Cerpen Agus Bachtiar K: Ranti
Cerpen Agus Bachtiar K.
ORBITINDONESIA.COM - Senja merah ungu bertengger manja di atas garis horison langit saat itu. Keindahan dan kengerian bercampur, menciptakan suasana yang sulit dijelaskan. Di sudut rumah kayu sederhana yang terpisah dari kebisingan, tampak seorang gadis usia 18 tahunan melamun sendiri. Sunyi senja itu tak berlaku baginya; pikirannya riuh, perasaannya gaduh.
Terngiang-ngiang tawaran Pak Buncit pagi tadi, saat mengantre di warung Bakso Urat Mas Setyo pojok Pasar Kliwon. Warung yang tersohor karena bakso uratnya yang besar. Masalah rasa, nomor dua; yang penting bakso uratnya besar. Begitu alasan klasik ibu-ibu pelanggan setianya.
“Gaji tiga puluh juta, makan dan tidur sudah dijamin oleh bos,” ungkap Pak Buncit terdengar meyakinkan.
“Pekerjaannya juga ringan, tak ada yang berat. Hanya mengurus nenek-nenek jompo, kamu pasti bisa!” tambah Pak Buncit lagi sambil menyodorkan kartu nama bertuliskan PT Cinta Abadi, lengkap dengan nomor WA-nya.
Sepulang dari pasar tadi siang, pikiran Ranti melayang. Terbayang gunungan uang di atas meja tua di depan matanya. “Pasti hidupku tak akan menderita lagi,” gumam Ranti meyakinkan dirinya.
Setelah orang tuanya bercerai, Ranti hidup bersama neneknya. Sang ibu diceraikan oleh bapaknya karena kepergok selingkuh dengan seorang sopir di belakang posyandu Kampung Larangan. Bapaknya yang terpukul dan hampir gila memilih pergi dari kampung karena merasa sangat malu sekaligus kecewa. Ranti masih ingat dekapan terakhir saat bapaknya berpamitan. Sangat dingin dan menyakitkan. Tubuh lelaki itu bergetar karena amarah, malu, dan menahan beribu sumpah serapah.
Ranti sebenarnya seorang gadis yang pintar. Ia meraih nilai tertinggi saat kelulusan SMA dua tahun yang lalu. Namun, alur cerita berkata lain; ia harus menelan kenyataan getir kehidupan imbas dari perceraian dan tak bisa melanjutkan studinya. Neneknya hanya pedagang sayur, tentu sangat berat baginya untuk membiayai kuliah cucu kesayangannya itu. Ranti menyerah, neneknya pun pasrah.
Kini, Ranti membantu sang nenek berjualan sayur di Pasar Kliwon. Selain cerdas, Ranti adalah gadis yang rupawan. Kecantikannya terkenal sampai pelosok kecamatan. Maka tak heran jika setiap pagi, dagangan sayur-mayur milik neneknya selalu laris dan habis terjual lebih awal. Uniknya, sebagian besar pembelinya adalah para jejaka dan bapak-bapak bermata nakal. Ranti memikat banyak hati.
“Ranti, ayo makan dulu. Jangan ditunda-tunda!” kata sang nenek tiba-tiba, membuyarkan lamunannya.
“Iya, Nek,” sahut Ranti datar sembari beranjak menuju dapur dan makan malam dengan menu sangat sederhana bersama nenek yang ia kasihi.
Malam itu, Ranti resah. Kata-kata Pak Buncit kembali bergema di telinga: “Gaji tiga puluh juta, makan dan tidur sudah dijamin oleh bos.”
Saat malam tergelincir, mata Ranti masih menyala segar. Tak redup sedikit pun. Lamunan-lamunan itu berputar-putar, larut dan bercampur dengan imajinasi, bahkan sanggup melahirkan halusinasi sesaat.
