Originalisme Mahkamah Agung AS dan Polemik Birthright Citizenship
ORBITINDONESIA.COM – Perdebatan birthright citizenship di Mahkamah Agung AS memecah kubu konservatif 5-4, meski teks Amandemen ke-14 terdengar gamblang. Ketika imigrasi ilegal melonjak, para hakim yang mengaku setia pada “teks dan sejarah” justru beradu tafsir tentang apakah Konstitusi harus menyesuaikan “situasi modern” atau tetap terpaku pada makna 1868.
Artikel sumber menyoroti klaim para hakim konservatif bahwa mereka memutus perkara berdasar kata-kata Konstitusi dan sejarah aslinya, bukan preferensi politik. Pendekatan ini sering dikontraskan dengan gagasan “living Constitution” yang dinilai lebih lentur terhadap perubahan zaman.
Namun tahun ini terjadi “pembalikan” dalam isu kewarganegaraan berdasarkan kelahiran, atau birthright citizenship. Sejumlah konservatif terkemuka sejalan dengan Donald Trump bahwa lonjakan imigrasi ilegal layak memicu peninjauan ulang janji kewarganegaraan lahir dalam Amandemen ke-14.
Teks pembuka Amandemen ke-14 (1868) menyatakan, “Semua orang yang lahir atau dinaturalisasi di Amerika Serikat, dan tunduk pada yurisdiksinya, adalah warga negara Amerika Serikat.” Ketua Mahkamah John G. Roberts Jr. menegaskan kata-kata itu jelas dan dipahami jelas pada masanya.
Terjemahan akurat artikel sumber: Hakim Brett M. Kavanaugh mengatakan Konstitusi harus menyesuaikan “situasi modern yang tidak diketahui atau tidak diantisipasi” para perumusnya. Roberts menolak “pandangan revisionis dramatis” yang belakangan dikutip untuk membatasi kewarganegaraan lahir.
Terjemahan akurat artikel sumber: Hakim Samuel A. Alito Jr. dalam dissent menulis “jumlah imigran ilegal di negara ini meledak” dalam beberapa tahun terakhir. Ia menyebut aturan kewarganegaraan lahir memberi “insentif kuat untuk masuk atau tetap berada di negara ini secara ilegal.”
Terjemahan akurat artikel sumber: Kavanaugh setuju imigrasi ilegal skala besar adalah keadaan baru yang “sebagian besar tidak dikenal pada 1868.” Ia tetap memilih memblokir perintah eksekutif Trump karena Kongres telah mengadopsi birthright citizenship dalam undang-undang 1952.
Di sini terlihat simpul penting: perdebatan bukan sekadar teks Amandemen ke-14, tetapi juga relasi cabang kekuasaan. Kavanaugh membuka pintu perubahan lewat legislatif, dengan kalimat bahwa Kongres “dapat memberlakukan undang-undang baru yang menetapkan pengecualian” terhadap kewarganegaraan lahir.
Terjemahan akurat artikel sumber: Hanya Amy Coney Barrett dari kubu originalis konservatif yang menandatangani opini mayoritas Roberts bersama tiga hakim liberal. Perpecahan ini mengejutkan komentator, karena preseden Wong Kim Ark (1898) telah meneguhkan kewarganegaraan lahir bagi anak yang lahir di AS dari orang tua warga asing.
Terjemahan akurat artikel sumber: Clarence Thomas dan Alito menulis dissent panjang bahwa para perumus Amandemen ke-14 tidak atau tidak akan mendukung birthright citizenship seluas pemahaman sekarang. Thomas mengusulkan status anak bergantung pada apakah orang tuanya “berdomisili” di AS, dan Neil Gorsuch mempertanyakan kewarganegaraan bagi bayi dari pengunjung sementara.
