Otak Manusia dan Peta Tubuh: Stabilitas Pasca Amputasi

ORBITINDONESIA.COM – Penelitian baru mengungkap bahwa peta tubuh di otak manusia tetap stabil bahkan bertahun-tahun setelah amputasi, menentang kepercayaan lama tentang reorganisasi otak.

Dalam setiap otak manusia terdapat peta tubuh yang detail, dengan berbagai wilayah didedikasikan untuk bagian tubuh yang berbeda. Namun, apa yang terjadi pada peta ini ketika suatu bagian tubuh dihilangkan? Selama beberapa dekade, para ilmuwan percaya bahwa ketika suatu bagian tubuh diamputasi, peta tubuh di otak akan secara dramatis mengatur ulang dirinya sendiri.

Studi baru dalam Nature Neuroscience menunjukkan bahwa peta tubuh di otak tetap stabil bahkan bertahun-tahun setelah amputasi. Peneliti menggunakan MRI untuk memindai otak pasien sebelum dan setelah amputasi, menandai aktivitas otak saat mereka menggerakkan bagian tubuh yang berbeda. Temuan ini menantang asumsi tentang plastisitas otak dewasa yang terkait dengan reorganisasi otak skala besar.

Penemuan ini menunjukkan bahwa sensasi phantom yang menyakitkan pada amputee mungkin tidak disebabkan oleh 'peta tubuh yang rusak', melainkan oleh masalah pada saraf yang terputus. Ini memicu pertanyaan tentang efektivitas terapi yang bertujuan memperbaiki peta tubuh. Mungkin, fokus harus dialihkan pada teknik bedah baru untuk menjaga sinyal saraf tetap stabil.

Hasil ini menyoroti kekuatan model otak manusia yang tetap mempertahankan representasi meskipun input sensorik hilang. Bagi amputee, ini berarti bahwa bagian tubuh yang hilang tetap hidup dalam otak, kadang sebagai sumber ketidaknyamanan, namun juga sebagai sumber daya untuk teknologi masa depan. Apakah ini akan membuka jalan baru bagi pengembangan prostetik dan antarmuka otak-komputer?

(Orbit dari berbagai sumber, 29 Agustus 2025)