Di Balik Seragam Polisi Ada Karung Pemulung: Kisah Bripka Seladi Menjaga Hidup Bermartabat
“Lebih baik kotor di tangan daripada kotor di hati.” Kalimat itu kerap diucapkan Bripka Seladi ketika orang bertanya mengapa ia memilih memulung sepulang dinas.
Di Boyolali, kota kecil yang berjalan pelan di pagi hari, Seladi dikenal bukan karena pangkat atau jabatan, melainkan karena langkahnya yang sederhana: polisi lalu lintas di siang hari, pemungut barang bekas di sore hari.
Pilihan itu sudah ia jalani sejak awal 2000-an. Selepas bertugas sebagai bintara di satuan lalu lintas Kepolisian Negara Republik Indonesia, Seladi mengganti sepatu dinasnya dengan sandal, menyampirkan karung, lalu berjalan menyusuri sudut kota. Kardus, plastik, logam bekas, semua ia kumpulkan dengan telaten. Tak ada kamera, tak ada panggung. Hanya ritme langkah dan suara gesek benda yang masuk ke karung.
Banyak orang mengira ia terpaksa. Padahal ia sering menjelaskan, gaji polisi cukup untuk kebutuhan pokok keluarga. Memulung baginya bukan karena kekurangan, melainkan pilihan menjaga hidup tetap lurus. Ia ingin memastikan anak-anaknya sekolah tanpa beban, tanpa utang, tanpa “titipan” yang kelak harus dibayar dengan rasa malu. Dalam logika sederhana yang ia pegang, tangan boleh kotor oleh sampah, tetapi tidak oleh uang yang bukan hak.
Di rumahnya yang bersahaja, barang bekas hasil pungutan dipilah rapi. Istrinya membantu membersihkan dan mengikatnya sebelum dijual ke pengepul. Tak ada kesan heroik di sana—hanya kerja berulang yang dilakukan sabar. Anak-anak mereka tumbuh dengan pemandangan ayah yang pulang dinas bukan untuk beristirahat, melainkan bekerja lagi. Dari situ mereka belajar bahwa kehormatan tidak selalu datang dari pekerjaan besar, tetapi dari cara menjalani yang kecil dengan jujur.
Kisah Seladi sempat ramai diberitakan pada pertengahan 2010-an. Banyak orang memujinya sebagai simbol integritas aparat. Ia sendiri tak nyaman dengan sorotan itu. Baginya, memulung sama wajarnya dengan berdagang atau bertani. Yang penting halal. Ia tak ingin pekerjaannya dijadikan sensasi, apalagi perbandingan yang merendahkan profesi lain. Ia hanya menjalani apa yang menurutnya benar.
Di masyarakat yang kerap menilai manusia dari jabatan dan penampilan, pilihan Seladi terasa sunyi. Pemulung masih sering dipandang rendah—identik dengan kemiskinan, bau, dan pinggiran. Ia membalik stigma itu tanpa ceramah. Dengan seragam polisi yang ia jaga martabatnya di siang hari, dan karung pemulung yang ia pikul di sore hari, ia menunjukkan bahwa nilai seseorang tak ditentukan oleh apa yang ia pegang di tangan, melainkan apa yang ia jaga di hati.
Kini, nama Bripka Seladi mungkin tak lagi sering muncul di berita. Namun di Boyolali, orang masih mengingat sosok polisi yang tak gengsi memungut sampah. Ia meninggalkan jejak yang sederhana tetapi kuat: bahwa integritas bukan perkara besar yang diumumkan, melainkan keputusan kecil yang diulang setiap hari. Dalam langkahnya yang pelan di tepi jalan, Seladi seperti memungut sesuatu yang lebih berharga dari plastik dan kardus—ia memungut martabat hidup yang bersih.