Toy Story 5 Puncaki Box Office, Film Keluarga Kalahkan Tren Gadget

Variety

Variety

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Toy Story 5 memimpin box office dengan debut domestik 160 juta dolar, mengalahkan Super Mario Galaxy Movie yang meraih 131,7 juta dolar. Di saat anak-anak kian lekat dengan layar, film keluarga ini justru membuktikan nostalgia dan warisan Pixar masih sangat laku.

Toy Story 5 tayang di 4.425 bioskop Amerika Utara dan menjadi pembuka domestik terbesar tahun ini. Secara global film ini meraup 312 juta dolar, dari 152 juta dolar pasar internasional, dengan biaya produksi 250 juta dolar di luar pemasaran.

Kesuksesan ini juga memecahkan rekor internal waralaba, melampaui Toy Story 4 yang dulu membuka 120 juta dolar tanpa penyesuaian inflasi. Ia bahkan menjadi pembukaan animasi terbesar kedua sepanjang sejarah, hanya di bawah Incredibles 2 yang mencatat 182,7 juta dolar.

Di dalam cerita, Bonnie kecanduan tablet pintar anak bernama Lilypad, membuat para mainan harus beradaptasi dengan pusat perhatian baru. Pixar menambah daya tarik lewat sutradara veteran Andrew Stanton dan lagu baru Taylor Swift, “I Knew It, I Knew You.”

Respons publik ikut mengunci momentum, dengan 94% Rotten Tomatoes dan nilai “A” dari CinemaScore. Kombinasi ulasan kuat dan reputasi waralaba menjadikannya pilihan default keluarga untuk beberapa pekan ke depan.

Di sisi lain, pasar film sedang menunjukkan pola yang makin jelas sejak pandemi. Film keluarga, sekuel, dan remake live-action menjadi mesin utama yang menggerakkan industri, sementara animasi orisinal lebih sering kesulitan membangun penonton.

David A. Gross dari newsletter FranchiseRe menegaskan, “Family moviegoing has been leading the industry since it came roaring back from the pandemic in 2023.” Ia menambahkan bahwa Pixar dan Disney “sangat piawai” menumbuhkan seri dari episode ke episode.

Tren itu diperkuat contoh yang disebut dalam artikel: Inside Out 2 (2024) dan Zootopia 2 (2025) menutup penayangan dengan 1,6 miliar dan 1,8 miliar dolar. Jika pola ini berulang, Toy Story 5 berpeluang menjadi yang terbesar di waralaba, melampaui Toy Story 4 yang totalnya 1,07 miliar dolar.

Sementara itu, film lain memperlihatkan jurang selera penonton yang makin tersegmentasi. Steven Spielberg lewat Disclosure Day turun 62% pada pekan kedua, menambah 17 juta dolar dan mengindikasikan daya tariknya lebih kuat pada demografi pria lebih tua.

Secara total, Disclosure Day baru mengumpulkan 78 juta dolar domestik dan 82 juta dolar internasional, atau 160 juta dolar global. Dengan biaya 115 juta dolar dan fakta bahwa bioskop mengambil sekitar setengah pendapatan, film ini diperkirakan butuh sekitar 300 juta dolar global untuk impas.

Yang menarik, penantang terbesar bukan selalu blockbuster lain, melainkan horor berbiaya kecil yang konsisten. Obsession meraih 14,2 juta dolar pada pekan keenam, hanya turun 25%, dan sudah mengoleksi 215 juta dolar domestik serta 333 juta dolar global.

Backrooms juga terus stabil dengan 7,3 juta dolar pada pekan keempat, turun 35%. Film ini telah mencapai 175 juta dolar di Amerika Utara dan 301 juta dolar global, menjadi film terlaris sepanjang masa A24, melampaui Marty Supreme yang sebelumnya 191 juta dolar.

Di tengah dominasi sekuel, Scary Movie versi keenam menambah 6,7 juta dolar dan membawa total domestik ke 97,4 juta dolar. Secara global sudah 201,9 juta dolar, dan dengan biaya 30 juta dolar, margin labanya terlihat “aman” bahkan sebelum penjualan pasca-bioskop.

Dua rilisan kecil juga menyusup ke 10 besar meski layar terbatas. Leviticus dibuka 2,74 juta dolar dari 1.076 lokasi, sedangkan The Death of Robin Hood meraih 2,65 juta dolar dari 1.782 lokasi.

