Obat GLP-1 dan Kanker: Sinyal Baru Cegah Metastasis?
ORBITINDONESIA.COM – Obat GLP-1 seperti Ozempic dan Wegovy kembali memantik harapan, kali ini lewat data baru yang mengaitkannya dengan penurunan progresi metastasis pada beberapa kanker. Temuan Cleveland Clinic yang akan dipresentasikan di ASCO 2026 menyebut pasien kanker dengan diabetes tipe 2 atau obesitas yang memakai GLP-1 tampak lebih jarang mengalami penyebaran kanker dibanding pengguna DPP-4.
Metastasis adalah titik balik paling menakutkan dalam perjalanan kanker, karena menandai penyebaran sel ganas ke organ lain. Karena itu, setiap sinyal yang mengarah pada pencegahan metastasis segera menjadi perhatian publik dan komunitas medis.
GLP-1 awalnya dirancang untuk diabetes tipe 2, lalu melejit sebagai obat penurun berat badan. Kini, GLP-1 juga mulai dikaitkan dengan manfaat lain, setelah FDA menyetujui Wegovy untuk menurunkan risiko penyakit jantung serius pada Maret 2024 dan Zepbound untuk sleep apnea obstruktif pada Desember 2024.
Hubungan obesitas dan kanker ikut mendorong riset ini. Onkolog Samyukta Mullangi menegaskan obesitas adalah faktor risiko banyak kanker, sementara terapi endokrin pada kanker payudara dan prostat justru dapat memicu kenaikan berat badan dan menyulitkan fase survivorship.
Riset Cleveland Clinic membandingkan 12.112 pasien kanker stadium 1 sampai 3 pada tujuh kanker terkait obesitas, yaitu NSCLC, payudara, kolorektal, prostat, hepatoseluler, pankreas, dan ginjal. Separuh pasien memakai GLP-1 setelah diagnosis, sementara separuh lain memakai DPP-4 inhibitor seperti Januvia, Onglyza, Tradjenta, dan Nesina.
Kelompok dipadankan agar sebanding, termasuk indeks massa tubuh, riwayat merokok, dan terapi kanker sebelumnya. Hasilnya, pengguna GLP-1 dikaitkan dengan penurunan progresi metastasis pada enam dari tujuh kanker yang diteliti, kecuali kanker ginjal.
Penurunan yang dinilai bermakna secara statistik muncul pada NSCLC, payudara, kolorektal, dan kanker hati. Pada NSCLC, 22% pengguna DPP-4 berkembang ke stadium IV, sementara pengguna GLP-1 10%.
Pada kanker payudara, progresi terjadi pada 20% pengguna DPP-4 dan 10% pengguna GLP-1. Pada kanker kolorektal, angkanya 22% versus 13%, sedangkan pada kanker hati 28% versus 19%.
Peneliti juga melaporkan sebagian sel kanker memiliki kadar reseptor GLP-1 yang tinggi. Kondisi itu dikaitkan dengan risiko kematian 33% lebih rendah pada pasien yang memakai obat, sehingga memunculkan hipotesis GLP-1 mungkin menyerang sel kanker lebih langsung.
Namun studi ini bersifat observasional dan belum dipublikasikan di jurnal peer-review saat laporan dibuat. Artinya, korelasi belum cukup untuk menyimpulkan GLP-1 menyebabkan penurunan metastasis, apalagi menyatakan obat ini “membunuh” tumor.
Faktor pembanding juga menjadi sorotan. Biostatistikawan Jiang Bian menyebut risetnya menemukan GLP-1 lebih baik daripada DPP-4, tetapi tidak berbeda bila dibanding SGLT2 inhibitor.
Orland mengatakan timnya sengaja memilih DPP-4 karena dianggap paling “tidak kontroversial” terkait efek kanker, sehingga mengurangi risiko pembandingnya punya dampak antikanker sendiri. Meski begitu, perbedaan hasil saat pembanding diganti menunjukkan kesimpulan bisa bergeser tergantung desain studi.
ASCO Post juga mencatat potensi konflik kepentingan, karena Orland memiliki peran konsultatif atau penasihat pada beberapa perusahaan farmasi dan menerima pendanaan riset dari sejumlah institusi. Catatan ini tidak otomatis membatalkan temuan, tetapi menuntut pembacaan yang lebih hati-hati dan transparan.
Di ruang publik, GLP-1 sering diperlakukan seperti “obat ajaib” karena efeknya pada berat badan dan gula darah. Masalahnya, narasi ajaib membuat orang lupa bahwa pencegahan dan terapi kanker tidak boleh bertumpu pada sinyal awal, apalagi sebelum uji acak terkontrol.
Marcin Chwistek mengingatkan, banyak pengguna GLP-1 dalam kohort tersebut juga menjalani kemoterapi atau imunoterapi secara bersamaan. Ini membuka kemungkinan bahwa penurunan metastasis adalah hasil interaksi kompleks antara obat diabetes, penurunan inflamasi, perubahan metabolik, dan efek terapi kanker yang sedang berjalan.
American Cancer Society pada Maret menyebut GLP-1 mungkin menghambat pertumbuhan kanker lewat pengaruh pada gula darah dan insulin, penurunan inflamasi internal, serta dukungan pada sel imun. Tetapi mekanisme biologis yang masuk akal tetap bukan bukti klinis, karena tubuh manusia lebih rumit dari model teori.
Di sisi lain, data “real-world” berskala besar tetap layak dihargai sebagai alarm ilmiah. Chwistek menyebut konsistensi lintas tipe tumor dan besarnya data menjadi alasan kuat untuk mendorong uji prospektif acak, bukan untuk mengubah standar perawatan hari ini.
Orland menegaskan pasien kanker tanpa diabetes tipe 2 atau obesitas tidak akan disarankan mencoba GLP-1. Pernyataan ini penting, karena batas etika klinis harus lebih cepat ditegakkan daripada kecepatan viral sebuah temuan.
Temuan Cleveland Clinic memberi petunjuk bahwa obat GLP-1 mungkin terkait penurunan progresi metastasis pada kanker tertentu, terutama pada pasien dengan diabetes tipe 2 atau obesitas. Namun bukti ini masih tahap awal, belum peer-review, dan belum dapat dijadikan dasar resep GLP-1 untuk mencegah penyebaran kanker.
Publik boleh berharap, tetapi harapan harus disiplin pada metode ilmiah. Pertanyaannya kini bukan “apakah GLP-1 menyembuhkan kanker,” melainkan “uji apa yang harus dilakukan agar kita tahu siapa yang benar-benar diuntungkan, dengan risiko yang terukur.” (Orbit dari berbagai sumber, 24 Mei 2026)