Data konteks yang relevan: Amandemen ke-14 lahir pasca-Perang Saudara untuk menegaskan kewarganegaraan, terutama bagi orang kulit hitam yang sebelumnya diperbudak, setelah putusan Dred Scott (1857) menolak kewarganegaraan bagi mereka. Pada 1898, Wong Kim Ark mengunci prinsip jus soli, dan pada 1952 Kongres mengkodifikasinya dalam hukum imigrasi modern.
Terjemahan akurat artikel sumber: Profesor Melissa Murray (NYU) mengira hasilnya akan 7-2 karena bahasa amandemen “begitu jelas,” tetapi ia “tercengang” melihat 5-4 dan menyimpulkan debat belum selesai. Sarah Isgur menilai “originalisme makin keruh,” karena publik sulit membedakan kapan sejarah menentukan dan kapan keadaan baru mengubah hasil.
Terjemahan akurat artikel sumber: Akhil Amar dari Yale menegaskan sejarah birthright citizenship “jelas” dan tidak layak dibaca secara revisionis. Ia menulis, ketika bayi lahir di tanah Amerika dan bendera Amerika berkibar, bayi itu warga negara sejak lahir, dan aturan ini “hampir tidak ada hubungannya dengan orang tua bayi.”
Bagian akhir artikel mengaitkan pola ini dengan perkara Amandemen ke-2 tentang senjata “assault weapons” seperti AR-15 yang akan diperdebatkan. Pertanyaannya sama: apakah sejarah 1791 cukup untuk menilai ancaman modern, ataukah perubahan teknologi memaksa pembacaan baru.
Isu birthright citizenship menunjukkan originalisme sering tampil sebagai bendera, bukan peta yang konsisten. Ketika hasil politik yang diinginkan selaras dengan teks, teks disebut “jelas,” tetapi ketika realitas sosial berubah, muncul dalih “situasi modern” yang menggeser titik berat.
Roberts memosisikan diri sebagai penjaga stabilitas institusional, dengan menahan tafsir liar yang bisa mengguncang kepastian hukum. Ia menegaskan bahasa Amandemen ke-14 dipahami jelas pada 1868, sehingga pengadilan tidak perlu menciptakan syarat baru yang tidak tertulis.
Kavanaugh mengambil jalur kompromi yang tampak prosedural tetapi tetap politis: pengadilan menahan Trump, namun memberi sinyal Kongres bisa mengukir pengecualian. Ini memindahkan pertempuran dari ruang sidang ke arena legislatif, tempat mayoritas politik dapat mengubah definisi “tunduk pada yurisdiksi.”
Dissent Thomas-Alito menguji batas kata “jurisdiction” dengan konsep “domicile,” tetapi risikonya besar: lahir di tanah AS menjadi tidak lagi cukup. Jika itu terjadi, Amerika bergerak dari prinsip jus soli menuju model yang lebih mendekati jus sanguinis, yang biasanya mengikat kewarganegaraan pada darah dan status orang tua.
Dalam kacamata jurnalistik, yang paling mencolok adalah jarak antara retorika dan praktik. Originalisme dijanjikan sebagai rem agar hakim tidak “mengubah Konstitusi,” namun justru dipakai untuk membuka kemungkinan perubahan besar yang sebelumnya dianggap settled law.
Birthright citizenship bukan hanya soal imigrasi, tetapi soal definisi komunitas politik: siapa yang “dianggap milik” sejak detik pertama hidupnya. Putusan yang tetap memblokir perintah Trump memberi kemenangan bagi makna tekstual Amandemen ke-14, tetapi selisih 5-4 adalah alarm bahwa kepastian itu rapuh.
Jika perdebatan ini berlanjut ke Kongres, pertarungan akan berubah menjadi uji moral dan identitas nasional, bukan sekadar teknik hukum. Pada akhirnya, pertanyaan yang tersisa sederhana namun menggigit: apakah Konstitusi menjadi perisai bagi yang lahir di bawah bendera, atau menjadi palang yang ditentukan oleh status orang tuanya. (Orbit dari berbagai sumber, 20 Juli 2026)