais Aam sebagai penjaga marwah organisasi merasa memiliki hak moral untuk memveto.

Jalan konstitusi modern. Tanfidziyah menegaskan bahwa semua harus kembali ke Muktamar.

Pertanyaannya sederhana tetapi menentukan: ke mana NU akan melangkah? Ke pola patronase yang sangat personal atau menuju organisasi modern berbasis aturan?

Kisah NU tahun 2025 mungkin akan dikenang seperti dongeng di awal tulisan ini. Bukan badai yang memecah belah, tetapi rezeki besar yang datang terlalu tiba-tiba.

Namun tidak semua dongeng berakhir buruk. Ada pula kisah kaum yang tersadarkan, lalu kembali merapatkan barisan.

Itu terjadi ketika mereka menyadari bahwa yang mereka jaga bukan sekadar organisasi, tetapi kehormatan para leluhur dan kepercayaan jutaan jamaah.

NU masih punya jalan pulang.

Muktamar yang terbuka.

Audit yang independen.

Dan keberanian mengakui masalah sebelum masalah itu menelan mereka.

Di titik inilah wibawa kiai diuji. Bukan seberapa lantang suara mereka, tetapi seberapa jernih arah yang mereka berikan di tengah kabut kepentingan.

Jika NU berhasil melewati ini, catatan sejarah akan menulis:

“Di antara kilau tambang dan gaduh politik, NU memilih kembali menjadi rumah. Bukan bagi perebutan kuasa, tetapi bagi ketenangan umat.”

Tambang benar memiliki kekuatan seperti sihir. Ia bisa mengubah persahabatan yang akrab menjadi permusuhan yang saling menjatuhkan.

Karena itu, izin tambang menuntut arsitektur tata kelola yang transparan, akuntabel, dan diawasi jamaah. Tanpa batas tegas antara kuasa spiritual dan kuasa material, karisma mudah berubah menjadi kanal konflik.

Saya selaku pendukung NU, yang selama bertahun-tahun melakukan survei nasional dan mendapati bahwa lebih dari 40 persen penduduk Indonesia mengidentifikasi diri dengan NU, berharap terjadinya islah dua kubu itu.

Mengapa islah penting, tidak hanya untuk NU, tetapi untuk Indonesia yang kuat dan moderat?

Islah bukan sekadar rekonsiliasi internal. Ia merupakan benteng bagi kestabilan sosial Indonesia. 

Dengan basis kultural yang mencakup lebih dari 40 persen penduduk, perpecahan NU berpotensi menimbulkan polarisasi yang merembes ke masyarakat luas. 

NU selama ini berperan sebagai jangkar moderasi Islam Indonesia, penahan ekstremisme, serta ruang teduh bagi keberagaman. 

Jika NU terbelah, ruang tengah Indonesia ikut retak. Islah berarti mengembalikan NU pada peran historisnya sebagai penyejuk, penjaga tradisi wasathiyah, dan pilar keharmonisan nasional. 

Indonesia membutuhkan NU yang bersatu agar tetap kokoh.*

Referensi Buku

1. Greg Barton, The Authorized Biography of Abdurrahman Wahid: Muslim Democrat, Indonesian President, Allen and Unwin, 2002.

2. Robert W. Hefner, Civil Islam: Muslims and Democratization in Indonesia, Princeton University Press, 2000.

-000-

Ratusan esai Denny JA soal filsafat hidup, political economy, sastra, agama dan spiritualitas, politik demokrasi, sejarah, positive psychology, catatan perjalanan, review buku, film dan lagu, bisa dilihat di FaceBook Denny JA’s World

https://www.facebook.com/share/p/18SZT5DA8U/?mibextid=wwXIfr