Gencatan Dagang AS-China Retak: Tarif, Rare Earth, dan AI

The New York Times

The New York Times

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Gencatan dagang AS-China kembali jadi kata kunci, tetapi di balik jamuan kenegaraan yang hangat, kedua negara saling “menendang di bawah meja”. Washington menuding Beijing menahan pasokan mineral kritis dan tak menepati pembelian pertanian, sementara Beijing membalas lewat aturan dan sanksi yang menjerat perusahaan global.

Setahun lalu, Amerika Serikat dan China mencapai gencatan dagang di Korea Selatan untuk mencegah hubungan ekonomi mereka lepas kendali. Kesepakatan itu membuat Presiden Donald Trump menarik sebagian tarif yang menghukum ekspor China, dan China berjanji menjaga ekspor mineral penting yang sempat diputus sebagai balasan atas tarif.

Menjelang kunjungan Xi Jinping ke Washington pekan ini, para perunding terlihat menyiapkan perpanjangan kesepakatan tersebut. Pada Minggu malam, pejabat AS mengatakan mereka akan membahas dialog kecerdasan buatan serta mendorong perdagangan barang “tidak sensitif” seperti energi dan produk konsumen.

Namun, stabilitas yang tampak itu rapuh, karena kedua pihak terus mengambil langkah balasan yang nyaris mengganggu gencatan. Kedua negara saling menuduh melanggar janji yang dibuat Oktober lalu di Korea Selatan.

Pejabat AS menyebut ekspor banyak mineral untuk mobil, semikonduktor, dan perkakas listrik masih terlalu dibatasi, sehingga perusahaan khawatir pada kepastian pasokan. Mereka juga menilai pembelian produk pertanian AS oleh China tertinggal dari target yang dijanjikan.

Kekhawatiran lain muncul sejak Maret, ketika Dewan Negara China mengeluarkan serangkaian dekret yang memperluas kuasa pemerintah atas perusahaan global yang beroperasi di China. Aturan itu membatasi audit rantai pasok tanpa izin, padahal audit diperlukan untuk mematuhi hukum AS terkait kerja paksa.

Aturan China juga menghukum perusahaan yang mematuhi sanksi asing terhadap entitas China, sekaligus memperketat pengawasan investasi keluar dan ekspor mineral. Dampaknya, pertanyaan besarnya bukan hanya soal tarif, melainkan seberapa jauh Beijing akan mengarahkan perilaku bisnis global.

Di sisi lain, Amerika Serikat terus menutup pintu bagi lebih banyak teknologi China, dari router hingga robot humanoid. AS bahkan menuduh China menyalin model AI Amerika lewat praktik yang disebut “industrial distillation”.

Pada Juni, AS memasukkan sejumlah perusahaan besar China ke daftar perusahaan militer China. Pada Juli, pemerintahan Trump menambahkan puluhan perusahaan China ke daftar hitam perdagangan terkait kerja paksa.

China merespons dengan menjatuhkan sanksi pada tujuh perusahaan AS yang membantu verifikasi dan pemetaan rantai pasok, termasuk pengujian kapas dari Xinjiang. Kapas Xinjiang dilarang masuk AS karena kekhawatiran kerja paksa, sehingga perusahaan multinasional terjepit antara kepatuhan hukum AS dan risiko dihukum di China.

Sejumlah pengamat menilai langkah-langkah itu sengaja dikalibrasi agar tidak memicu kemarahan Trump dan tidak merusak “hubungan di puncak”. Namun bagi perusahaan, kerusakannya nyata, karena biaya kepatuhan meningkat dan keputusan investasi menjadi penuh ketidakpastian.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent, yang memimpin negosiasi, menyebut relasi itu seperti “pertandingan polo air”: di permukaan para pemimpin mengoper bola, tetapi di bawah air terjadi “tendangan”. Ia menambahkan, jika perlu, AS akan “menendang balik”, menandai bahwa gencatan ini bukan perdamaian, melainkan jeda dalam kompetisi.

Media pemerintah China Daily membalas metafora itu sebagai “pembalikan realitas”, dan menyebut AS sebagai pihak yang memulai “tendangan”. Perang narasi ini penting, karena masing-masing ingin terlihat sebagai pihak yang “menahan diri” di hadapan publik dan pelaku pasar.

Ryan Hass dari Brookings menilai masih ada ruang untuk “tendang-tendangan” di bawah meja, tetapi ada batas seberapa keras itu bisa terjadi. Menurutnya, “kesepakatan para gentleman” di Korea Selatan hanya memberi pagar untuk isu sangat sensitif seperti pembatasan teknologi, tarif, dan perilaku terkait Taiwan, tetapi tidak membatasi aksi di bidang lain.

