Memotret Realitas dan Renungan Kehidupan Lewat "Buk Geriul"
Rusmin Sopian. Buk Geriul (Kumpulan Cerita Pendek). Toboali: Galuh Patria, 2026. Tebal: 120 halaman.
ORBITINDONESIA.COM - Sudah beberapa waktu saya memperoleh ‘kitab’ ini. Buku ini seolah melambai-lambai setiap waktu untuk dijamah. Buk Geriul merupakan sebuah karya antologi cerpen yang lahir dari kepekaan pena Rusmin Sopian, yang akrab menyandang julukan Pendekar Sejuta Pena. Seorang jurnalis senior asal Toboali, Bangka Selatan.
Pengalaman jurnalistiknya terasa sangat kental dalam karyanya. Ia tidak sekadar merangkai fiksi, melainkan menangkap berbagai fenomena sosial, kritik politik yang berani, potret religiusitas, hingga refleksi mendalam mengenai akhir kehidupan manusia. Buku ini merangkum 15 judul cerita pendek yang siap mengaduk emosi para pembaca.
Judul buku ini diambil dari cerpen pembukanya yang berjudul sama, "Buk Geriul" (halaman 5). Sejak pertama kali melihat buku ini, pembaca sudah disuguhi ilustrasi sampul depan yang sangat ikonik dan provokatif.
Sampul tersebut menampilkan sosok lelaki tua berblangkon dengan lidah bercabang layaknya ular, dikelilingi tulisan "Bohong", "Omongan Kosong", dan "Banyolan Syirik".
Ilustrasi gamblang ini menjadi sebuah isyarat kuat bahwa lembar demi lembar buku ini sarat akan kritik terhadap kepalsuan, bualan, serta kemunafikan yang kerap kita temui di tengah kehidupan masyarakat modern.
Struktur dan Ragam Kisah
Berdasarkan lembar daftar isi resmi, buku antologi ini tersusun secara rapi dengan memuat kisah-kisah pemantik renungan sebagai berikut: Buk Geriul (Hal. 5); Suara Usang dari Tape Recorder Kuno (Hal. 17); Wakil Rakyat (Hal. 24); Ambruknya Langgar Kampung Kami (Hal. 31); Mendadak ke Masjid (Hal. 39); Nyanyian Palsu Berbuah Duka (Hal. 46); Matganak dan Gengnya (Hal. 53); Beberapa Jam Setelah 20 Oktober (Hal. 58); Kisah dari Koran Bekas (Hal. 68); Lelaki Pencari Surga (Hal. 74); Pengarang Kehidupan (Hal. 81); Ada yang Menangis Sepanjang Malam di Ujung Ramadan (Hal. 89); Goresan Sebatang Kapur di Papan Kehidupan (Hal. 95); Lelaki dari Langit (Hal. 102); Ada yang Mengetuk Pintu Rumah Kami Sepanjang Malam (Hal. 111).
Untuk menyelami kekuatan dari 15 cerpen di atas, beberapa judul berikut dapat menjadi representasi utama:
Lelaki Pencari Surga (Hal. 74): Mengisahkan tokoh bernama Matgagah, seorang pembuat onar kampung yang ditakuti. Alur hidupnya berubah total saat ia tiba-tiba datang ke masjid untuk menunaikan salat Subuh, setelah mendapat teguran keras dan tak terduga dari seorang lelaki setengah baya. Kisah ini menjadi potret penemuan hidayah dari pencarian spiritual yang menyentuh.
Pengarang Kehidupan (Hal. 81) & Ada yang Menangis Sepanjang Malam di Ujung Ramadan (Hal. 89): Kedua cerpen ini berpusat pada tokoh bernama Matsudel. Rusmin menggiring pembaca pada perenungan emosional yang magis saat sang tokoh berpulang ke Rahmatullah. Kematian Matsudel menyisakan duka mendalam bagi warga kampung yang sangat mencintai karya-karya cerpennya. Cerita ini terasa sangat otentik karena kental dengan latar lokal Toboali (tercatat selesai ditulis pada Mei 2025).
