Kerennya Indonesia di Mata WNI yang Baru Balik dari 11 Tahun di Jerman, Belanda, dan Amerika Serikat
ORBITINDONESIA.COM - Senior gue - sebut saja namanya mas Adit - baru setahun balik ke Indonesia setelah 11 tahun kerja di Jerman, Belanda, dan Amerika Serikat.
Gue ajak ngopi. Satu pertanyaan gue lempar: "Hal paling mengejutkan dari balik ke sini apa, mas?"
Gue udah siap denger jawaban standar soal macet atau birokrasi yang ribet.
Tapi dia nggak langsung jawab. Dia diem. Menyeruput kopinya. Lalu senyum kecil.
"Irfan, lo tahu nggak. Yang paling gue kaget bukan yang jelek. Bukan kemacetan. Bukan polusi."
Gue makin penasaran.
Dia bilang: "Yang paling mengejutkan adalah hal-hal luar biasa di sini yang kalian anggap biasa. Sampai kalian nggak ngeh itu spesial."
Diapun lalu bercerita...
Minggu pertama balik ke Indonesia, dia ke warung kopi dekat rumahnya di Depok.
Setelah ngopi, dia refleks keluarin dompet, siap nyari uang cash.
Penjual cuma bilang: "Bisa scan QR aja, mas."
Mas Adit bengong. Di Jerman, banyak toko kecil masih cash-only. Di Amerika, cek fisik masih dipakai sehari-hari.
Di sini? Warung kopi pinggir jalan sudah pakai cashless payment.
"Nggak cuma itu," lanjut mas Adit.
Di Belanda, buat bayar parkir aja dia harus download aplikasi berbeda-beda tiap kota. Ribetnya minta ampun.
Di Indonesia?
Satu QRIS bisa dipakai di mana-mana. Dari mal mewah sampai tukang pecel di pinggir rel kereta. Sesimpel scan, bayar, selesai. Bahkan tanpa internet pun bisa offline payment.
Tapi diskusi kami nggak berhenti di situ. Dia makin semangat cerita.
"Lo tahu nggak, di Amerika, delivery makanan yang sampai dalam 30 menit itu barang mewah. Ongkirnya bisa 10-15 dolar. Belum termasuk tip."
Di sini?
GoFood bisa anterin sate padang dalam 15 menit. Ongkir cuma 10 ribu rupiah.
"Ini sihir," katanya. Dan dia serius.
Dia cerita soal birokrasi. Di Eropa, ngurus izin tinggal bisa makan waktu berbulan-bulan. Antrinya fisik, bolak-balik bawa dokumen asli.
Di Indonesia, banyak layanan sudah pindah jadi digital. Bikin SKCK online. Perpanjang paspor lewat aplikasi. Bahkan daftar haji sekarang bisa dari HP.
Ini bukan soal sempurna. Tapi lompatan yang terjadi dalam 5-8 tahun terakhir itu luar biasa.
Gue jadi merenung. Selama ini gue dan teman-teman sering mengeluh soal ribetnya urusan di Indonesia.
Tapi dibanding 5 tahun lalu? Digitalisasinya melesat cepat. Banyak negara maju justru terjebak sistem legacy mereka sendiri, sehingga lambat berubah.
Indonesia melompati itu. Dari infrastruktur minim langsung ke mobile-first.
Itu keunggulan yang jarang disadari.
Mas Adit lalu nyerempet soal kesehatan.
Di Jerman, memang BPJS-nya bagus. Tapi untuk cek gigi aja harus antre 2-3 minggu. Untuk hal yang sifatnya kosmetik atau tidak darurat, malah bisa lebih lama.
Di sini? Banyak klinik gigi bisa langsung kita datangi hari itu juga.
Harga? Untuk warga lokal, bahkan dengan BPJS Kesehatan pun banyak yang sudah tercover. Padahal kualitas alat dan dokternya tidak kalah.
Dia juga kaget soal akses internet.
Di beberapa pelosok Indonesia, sinyal 4G sudah menjangkau. "Teman-teman gue di Australia masih sering ngeluh internet lemot dan mahal", katanya lagi.
Di Jerman, masih banyak daerah sub-urban yang masuk "dead zone" - sinyal hilang total.
Indonesia? Bahkan di kereta api ekonomi pun penumpang bisa streaming YouTube. Ini belum terjadi di banyak negara maju.
Ekosistem UMKM digital juga membuatnya tercengang.
Di Amerika, untuk buka toko online butuh integrasi teknis, biaya hosting, dan payment gateway yang mahal.
Di Indonesia? Buka Shopee atau Tokopedia bisa dari hp harga sejutaan. Lalu upload foto dagangan. Besoknya sudah bisa terima orderan.
Enabler luar biasa untuk rakyat kecil yang tidak ada di banyak negara.
Mas Adit menutup, "Masalahnya, kalian terlalu terbiasa. Lahir dan besar dengan semua kemudahan ini, sampai menganggap remeh apa yang ada"
Dia benar. Kita sering membandingkan Indonesia dengan luar negeri - tapi selalu dari sisi yang kurang. Jarang sekali ada yang mau melihat bahwa di banyak aspek, kita justru sudah jauh lebih maju secara diam-diam.
Bukan berarti Indonesia tanpa masalah. Macet masih parah. Infrastruktur belum merata. Korupsi masih banyak, dan birokrasi di beberapa tempat memang menyakitkan.
Tapi di saat yang sama, ada lompatan-lompatan yang sering tidak dihargai.
Ironisnya, orang luar yang datang justru lebih bisa melihatnya. Sementara kita sibuk mengeluh.
Obrolan itu mengubah cara pandang gue.
Bukan berarti gue berhenti kritis. Tapi mulai menghargai proses. Mulai melihat bahwa kemajuan tidak selalu berisik.
Kadang ia bekerja diam-diam, memudahkan hidup kita setiap hari tanpa kita sadari. Dan itu patut diapresiasi.
(Sumber: Anonim/Medsos) ***