Mira Rapp-Hooper, juga di Brookings, menyebut beberapa bulan terakhir sebagai fase “uji dan probing” oleh kedua pihak untuk mengetahui seberapa jauh mereka bisa bersaing tanpa merusak rekonsiliasi tingkat pemimpin. Ia menilai pengaturan ini sangat unik, dan tak ada yang bisa memprediksi dengan pasti berapa lama ia bertahan.

Pekan ini, kedua pihak diperkirakan mengejar pengumuman positif. AS mendorong China memenuhi janji membeli produk pertanian dan pesawat Boeing, sementara kedua negara disebut tertarik membentuk “dewan perdagangan” yang bisa menurunkan tarif atas barang senilai sekitar US$30 miliar di masing-masing sisi.

Isu lain ikut mengintai, mulai dari keselamatan AI hingga perang di Iran, serta kemungkinan pembahasan Taiwan dan investasi China di AS. Tetapi banyak analis percaya tujuan paling besar adalah memastikan stabilitas dasar tetap terjaga, agar eskalasi tidak terjadi karena salah tafsir.

China mendorong perpanjangan gencatan yang lebih panjang, karena kesepakatan saat ini berakhir pada November. Namun AS disebut hanya mengusulkan perpanjangan enam bulan, agar negosiasi tetap “terikat” dan memberi ruang menekan China secara berkala.

Seorang pejabat administrasi AS pada Jumat menolak memastikan perpanjangan, tetapi mengakui isu rare earth dan mineral kritis akan dibahas. Pejabat itu juga menyebut keselamatan AI dan peran China dalam krisis fentanyl AS masuk agenda, menandakan paket isu melebar dari perdagangan murni.

Dalam wawancara Financial Times pada Minggu, pejabat AS menekankan gencatan secara resmi baru berakhir pada 30 November, sehingga tidak mendesak diperpanjang segera. Pernyataan ini memberi sinyal taktik: menahan kepastian untuk menjaga daya tawar.

Sara Schuman dari Beacon Global Strategies menilai China ingin perpanjangan selama mungkin, sedangkan AS menginginkan negosiasi ulang lebih sering agar bisa menagih komitmen yang belum dipenuhi. Ia mengatakan China saat ini “nyaris lolos” dalam komitmen mineral kritis dan rare earth, sehingga penawaran Beijing di pertemuan ini akan berkorelasi langsung dengan lama perpanjangan.

Geoffrey Gertz dari Center for a New American Security memperingatkan risiko “nyata” bahwa salah satu pihak tanpa sengaja melampaui garis merah pihak lain. Dalam hubungan yang penuh aturan saling menghukum, salah hitung dan salah persepsi bukan kemungkinan kecil, melainkan probabilitas yang menumpuk dari waktu ke waktu.

Gencatan dagang AS-China hari ini lebih mirip manajemen krisis daripada rekonsiliasi, karena kedua negara tetap memelihara instrumen tekanan sambil menjaga panggung diplomatik. Keakraban Trump dan Xi, jika benar ada, hanya menahan ledakan, bukan menyelesaikan sumber api.

Yang paling rentan adalah sektor yang menjadi “urat nadi” industri modern: mineral kritis, semikonduktor, dan AI. Ketika audit rantai pasok dipersempit oleh China dan pembatasan teknologi diperketat oleh AS, perusahaan global dipaksa memilih kepatuhan yang mana, dan pilihan itu selalu punya harga politik.

Dalam situasi seperti ini, stabilitas bukan berarti hubungan membaik, melainkan kedua pihak sepakat menunda benturan besar. Tetapi menunda tanpa memperbaiki mekanisme kepercayaan membuat setiap kebijakan baru berpotensi menjadi pemantik, terutama ketika definisi “barang sensitif” dan “keamanan nasional” terus melebar.

Di titik ini, publik sering terjebak pada foto-foto jamuan dan pernyataan bersama, padahal keputusan sebenarnya terjadi lewat daftar hitam, aturan audit, dan sanksi perusahaan. Jika “tendang di bawah meja” menjadi norma, maka meja itu sendiri suatu saat bisa terbalik.

Pertemuan Trump-Xi pekan ini boleh jadi menghasilkan dialog AI dan janji perdagangan barang nonsensitif, bahkan mungkin membuka jalan menurunkan sebagian tarif. Namun ujian sesungguhnya adalah apakah kedua pihak bisa menghentikan spiral balasan di mineral kritis, teknologi, dan kepatuhan rantai pasok.

Gencatan yang bertahan karena kalkulasi politik jangka pendek akan selalu rapuh ketika ekonomi global menuntut kepastian jangka panjang. Pertanyaannya, apakah Washington dan Beijing ingin membangun pagar yang lebih jelas, atau justru nyaman hidup dalam ketegangan terukur yang sewaktu-waktu berubah menjadi salah langkah fatal.

(Orbit dari berbagai sumber, 23 September 2026)