Tri Handoyo: Beras Kencur dan Otak Tersungkur
Oleh Tri Handoyo
ORBITINDONESIA.COM - Suatu sore di Padepokan Karangtumaritis, Semar dan anak-anaknya sedang asyik menyeruput wedang beras kencur hangat.
Tiba-tiba, Limbuk datang merangsek sambil membanting capingnya ke tanah. Wajahnya persis kertas bungkus nasi uduk yang diremas-remas. "Waduh! Cilaka! Dunia ini sudah mau kiamat!" teriaknya heboh.
Gareng yang kaget hampir saja tersedak liurnya sendiri. "Oalah, Mbuk! Datang-datang bukannya uluk salam malah bikin kaget! Kiamat dari mana, wong jemuran pampers anakmu saja belum kering!"
Limbuk menunjuk-nunjuk langit dengan wajah berapi-api. "Ini soal keadilan, Reng! Masa ada pejabat yang bilang semua keberhasilan karena kehendak Tuhan, tapi pas kebijakan mereka dikritik, mereka malah sibuk nyari dukungan konstituen? Padahal tidak ada sesuatu pun yang terjadi tanpa kehendak dan campur tangan Tuhan. Tapi buat orang-orang yang nalarnya tersungkur, Tuhan malah dianggap kalah sama kekuatan suara konstituen! Gimana nggak gendeng?!"
Petruk berhenti memijat kakinya yang seting kram. Ia terkekeh pelan, "Ala.., Mbuk..Mbuk.., kamu itu sok kaget. Dari dulu kan memang begitu. Coba kamu lihat yang ramai di media sosial sekarang. Pembela pemerintah sering kali dituding penjilat. Padahal, pembenci pemerintah yang asal caci-maki itu sebetulnya ya sama saja, penjilat juga!"
"Sama penjilatnya? Kok bisa?" protes Limbuk.
"Bisa. Bedanya, yang dijilat sama barisan pembenci itu adalah pihak yang kalah! Biar dapet simpati dan dianggap paling kritis, padahal cuma numpang eksis!"
"Lho, tapi kan kata berita-berita di grup HP-ku, suara rakyat kecil kayak kita lagi dibungkam, Reng! Berita-berita dimatikan!" sahut Limbuk tak mau kalah, dadanya ditepuk-tepuk sok heroik.
Semar, yang sejak tadi hanya mendengarkan sambil tersenyum mesem, akhirnya meletakkan cangkir beras kencur. Matanya yang sipit menatap Limbuk dengan penuh kearifan. "Nduk Limbuk," panggilnya dengan suara beratnya yang khas. "Siapa bilang berita dimatikan? Berita itu enggak mungkin dimatikan. Yang dimatikan dan dibersihkan itu ya berita hoax sama framing jahatnya! Ya kalau sampah enggak disapu, nggak dibersihkan Karangtumaritis ini bisa bau busuk."
Semar lalu menyulut rokok klobotnya, menghirupnya dalam-dalam sebelum melanjutkan, "Sebab, kamu harus tahu, pemamah biak hoax yang paling lahap itu biasanya ya pihak yang nalarnya lagi tersungkur'. Orang kalau kebenciannya sudah mencapai ubun-ubun, mau kabar hoax setebal bantal pun bakal dilahap mentah-mentah tanpa dikunyah!"
Bagong manggut-manggut setuju, lalu menepuk bahu Limbuk. "Tuh dengar! Jadi kalau kamu membaca berita di HP-mu, otak itu dipasang di atas, jangan ditaruh dengkul, apalagi ditaruh di tumit. Biar enggak gampang jadi korban pemamah biak hoax!"
Limbuk terdiam sejenak. Ia menggaruk-garuk kepalanya sambil melihat ke arah teko wedang beras kencur yang masih mengpulkan asap.
"Oalah... dadi ngono toh, Romo?" gumam Limbuk pelan, wajah garangnya mendadak luntur. "Ya.. tradisi 'otak tersungkur' itu ternyata bikin kenyang hoax, ya? Ya sudah kalau gitu, daripada syaraf otakku ikut tersungkur, mending aku minum beras kencur saja!"
Limbuk langsung menyerobot teko dan meminumnya sampai tandas.
"Hoi! Mbuk! Itu namanya kurang ajar!" teriak Gareng, Petruk dan Bagong kompak, sementara Semar hanya tertawa terbahak-bahak melihat tingkah keponakannya itu. ***