Budiman Hakim: Berderma Kata
Oleh Budiman Hakim
ORBITINDONESIA.COM - Di salah satu group WA yang saya ikuti, ada seorang member bernama Vito. Saya suka banget sama dia. Dan percaya gak? Alasannya sepele banget: karena Vito selalu merespons semua orang yang posting ke group.
Vito sendiri jarang posting tapi dia rajin sekali merespons postingan yang masuk ke group. Meskipun itu cuma postingan broadcast atau hasil forward dari group sebelah, dia tetep membalasnya.
Tiap ada yang posting topik motivasi, dia akan merespons, “Wah, postingan ini membuat gue semakin optimis menghadapi hidup. Thanks, Bro.”
Kalo ada yang posting tentang sulap atau cerita lucu, dia akan nyaut, “Menghibur banget! Makasih, Bro.”
Ketika ada yang ngirim tentang teknologi, dia akan membalas, “Luar biasa! Membuka wawasan sekali. Sering-sering posting kayak ginian, Bro.”
Jika ada yang memposting tulisannya sendiri, Vito nyaut lagi, “Wah, tulisan lo mencerahkan sekali. Ditunggu tulisan berikutnya, Bro.”
Pokoknya respons dari Vito sangat menyejukkan. Saya aja bacanya seneng, apalagi orang yang direspons, kan?
Suatu hari, iseng-iseng saya japri dia, “To, lo rajin banget merespons postingan orang? Kan dia ngirim konten itu bukan spesifik ke elo.”
Gak butuh waktu lama dia langsung ngejawab, “Gue memang lagi berderma kata, Om Bud. Hehehe…”
“Maksudnya gimana, tuh, berderma kata?” tanya saya penasaran.
“Ada temen gue curhat. Katanya dia kesel karena sering posting ke group tapi gak ada yang merespons. Dia bilang member di group gak apresiatif. Gak ada etika.”
“Sumpe lo? Ada orang mikirnya sampe begitu?” tanya saya takjub.
“Serius! Tadinya gue kira dia cuma curhat doang. Eh, gak taunya beneran marah. Marah besar!"
“Wah? Masak sih?”
“Iya bahkan di beberapa group lain dia sampe left karena gak tahan merasa dicuekin kayak gitu.”
“Oh, okay! Jadi gara-gara curhatan orang itu, lo selalu merespons setiap postingan orang lain?” tanya saya menegaskan.
“Tepat sekali! Lo harus tau, Om Bud. Bukan cuma temen gue doang tapi banyak orang yang sensitif kayak gitu. Makanya sejak itu gue selalu berderma kata. Apa ruginya, sih, ngebikin orang senang? Iya, kan?” kata Vito.
“Iya, gue setuju! Hebat lo, To. Kagum gue sama lo.” kata saya setulusnya.
“Halah! Cuma berderma kata doang, apa yang harus dibikin kagum? Semua orang juga bisa melakukannya.” kata Vito lagi.
Hebat banget, ya, temen saya ini. Dia bilang semua orang juga bisa melakukannya. Iya bener, sih! Tapi pertanyaannya, ada berapa banyak orang mau melakukannya?
Dulu saya hanya bisa kagum pada orang yang mampu berderma harta dalam jumlah besar. Misalnya sahabat Rasullulah, Abu Bakar, yang mendermakan seluruh hartanya. Atau temen saya yang mewakafkan 1 hektar tanahnya untuk dibangun jadi pesantren di kampung halamannya. Tapi berderma kata? Gile! Cara berderma yang murah banget, tuh. Berderma tanpa mengeluarkan uang dan tenaga.
Omongannya Vito membuat saya mencoba menelaah lebih dalam. Saya terus berpikir, kenapa saya bisa kagum sama orang yang berderma kata? Setelah merenung beberapa lama, saya mulai mendapatkan jawabannya.
Manusia zaman sekarang lebih banyak menghabiskan hidupnya di dunia digital. Setiap hari kita diberondong narasi negatif—mulai dari saling kritik, hantam komentar, hingga penghakiman massal. Situasi ini tanpa sadar membuat masyarakat digital gampang stres. Kita jadi lebih sensitif dan mudah tersinggung pada hal-hal sepele. Seperti cerita Vito, ada orang yang bisa begitu murka hanya gara-gara postingannya di grup WA tidak direspons sama sekali.
Secara neurosains, fenomena ini sangat masuk akal. Ketika seseorang menebar pesan lalu diabaikan (social rejection), bagian otak bernama anterior cingulate cortex, area yang memproses rasa sakit fisik, langsung menyala. Otak membaca pengabaian itu sebagai rasa sakit nyata! Tak heran jika seseorang bisa merasa terluka atau marah hanya karena pesannya dicuekin di grup WA.
Sebaliknya, ketika kita menerima respons positif atau pujian sederhana, otak kita seketika memicu pelepasan dopamin dan endorfin. Dopamin memberi sinyal penghargaan (reward system) dan memicu rasa dihargai, sementara endorfin menenangkan sistem saraf dan mengikis stres.
Artinya, satu kata respons positif dari Vito tidak sekadar menjadi teks biasa di layar HP. Secara biologis, kata-kata itu bekerja bak suplemen kimiawi yang meredakan rasa sakit dan menyuntikkan kebahagiaan di otak si penerima.
Iklim ruang digital memang sering mengikis kedamaian hati. Kita jadi haus akan kata-kata positif, rindu konten bermanfaat, dan dahaga akan apresiasi sederhana.
Gara-gara pemahaman ini, sekarang saya lebih memperhatikan dan mengamati semua group WA yang saya ikuti. Saya berusaha mencari, adakah orang yang selalu rajin berderma kata seperti yang dilakukan oleh Vito. Dan alhamdulillahnya ternyata ada.
Di group WA The Writers, ada seorang member yang namanya Meta Tangkudung. Seperti Vito, dia rajin merespons semua postingan yang datang ke group. Bahkan di website The Writers, Meta ini selalu rajin ngasih komen di setiap artikel yang ada di sana. Pesannya selalu positif. Pastinya komentar Meta sangat berarti buat si penulis artikel.
Tapi kalo cuma Vito dan Meta yang berderma kata, rasanya terlalu sedikit. Gaungnya pasti kurang kenceng.
So, guys, bagaimana kalo ‘berderma kata’ ini kita jadikan movement Satupena? Sudah terlalu banyak energi negatif yang mengelilingi kita di media sosial. Rasanya kita perlu saling memberikan apresiasi positif untuk mengimbangi kebisingan itu. Yuk, ah…
OmBud - The Storyteller ***