Leviticus tak memiliki nilai CinemaScore, tetapi ulasan kuat bisa membuatnya bertahan sepanjang musim panas. Film horor supranatural ini mengikuti dua remaja yang bertemu di terapi konversi, dan tema sosialnya memberi bahan pembicaraan di luar sekadar kejutan horor.

Nasib The Death of Robin Hood tampak lebih rapuh karena resepsi campuran. Skornya “C+” di CinemaScore dan 69% Rotten Tomatoes, sinyal yang biasanya membuat penonton umum cepat beralih ke judul yang lebih “aman.”

Di kubu franchise besar, ada peringatan yang tak bisa diabaikan. Masters of the Universe menambah 5,6 juta dolar pada pekan ketiga, tetapi baru 56 juta dolar domestik dan 101,9 juta dolar global, jauh dari biaya 200 juta dolar.

The Mandalorian and Grogu turun 15% dan meraih 3,9 juta dolar pada pekan kelima, dengan total 172 juta dolar domestik dan lebih dari 320 juta dolar global. Angka itu tidak kecil, namun dengan biaya 165 juta dolar, film ini masih jauh dari status “pasti sukses” untuk standar Star Wars.

Gambaran besarnya, musim panas ini diprediksi menjadi yang terbesar pasca-COVID. Menurut Rentrak, pendapatan musim popcorn saat ini hanya 1,8% di bawah musim panas 2019 dan 15% di atas musim panas tahun lalu.

Target empat bulan musim panas diperkirakan mudah menembus 4 miliar dolar, baru kedua kalinya sejak pandemi setelah 2023. Akhir pekan berikutnya akan diisi Supergirl dan Jackass: Best and Last, dengan Minions & Monsters, The Odyssey, dan Spider-Man: Brand New Day menanti di depan.

Toy Story 5 menang bukan semata karena kualitas, tetapi karena ia memanfaatkan “kebutuhan aman” penonton keluarga. Orang tua membeli kepastian, dan waralaba besar memberi jaminan pengalaman yang relatif bebas risiko.

Namun ada ironi yang memikat: film ini mengkritik kecanduan gadget lewat Lilypad, sambil dipasarkan besar-besaran di ekosistem digital yang sama. Pesan anti-keterikatan layar menjadi komoditas yang dijual melalui layar, dan penonton menerimanya karena dibalut karakter yang dicintai.

Di sisi lain, penurunan Disclosure Day memperlihatkan bahwa nama besar tidak otomatis menembus generasi baru. Artikel mencatat penonton muda condong ke karya sineas Gen Z, dan itu sinyal bahwa “bahasa visual” serta ritme bercerita sedang bergeser.

Kemenangan horor low-budget seperti Obsession dan Backrooms juga menunjukkan rumus baru profitabilitas. Ketika biaya terkendali, film tak perlu menjadi nomor satu untuk menang, cukup bertahan dan memelihara percakapan.

Industri kini tampak berjalan dengan dua mesin sekaligus: sekuel keluarga sebagai lokomotif pendapatan, dan horor kecil sebagai pabrik margin. Masalahnya, ruang bagi animasi orisinal dan film menengah makin sempit, sehingga keberagaman cerita berisiko terkikis.

Jika Toy Story 5 benar-benar menjadi yang terbesar di waralaba, itu akan menguatkan keyakinan studio bahwa masa depan ada pada “yang sudah dikenal.” Pertanyaannya, apakah penonton sedang memilih kenyamanan, atau sedang kehilangan kesempatan untuk jatuh cinta pada hal yang benar-benar baru.

Toy Story 5 membuktikan mainan lama masih bisa mengalahkan godaan teknologi, setidaknya di loket tiket. Tetapi kemenangan ini juga menegaskan era bioskop yang makin bergantung pada merek, sekuel, dan nostalgia.

Di tengah angka-angka yang mengilap, industri seolah berkata bahwa risiko kreatif harus dibayar mahal, sementara kepastian bisa diproduksi berulang. Jika layar lebar terus didominasi formula aman, kita perlu bertanya: kapan terakhir kali sebuah cerita baru membuat seluruh keluarga terdiam, lalu percaya lagi pada keajaiban yang belum pernah mereka kenal.

(Orbit dari berbagai sumber, 26 Juni 2026)