Analis Mata Uang, Lukman Leong: Rupiah Menguat Dipengaruhi Pernyataan Dovish dari The Fed
- Penulis : M. Ulil Albab
- Kamis, 20 Maret 2025 11:40 WIB

ORBITINDONESIA.COM - Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong menyatakan, penguatan nilai tukar (kurs) rupiah dipengaruhi pernyataan dovish dari Federal Reserve (The Fed).
"Rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS yang melemah setelah Kepala The Fed (Jerome Powell) memberikan pernyataan dovish dengan menurunkan asumsi pertumbuhan ekonomi AS (Amerika Serikat) dan mengisyaratkan akan ada lagi dua kali pemangkasan suku bunga tahun ini," ucapnya kepada ANTARA di Jakarta, Kamis, 20 Maret 2025.
Powell disebut memproyeksikan pertumbuhan ekonomi AS diturunkan dari 2,1 persen menjadi 1,7 persen, kata Lukman Leong.
Baca Juga: Denny JA Hibahkan Dana Abadi Ratusan Juta Rupiah untuk para Penulis
Adapun penurunan suku bunga acuan Federal Funds Rate (FFR) diperkirakan dari posisi saat ini 4,25-4,50 basis points (bps) saat ini menjadi 3,75-4,00 bps.
Berdasarkan informasi Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), The Fed sudah diprediksi akan mempertahankan suku bunga acuan FFR di kisaran 4,25-4,50 persen.
Namun, proyeksi ekonomi terbaru dari para pejabat The Fed menjadi sorotan utama mengingat risiko resesi meningkat akibat kebijakan perdagangan yang agresif.
Baca Juga: Menguatnya Rupiah di Google dan Ilusi Digital yang Menyesatkan
Saat ini, sentimen pasar menunjukkan kekhawatiran bahwa tarif impor AS dapat memperburuk inflasi dan memperlambat pertumbuhan ekonomi yang berpotensi mendorong permintaan terhadap aset safe haven seperti emas. Pasar juga mencermati pernyataan The Fed terkait potensi pemangkasan suku bunga di semester kedua tahun ini.
"Namun, penguatan mungkin terbatas mengingat sentimen domestik yang belum pulih," ungkap Lukman.
Pada Selasa, BEI melakukan pembekuan sementara perdagangan (trading halt) sistem perdagangan pada pukul 11.19.31 waktu Jakarta Automated Trading System (JATS). Pembekuan perdagangan dipicu oleh penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mencapai lebih dari 5 persen.
Baca Juga: Pengamat Ariston Thendra: Rupiah Menguat Seiring Kekhawatiran Terhadap Pelambatan Ekonomi AS
Beberapa faktor yang menyebabkan penurunan tersebut ialah kekhawatiran investor terhadap pertumbuhan ekonomi, defisit anggaran, penurunan peringkat saham, hingga isu pengunduran Menteri Keuangan Sri Mulyani.