
ORBITINDONESIA.COM - Negara gemah Ripah lohjinawi, untuk sebagian kita, disyukuri
Namun sebagian lagi, niat kuasai
Porak poranda tatanan hukum negeri
Tercabik tipu daya hingga mati suri
Konten kreator tampilkan rakyat-rakyat miskin nan lugu
Anak-anak kecil menjajakan makanan ringan hingga tisyu
Demi menyambung napas yang terkadang tinggal satu-satu
Berjalan dalam harapan putus asa di antara deru dan debu
Sementara mereka yang merasa punya kuasa dan kepentingan
Demi pertahankan genggaman di zona nyaman
Tetap lanjutkan politik belah bambu zaman penjajahan
Penindasan hak-hak, diberangus hingga hidup bagai mengejan
Baca Juga: Puisi Ummi Sulis: Perhatian dari Orang Biasa
Mayoritas bahkan bagai bilah bambu yang terinjak
Berbagai kata hasut, caci, tuduh berkumpul dalam nama fitnah yang terus menggelegak
Kebenaran diberangus tiada detak
Protes disebut anarkis dan terdepak
Sementara segelintir orang-orang mabuk
Memperdaya dalam tipu daya terkutuk
Kata adil itu adalah uang yang bertumpuk
Hingga gunakan jemari menjadi tunjuk
Setelah dulu dijajah dengan adu domba
Kini belah bambu meraja
Sudah sepantasnya singgasana raja-raja haus tahta
Tenggelam laksana Firaun dengan perantara Musa
Baca Juga: Puisi Ummi Sulis: Bumi Gulana
Fajar Indah, 23 Februari 2025
Ummi Sulis ***