AI dan Krisis Air: Dampak Teknologi yang Tak Terduga
ORBITINDONESIA.COM – Di balik kemajuan pesat teknologi kecerdasan buatan, terdapat ancaman lingkungan yang sering terabaikan: konsumsi air yang melambung tinggi.
Perkembangan AI, seperti ChatGPT dan Google Gemini, membutuhkan pusat data raksasa yang memerlukan air dalam jumlah besar untuk menjaga server tetap dingin. Akibatnya, teknologi yang berpotensi membantu manusia ini justru memperburuk krisis air bersih global.
CEO OpenAI, Sam Altman, mengklaim satu kueri ke ChatGPT membutuhkan seperlimabelas sendok teh air. Namun, penelitian menunjukkan penggunaan hingga setengah liter air untuk 10–50 respons GPT-3. Data ini mencakup penggunaan air untuk pendinginan server dan pembangkitan listrik, yang mengandalkan uap dari pembangkit listrik fosil atau nuklir.
Krisis air yang disebabkan oleh konsumsi AI ini menimbulkan pertanyaan tentang keberlanjutan teknologi modern. Prof. Shaolei Ren dari University of California, Riverside, menunjukkan bahwa semakin banyak AI digunakan, semakin besar pula konsumsi listrik dan air yang dibutuhkan.
Dengan konsumsi air yang diprediksi meningkat hingga enam kali lipat pada 2027, penting untuk mencari solusi inovatif. Bisakah teknologi yang kita banggakan bertransformasi untuk menyelamatkan, bukan menghancurkan, sumber daya alam kita?
(Orbit dari berbagai sumber, 22 Oktober 2025)