“Selamat tinggal utang-utang,” kata Ranti lirih sambil menatap nanar sudut kamar sederhana itu. Sedih, kecewa, dan dendam terkadang mampu mengubahnya menjadi marah, bahkan menyesali kelahirannya di dunia. Sejak kedua orang tuanya pergi, banyak orang datang menagih utang yang Ranti sendiri tak tahu ujung pangkalnya. Dia hanya bisa membayar sebisanya, semampunya.
Bahkan, pernah suatu sore saat Ranti menyapu halaman, datang laki-laki tua berambut klimis mencari orang tuanya.
“Adik cantik, kamu anak Mbak Sari, ya?” ucap laki-laki berambut klimis itu, menatapnya dengan nakal.
“Iya Om, eh Pakde, tapi ibu dan bapak saya sudah pergi,” jawab Ranti sambil menunduk dan sedikit membuang muka. Risih.
“Oh... Jadi kamu sendiri di rumah?” tanya laki-laki berambut klimis itu lebih bersemangat sambil mencoba meraih tangan Ranti.
Secepat kilat Ranti melompat mundur dan kabur. Berlari menuju pintu samping, masuk ke rumah kayu sambil gemetar mengintip dari sela-sela dinding papan. Takut dan ngeri.
“Kamu mau jadi istri ketigaku, Dik? Nanti kuanggap lunas utang orang tuamu!” teriak laki-laki berambut klimis dari balik jendela samping dengan nada lebih tinggi dari sebelumnya.
Peristiwa-peristiwa lain yang serupa pun kerap terjadi. Berulang lagi dan lagi.
Kejadian demi kejadian itu membuat Ranti trauma. Kini, ia tak pernah keluar rumah setelah pulang dari pasar. Duduk di pojok ruangan, tempat dulu ia bermanja bersama bapak dan ibunya. Hanya gawai dan sang nenek yang menjadi teman akrabnya setiap hari.
Azan Subuh mengalun, menyadarkan Ranti dari durasi panjang pemutaran drama hidup yang bersarang di kepalanya. Sedetik pun ia tak terlelap.
“Ranti, salat.” Seperti biasa, sang nenek membangunkannya saat Subuh tiba. Neneknya tak tahu kalau semalaman cucunya bertarung dengan lamunannya sampai pagi.
“Iya, Nek,” sahut Ranti, meletakkan gawainya yang terasa sangat panas karena tak berhenti bekerja melantunkan lagu-lagu sedih. Jam lima pagi nenek dan cucu itu pergi menjemput rezeki.
Siang yang cukup terik, seperti biasa Ranti duduk di sudut rumah. Pikirannya kian gundah. Ia ambil gawainya dan membuka aplikasi WA. Di kolom pencarian, dia mengetik: Pak Buncit PT Cinta Abadi. Nomor WA-nya sudah Ranti simpan semalam.
Ranti memberanikan diri menghubungi Pak Perut Buncit, sang penyalur Tenaga Kerja Wanita (TKW) yang menawarinya pekerjaan dengan upah setara gaji anggota DPR itu.
“Selamat siang, PT Cinta Abadi di sini. Ada yang bisa dibantu?” terdengar suara merdu dari nomor yang dituju.
“Eh, siang, Mbak. Saya Ranti dari Dusun Larangan, mau nanya tentang syarat-syarat untuk bisa bekerja di Hongkong,” suara Ranti agak terbata-bata. Gugup.
“Oke, iya Mbak Ranti. Nanti saya bantu kirim syarat-syarat dan ketentuannya, ya,” ucap perempuan itu sangat ramah dan sopan.
Diskusi melalui sambungan telepon WA pun berlanjut, lumayan panjang dan lebar.
Malam hari setelah isya, Ranti memberanikan diri untuk bicara pada sang nenek perihal rencananya untuk mengubah kisah hidupnya yang mencekam ini, dengan cara pergi ke luar negeri menjadi TKW. Ia mencoba meyakinkan neneknya tercinta bahwa kelak hidup mereka akan berubah setelah dirinya mendapatkan pekerjaan dan gaji tiga puluh juta sebulan.
