FRB Terjauh 20240304B: Fast Radio Burst dari Kosmik Noon
ORBITINDONESIA.COM – Fast radio burst (FRB) kembali mengguncang astronomi setelah para peneliti melaporkan FRB terjauh yang pernah terdeteksi, FRB 20240304B. Sinyal ini hanya bertahan seper-seribu detik, tetapi menempuh sekitar 80 persen sejarah Alam Semesta sebelum mencapai Bumi.
Temuan ini bukan sekadar rekor jarak, melainkan petunjuk keras tentang asal-usul FRB yang masih misterius sejak pertama kali ditemukan pada 2007. Penelitian kolaboratif internasional ini dipublikasikan di jurnal Science.
Terkadang teleskop radio menangkap sinyal aneh dari luar angkasa yang datang sekejap lalu lenyap. Fenomena itu disebut fast radio bursts, kilatan gelombang radio yang biasanya berlangsung pecahan detik.
Masalahnya, FRB muncul acak di langit dan cepat menghilang, sehingga sulit dilacak sumbernya. Hampir dua dekade, astronom hanya bisa mengumpulkan fragmen bukti tanpa jawaban final.
Manisha Caleb, astronom radio dan astrofisikawan dari University of Sydney, menegaskan kebuntuan itu. “Yang membuat fast radio bursts menarik adalah kita tidak tahu apa yang menghasilkannya,” ujarnya, seraya mengakui teori ada, tetapi bukti konklusif belum ada.
FRB 20240304B dilaporkan sebagai FRB paling jauh, dengan energi purba yang dilepaskan dalam 0,001 detik. Sinyal itu melintas melewati sebagian besar umur kosmos hingga tertangkap instrumen modern.
FRB ini terdeteksi pada Maret 2024 menggunakan MeerKAT, teleskop radio 64 antena di Afrika Selatan. Setelah itu, tim mengarahkan dua teleskop darat ultra-sensitif ke lokasi yang sama dan mendapati “kegelapan”, karena galaksi inangnya belum terlihat.
J. Xavier Prochaska dari University of California, Santa Cruz, menggambarkan momen itu dengan lugas. “Kami melihat sedalam mungkin, tetapi memang tidak ada yang bisa dilihat,” katanya, sebelum tim memanggil JWST yang unggul di inframerah.
JWST justru mengungkap kejutan: galaksi inangnya bukan raksasa yang mapan, melainkan galaksi katai yang aktif membentuk bintang. Caleb menyebut ekspektasi mereka meleset, karena yang ditemukan “galaksi katai kecil, meski sedang aktif membentuk bintang.”
Secara massa, galaksi katai ini disebut 1.000 kali lebih ringan dari perkiraan awal. Lebih ekstrem lagi, sekitar 90 persen massa bintangnya terbentuk hanya dalam 30 juta tahun terakhir, menandakan galaksi yang sangat muda.
Konteks kosmiknya juga penting karena FRB ini berasal dari era “cosmic noon”, sekitar 3 miliar tahun setelah Dentuman Besar ketika pembentukan bintang mencapai puncak. Itu berarti FRB bukan hanya fenomena “kosmos modern”, melainkan sudah hadir saat alam semesta sedang produktif-produktifnya melahirkan bintang.
Soal sumber, magnetar menjadi kandidat kuat karena cocok dengan galaksi muda dan metal-poor yang cenderung melahirkan bintang masif. Magnetar adalah jenis bintang neutron dengan medan magnet paling kuat di alam semesta, yang bisa terbentuk dan melepaskan energi dalam skala jutaan tahun.
Skenario lain yang populer adalah tabrakan dua bintang neutron yang menghasilkan lubang hitam atau bintang neutron supermasif, sekaligus memproduksi unsur berat seperti emas. Namun pasangan bintang neutron biasanya “menari” miliaran tahun sebelum bertabrakan, sehingga tidak selaras dengan usia galaksi inang yang sangat muda.
Prochaska menambahkan dimensi metodologis yang sering luput dari publik. “Kami para pengamat hanya bisa membunuh model, tidak pernah membuktikannya,” ujarnya, sambil menekankan bahwa hampir 100 model telah diajukan karena energi FRB “moderat” dibanding supernova atau semburan gamma.
FRB juga berfungsi sebagai alat ukur kosmik karena sinyalnya berubah saat melewati medium antar-galaksi. Ketika FRB melintasi gas dingin terionisasi, gelombang berfrekuensi rendah melambat lebih besar daripada yang tinggi, sehingga tiba lebih belakangan.
Gas turbulen, kemungkinan besar di galaksi inangnya, juga mengaburkan sinyal hingga melebar beberapa milidetik. Distorsi ini justru berguna karena memberi “sidik jari” struktur kosmik yang dilewati sinyal tersebut.
Dalam perjalanan, FRB 20240304B membantu mengungkap kelompok galaksi tak dikenal pada jarak sekitar 3,5 miliar tahun cahaya. Sinyal itu juga membawa jejak ionik dari Virgo Cluster, struktur besar terdekat dari Bumi pada jarak sekitar 54 juta tahun cahaya.
Nilai tambahnya bersifat statistik, karena hanya sekitar 100 FRB yang galaksi inangnya telah terkonfirmasi. Kebanyakan FRB yang terpetakan juga relatif lebih “lokal” dibanding temuan ini, sehingga FRB 20240304B memperluas peta FRB ke masa kosmik yang jauh lebih awal.
Temuan FRB terjauh ini memaksa kita mengubah cara memandang FRB dari sekadar “anomali radio” menjadi instrumen kosmologi. Ketika sinyal seper-seribu detik dapat memetakan gas terionisasi dan struktur besar, FRB berubah fungsi menjadi semacam senter untuk menembus kabut alam semesta.
Namun euforia rekor jarak juga mengandung jebakan narasi, karena publik mudah terdorong ke jawaban tunggal seperti magnetar. Prochaska mengingatkan bahwa sains observasional bekerja dengan eliminasi, dan semakin banyak model, semakin panjang jalan menuju kepastian.
Justru di sinilah pelajaran pentingnya: ketidaktahuan bukan kelemahan, melainkan mesin pendorong riset. “Karena pemahaman kami tentang apa yang menghasilkan FRB masih minim, kami hanya bisa berharap mereka ada pada masa sedini itu,” kata Prochaska, dan kini harapan itu berubah menjadi bukti.
FRB 20240304B menunjukkan bahwa fast radio burst sudah terjadi sejak era “cosmic noon”, dan mungkin terkait kuat dengan kelahiran magnetar di galaksi muda. Ia juga membuktikan bahwa sinyal singkat dapat membawa informasi tentang medium kosmik, dari kelompok galaksi jauh hingga Virgo Cluster yang dekat.
Tetapi teka-teki besarnya tetap utuh: apakah FRB adalah satu keluarga fenomena, atau banyak mekanisme berbeda yang kebetulan menghasilkan kilatan radio serupa. Jika satu sinyal mampu menembus 80 persen sejarah alam semesta, pertanyaannya kini bergeser: berapa banyak rahasia kosmos lain yang menunggu ditemukan, hanya karena kita belum menatap cukup jauh dan cukup lama. (Orbit dari berbagai sumber, 15 Oktober 2026)