John Galliano Batalkan Pameran Met: Kontroversi Met Gala dan Antisemitisme

The New York Times

The New York Times

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – John Galliano mundur dari rencana pameran kehormatan di Metropolitan Museum of Art (Met) setelah gelombang penolakan terkait rekam jejak antisemitisme. Dalam pernyataan di Instagram, ia menulis pameran itu “sebaiknya tidak berlangsung saat ini” karena tak ingin menyeret Met dan menyakiti pihak yang terdampak.

Keputusan ini muncul ketika Met bersiap menggelar pameran sembilan bulan yang semula dijadwalkan dibuka lewat Met Gala tahun depan. Met Gala selama ini menjadi malam pembukaan pameran musim semi Costume Institute, sekaligus mesin penggalangan dana bernilai puluhan juta dolar tiap tahun.

Kontroversi memuncak karena Galliano pernah divonis pengadilan Prancis pada 2011 atas kejahatan kebencian antisemit. Pada periode yang sama, video beredar memperlihatkan ia berkata “I love Hitler” dan menyebut orang-orang akan “digas,” yang kemudian membuatnya dipecat dari posisi direktur kreatif Dior.

Met mengonfirmasi pembatalan melalui direktur Max Hollein yang menyatakan keputusan diambil bersama Galliano. Museum juga mengatakan informasi pameran Costume Institute musim semi dan Met Gala 2027 akan diumumkan kemudian.

Kasus ini memperlihatkan bagaimana institusi budaya kini dinilai bukan hanya dari kualitas kurasi, tetapi dari etika simbolik yang dipancarkan. Pameran tunggal untuk desainer hidup di Costume Institute sangat langka, sehingga penghormatan semacam itu mudah dibaca sebagai bentuk “pengudusan” reputasi.

Risiko reputasi Met membesar karena Met Gala adalah panggung global yang sering disebut “Super Bowl of glamour.” Saat karpet merah menjadi pusat atensi, pesan kuratorial bisa kalah oleh persepsi publik bahwa museum memutihkan masa lalu seorang figur kontroversial.

Tekanan datang dari kombinasi donor, pemimpin komunitas Yahudi, dan politisi, yang membuat isu kuratorial berubah menjadi isu tata kelola. Julie Menin, Ketua Dewan Kota New York, menyebut rencana pameran itu “pukulan telak” bagi komunitas Yahudi yang “sudah terpukul,” sementara Brad Lander menilai rencana itu “kesalahan besar” dan meminta honoree diganti.

Donor juga menekan dari sisi legitimasi internal, bukan sekadar opini publik. Alice Tisch menulis kepada Hollein bahwa pameran itu menunjukkan “kegagalan tata kelola” dan berpotensi menjadi “whitewash,” sebuah kata yang menuduh museum menghapus noda sejarah demi kemilau acara.

Situasi Met unik karena ia beroperasi di properti milik kota dan menerima dukungan tahunan jutaan dolar dari New York City Department of Cultural Affairs. Keterikatan ini membuat keputusan Met tak bisa sepenuhnya dianggap urusan privat, karena ada dimensi akuntabilitas publik yang melekat.

Di sisi lain, Met dan lingkaran pendukungnya sempat mencoba membangun narasi pertobatan dan rehabilitasi. Galliano setelah rehabilitasi kembali memimpin Maison Margiela pada 2014, dan disebut telah berdialog dengan rabi serta tokoh Anti-Defamation League, yang bagi sebagian pemimpin Yahudi dianggap cukup menunjukkan penyesalan.

Namun, kritik utama bukan sekadar apakah seseorang bisa bertobat, melainkan kapan dan dalam bentuk apa institusi memberi panggung kehormatan. Micah Lasher menegaskan ini “bukan isu kebebasan berekspresi,” melainkan “isu penilaian,” karena penghormatan institusional dapat berujung pada normalisasi antisemitisme di tengah tren kebencian yang meningkat.

Peran ekosistem mode-media juga menambah kompleksitas, terutama karena Anna Wintour adalah trustee Met sekaligus penggerak Met Gala sejak 1999. Condé Nast menjadi sponsor rutin, bahkan ruang galeri Costume Institute kini bernama Condé M. Nast Galleries, sehingga keputusan kuratorial berada dalam sorotan relasi kekuasaan, jejaring selebritas, dan kepentingan brand.

Pembatalan ini tampak seperti langkah pencegahan krisis yang terlambat, tetapi tetap perlu untuk memutus spiral kerusakan reputasi. Met bukan sekadar ruang pamer, melainkan institusi yang memproduksi makna sosial, dan makna “menghormati” tidak bisa dipisahkan dari konteks politik kebencian.

Masalah paling tajam bukan pada karya Galliano semata, melainkan pada mekanisme seleksi kehormatan yang terlihat rapuh di hadapan tekanan publik. Ketika seorang donor menyebutnya “kegagalan tata kelola,” itu sinyal bahwa proses due diligence etis dan manajemen pemangku kepentingan tidak berjalan seketat standar kuratorialnya.

Ada pelajaran tentang perbedaan antara rehabilitasi personal dan rehabilitasi institusional. Seseorang bisa berubah, tetapi museum perlu memastikan panggung kehormatan tidak mengorbankan rasa aman simbolik kelompok yang pernah diserang, apalagi ketika antisemitisme global sedang naik.

Met memilih mundur selangkah agar tidak menjadikan Met Gala sebagai altar pemutihan masa lalu, dan Galliano memilih keluar agar museum tidak terperangkap dalam debat yang menggerus misi Costume Institute. Keputusan ini menegaskan bahwa di era keterbukaan, reputasi dibangun bukan hanya oleh estetika, tetapi oleh keberanian membaca luka sejarah.

Pertanyaannya kini bergeser: bagaimana museum besar menetapkan batas antara apresiasi karya dan pemberian kehormatan, terutama ketika dana, sponsor, dan selebritas ikut membentuk arah narasi. Jika institusi budaya ingin tetap dipercaya, mereka harus menganggap etika sebagai bagian dari kurasi, bukan catatan kaki setelah badai datang.

(Orbit dari berbagai sumber, 3 September 2026)