Sang nenek terdiam, buliran air bening mengalir tanpa jeda untuk beberapa saat. Tubuhnya yang renta mencoba melawan kesedihan di tengah keterpurukan yang ia rasakan di setiap detik hidupnya selama ini. Teringat anak perempuannya yang pergi bersama laki-laki yang tak jelas, terbayang juga kekecewaan menantunya dulu saat menerima getirnya kenyataan yang sangat kelam.
Setelah menenangkan diri dan mencoba menarik napasnya yang sesak, sang nenek berkata, “Kalau itu pilihanmu, pergilah, Nduk. Nenek hanya bisa pasrah. Semoga kamu bisa mengubah hidupmu, dan kita masih bisa bertemu lagi. Maafkan ibumu, ya.”
Ranti bersimpuh dan menangis sejadi-jadinya, memeluk tubuh kurus neneknya yang lemah dan lelah penuh kesedihan.
“Ranti minta maaf, Nek...” isak Ranti terputus, tak sanggup berkata apa pun.
Ia melihat jelas keraguan tertangkap dari sorot mata nenek yang selama ini tulus membesarkannya. Sementara dalam diri Ranti menyimpan kekhawatiran jika sesuatu terjadi pada neneknya.
“Kamu ndak salah, Nduk. Anakku yang jahat pada hidup kita, kamu korban, Nduk...” Sambil mendekap penuh cinta, sang nenek berusaha menguatkan diri dan cucunya.
Dua minggu berlalu, hampir setiap hari Ranti terlihat sibuk menyiapkan dokumen-dokumen yang dipersyaratkan oleh PT Cinta Abadi. Fotokopi KTP, KK, ijazah. "Paspor juga akan segera diurus," kata Pak Buncit minggu lalu.
Sebulan setelah malam yang penuh kebimbangan itu, Ranti benar-benar melangkah pergi dari Dusun Larangan demi mengubah nasib dan melunasi utang-utang yang ditinggalkan ibunya. Namun, harapan mulia itu hancur menjadi kepingan-kepingan luka saat tiba di kota transit. "PT Cinta Abadi" yang dikelola Pak Buncit ternyata adalah bagian dari jaringan sindikat perdagangan manusia (human trafficking).
Di dalam sebuah gudang penampungan yang gelap, panas, dan terisolasi, gawai dan paspor Ranti dirampas secara paksa. Saat Ranti menangis dan mencoba berontak, Pak Buncit justru tertawa culas dan mengejek sembari melemparkan selembar surat perjanjian bermeterai ke lantai.
"Kamu mau kabur ke mana, Ranti? Nggak usah sok berani!" bentak Pak Buncit dengan suara gahar dan menggelegar. "Lihat ini! Surat perjanjian utang! Ibumu, Sari yang sundal itu, sudah menjualmu kepada kami sejak setahun lalu! Dia mengambil uang muka lima puluh juta untuk biaya kawin lari dan bersenang-senang dengan sopir selingkuhannya!"
Ranti menggelengkan kepala dan berteriak histeris, dadanya sesak. "Enggak! Nggak mungkin! Ibu... Ibu nggak mungkin sekejam itu sama anak kandungnya sendiri, Pak!"
"Nggak mungkin?" Pak Buncit mencengkeram rahang Ranti, memaksanya melihat surat tersebut. "Ibumu itu perempuan iblis! Dia bukan cuma menipu bapakmu, tapi dia juga hobi mengganggu laki-laki dan merusak suami orang di kampungmu! Semua utang menumpuk ini karena kelakuan bejat ibumu yang gila harta! Bapakmu yang malang itu pergi dari kampung karena sudah tidak kuat menanggung malu dan hancur dikhianati oleh perempuan sundal seperti dia!"