Ada yang Mengetuk Pintu Rumah Kami Sepanjang Malam (Hal. 111): Sebuah cerpen yang menarasikan kegelisahan kolektif warga atas suara "ketukan pintu" misterius yang meneror sepanjang malam. Suara tersebut ternyata menjadi simbol jeritan, rintihan, sekaligus tuntutan rakyat kecil kepada para penguasa yang selama ini hidup makmur dari suara (hak pilih) mereka.
Kritik Sosial dan Politik
Sebagai jurnalis, Rusmin tidak ragu untuk menyelipkan kritik tajam dan berani terhadap getirnya fakta. Pembaca akan menemukan sentilan segar mengenai isu korupsi (seperti fenomena "OTT KPK") hingga janji-janji manipulatif politik menjelang pemilu. Uniknya, kritik-kritik ini tidak terkesan menggurui karena dibalut dengan narasi yang mengalir natural.
Kepiawaian penulis dalam mengolah kata menjadi daya tarik tersendiri. Rusmin sering kali membuka ceritanya dengan metafora alam yang indah, seperti rembulan, matahari, dan kunang-kunang.
Teknik ini berhasil menciptakan atmosfer yang tenang dan kontemplatif, sebelum akhirnya mengajak pembaca masuk ke dalam pusaran konflik cerita yang emosional, runyam, dan sarat dengan satir.
Buku ini memiliki identitas kearifan lokal yang gamblang. Sebagai penulis, Rusmin secara konsisten menyertakan titimangsa tempat dan waktu di akhir setiap cerpennya (misalnya: Toboali, Maret 2026 atau Agustus 2023).
Kehadiran latar lokal ini memberikan warna otentik dan membangun kedekatan emosional tersendiri bagi pembaca, khususnya bagi masyarakat Bangka Belitung.
Pesan Moral
Sastra yang baik adalah sastra yang mencerahkan, dan buku ini memenuhi syarat tersebut. Buk Geriul bukan sekadar hadir sebagai media hiburan semata, namun juga berfungsi sebagai pantulan introspeksi bagi pembaca tentang hakikat dosa, pentingnya pertobatan, dan kepasrahan mutlak kepada Sang Maha Pencipta.
Secara umum, buku ini terasa istimewa sebagai bahan perenungan pada konflik batin yang terjadi dalam kehidupan kita, baik sebagai pribadi maupun masyarakat.
Alangkah lebih bijak jika buku ini ditambahkan glosarium istilah lokal. Salah satu catatan yang perlu diperhatikan adalah penggunaan judul utama "Buk Geriul" serta beberapa diksi khas daerah yang belum familiar bagi masyarakat luas.
Bagi pembaca di luar wilayah Bangka Belitung, absennya catatan kaki (footnote) atau glosarium tambahan membuat mereka harus menerka-nerka arti kata dari konteks cerita untuk dapat menangkap esensi maknanya secara instan. Penyertaan glosarium di cetakan berikutnya tentu akan membuat buku ini lebih ramah bagi pembaca secara nasional.
Kesimpulan
Melalui Buk Geriul, Rusmin Sopian berhasil menyajikan sebuah potret kehidupan yang dibingkai dengan jujur, mengalir, berani, sekaligus religius. Rekam jejaknya di dunia jurnalistik tercermin lewat kepekaannya dalam meramu realitas sosial yang pahit menjadi untaian cerita pendek yang estetis dan sarat nasihat.
Selain itu, Rusmin Sopian berhasil membuktikan bahwa karya sastra dapat berfungsi sebagai media dakwah yang halus namun menghunjam. Religiusitas dalam buku ini menjadi penyeimbang yang sejuk di tengah pahit dan panasnya kritik sosial-politik yang dilayangkan penulis, menjadikannya sebuah oase perenungan yang sangat berharga bagi pembaca.
Buku setebal 120 halaman ini sangat direkomendasikan bagi para penikmat sastra yang menyukai fiksi dengan pesan moral yang kental, kritik sosial yang berani, sekaligus perenungan spiritual yang mendalam di akhir kisah. Sebuah karya lokal dengan resonansi makna yang universal!
Toboali, 26 Juni 2026
Sang Peramu Aksara, Agus Bachtiar K. ***