Tangis Ranti meledak seketika. Terbayang kembali wajah bapaknya yang pergi dalam keadaan hancur, sementara ibunya ternyata juga tega menjadikannya tumbal demi memuaskan nafsu bejatnya. Jiwa raga Ranti seperti dilumat habis oleh mesin penggiling baja. Ranti bersujud di kaki Pak Buncit, memohon dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki.
"Pak, saya mohon... Kalau begitu tangkap ibu saya, jangan saya, Pak! Nenek saya sendirian di rumah... Nenek sedang sakit..."
Anak buah Pak Buncit menjambak rambut Ranti, menariknya berdiri dengan kasar. "Ibumu sudah kabur entah ke mana dengan gigolonya! Paham?"
"Gadis pintar dan cantik seperti kamu harganya jauh lebih mahal di luar sana, mungkin cukup untuk melunasi utang perempuan jahanam itu! Kamu tidak akan pernah pulang!"
Sementara Ranti diselundupkan melewati perbatasan internasional dalam kondisi tersekap di lambung kapal yang gelap, situasi di Dusun Larangan menjadi akhir dari segalanya. Laki-laki tua berambut klimis datang lagi ke rumah sederhana itu, kali ini ia membawa beberapa preman pasar untuk menagih sisa utang yang ditinggalkan oleh ibunya, Sari.
"Mana cucumu yang cantik itu, nenek tua bangka?!" teriak si rambut klimis sembari menendang kursi kayu hingga hancur.
Nenek Ranti yang sedang terbaring lemah di atas dipan hanya bisa terbatuk-batuk, air matanya mengalir membasahi bantal yang kusam. "Ranti... Ranti pergi kerja ke Hongkong, Pak... Tolong jangan ganggu kami lagi..."
"Hongkong?!" bentak laki-laki itu dengan kejam. "Cucumu itu sudah dijual oleh anak perempuanmu sendiri yang sundal itu! Anakmu itu iblis! Dia yang berutang ke mana-mana, tapi membiarkan ibunya yang tua dan anaknya yang suci menanggung semua akibatnya! Sekarang, karena cucumu tidak ada, rumah ini saya sita!"
Dengan sisa tenaga terakhirnya, sang nenek merangkak di lantai, menangis dan memeluk kaki preman-preman itu, memohon belas kasihan di tengah desiran angin malam. Namun, mereka sama sekali tidak peduli. Tubuh renta yang lemah itu diseret dan dilemparkan ke tepi jalan.
Malam nahas itu, ditaburi rintik hujan yang dingin mencekam, sang nenek mengembuskan napas untuk terakhir kalinya dalam kondisi mengenaskan. Beliau meninggal diselimuti kehancuran hati yang teramat dalam, memanggil nama Ranti dan meratapi nasib malang menantunya yang telah dihancurkan hidupnya oleh kelakuan jahanam istrinya sendiri. Anak kandungnya.
Jauh di seberang lautan, dalam sebuah kamar sempit tanpa jendela, Ranti terduduk, meringkuk di pojok ruangan yang berlantai sangat dingin. Dunianya telah runtuh sepenuhnya. Tidak ada lagi gawai hangat di tangannya, tidak ada lagi suara nenek yang membangunkannya saat Subuh tiba.
Menatap kosong ke dinding ruangan, Ranti berbisik lirih dengan suara yang hampir habis:
"Bapak... Maafkan Ranti... Ranti tahu Bapak orang baik, Bapak pergi karena terluka... Tapi kenapa Ibu sekejam ini, Pak? Kenapa Ibu melahirkan Ranti kalau hanya untuk dijadikan tumbal dari semua dosa-dosanya? Tuhan... di mana Engkau?"
Gadis yang dulu meraih nilai kelulusan tertinggi, gadis rupawan yang selalu menjaga kehormatan dirinya, kini terkubur hidup-hidup dalam kubangan takdir kelam yang diciptakan oleh ibu kandungnya sendiri.
Toboali, 10 Juni 2026
Agus Bachtiar K., sang "peramu aksara" adalah penulis asal Toboali, Bangka Selatan. **