Anti-Zionism: A Jewish History - Ketika Orang Yahudi Menentang Zionisme

Benjamin Moser memenangkan Pulitzer Prize 2020.

Benjamin Moser memenangkan Pulitzer Prize 2020.

Review Buku

Benjamin Moser. Anti-Zionism: A Jewish History. Penerbit: Doubleday, 2026 Tebal: 400 halaman. Genre: Sejarah, politik, dan pemikiran Yahudi.

ORBITINDONESIA.COM - Buku ini membongkar anggapan bahwa menjadi Yahudi berarti harus mendukung Zionisme. Melalui kisah para rabi, intelektual, penulis, dan aktivis Yahudi, Benjamin Moser menghidupkan kembali tradisi perlawanan yang lama terpinggirkan. Namun, keberanian moral buku ini juga menyisakan pertanyaan tentang kompleksitas sejarah dan masa depan Israel–Palestina.

Ada satu anggapan yang kerap muncul dalam perdebatan tentang Israel dan Palestina: bahwa penolakan terhadap Zionisme merupakan sikap yang terutama datang dari orang Palestina, dunia Arab, atau kelompok yang memusuhi Yahudi. Benjamin Moser menantang anggapan tersebut melalui bukunya Anti-Zionism: A Jewish History.

Argumen pokoknya sederhana, tetapi konsekuensinya besar: orang Yahudi dan kaum Zionis bukanlah dua istilah yang dapat dipertukarkan. Identitas Yahudi memiliki sejarah keagamaan, kebudayaan, dan pemikiran yang jauh lebih panjang daripada Zionisme politik modern.

Tidak semua orang Yahudi mendukung pendirian negara berdasarkan nasionalisme Yahudi, dan tidak semua orang Yahudi memandang proyek tersebut sebagai jawaban atas persoalan keselamatan komunitas mereka.

Moser mengangkat tradisi perlawanan itu melalui dua belas potret tokoh Yahudi, dari berbagai latar geografis dan ideologis. Di antara mereka terdapat rabi Aaron Samuel Tamares, filsuf Hannah Arendt, sejarawan Avi Shlaim, dan pengacara serta aktivis Felicia Langer.

Kisah-kisah mereka memperlihatkan bahwa kritik terhadap Zionisme bukanlah fenomena baru yang lahir sebagai reaksi terhadap konflik Israel–Palestina belakangan ini. Perdebatan tersebut telah berlangsung sejak gerakan Zionisme modern berkembang pada akhir abad ke-19.

Ketika nasionalisme dipertanyakan atas nama agama dan kemanusiaan

Salah satu kekuatan buku ini terletak pada keragaman alasan para tokohnya menolak Zionisme. Penolakan mereka tidak selalu bersumber dari pemikiran yang sama.

Bagi rabi Aaron Samuel Tamares, nasionalisme sekuler menimbulkan persoalan mendasar bagi tradisi moral Yahudi. Ia mempertanyakan gagasan bahwa keselamatan orang Yahudi harus diwujudkan melalui kekuasaan politik dan kedaulatan nasional. Dalam pandangan semacam ini, kekuatan suatu bangsa tidak otomatis menjamin keunggulan moralnya.

Tokoh lain menentang Zionisme karena alasan politik dan kemanusiaan. Mereka khawatir proyek nasional yang dibangun untuk satu kelompok akan mengabaikan hak kelompok lain yang telah hidup di wilayah tersebut. Kekhawatiran ini memperoleh arti nyata ketika pendirian Israel pada 1948 disertai pengungsian massal warga Palestina, yang oleh orang Palestina dikenal sebagai Nakba.

Moser juga menampilkan pengalaman orang-orang Yahudi yang menghadapi tekanan, kecaman, bahkan kekerasan akibat sikap anti-Zionis mereka. Aktivis Jacob Israël de Haan, misalnya, dibunuh di Yerusalem pada 1924 setelah berselisih dengan kalangan Zionis.

Hannah Arendt menghadapi kecaman keras setelah menerbitkan analisisnya tentang Adolf Eichmann dan pengadilan kejahatan Nazi. Meski latar belakang kedua kasus berbeda, kisah-kisah tersebut memperlihatkan bahwa perbedaan pendapat mengenai Zionisme pernah membawa konsekuensi serius di lingkungan Yahudi sendiri.

Dengan menghadirkan tokoh-tokoh tersebut, Moser tidak sekadar menyusun daftar orang Yahudi yang menolak Zionisme. Ia berusaha menunjukkan bahwa kritik terhadap nasionalisme Yahudi memiliki akar dalam perdebatan internal mengenai agama, identitas, etika, dan hubungan dengan bangsa lain.

Apakah anti-Zionisme berarti antisemitisme?

Inilah salah satu persoalan paling sensitif yang hendak dibongkar buku ini. Dalam perdebatan kontemporer, kritik terhadap Zionisme atau kebijakan Israel kerap dituduh sebagai kebencian terhadap orang Yahudi. Moser menolak penyamaan otomatis tersebut.

Argumennya patut diperhatikan. Orang Yahudi bukan kelompok yang memiliki satu pandangan politik. Menganggap seluruh orang Yahudi harus mendukung Zionisme sama kelirunya dengan menganggap mereka semua bertanggung jawab atas tindakan pemerintah Israel.

Namun, pembedaan itu tidak berarti setiap pernyataan anti-Zionis dengan sendirinya bebas dari antisemitisme. Kritik terhadap nasionalisme atau kebijakan negara harus dinilai berdasarkan isi, konteks, dan cara penyampaiannya. Jika kritik berubah menjadi kebencian terhadap orang Yahudi sebagai kelompok, penggunaan stereotip, atau tuduhan kolektif terhadap seluruh komunitas, persoalannya berbeda.

Karena itu, sumbangan penting Moser bukanlah membuktikan bahwa semua anti-Zionisme benar, melainkan memperlihatkan bahwa anti-Zionisme mempunyai sejarah dan keragaman pemikiran sendiri yang tidak bisa begitu saja disingkirkan dengan satu label.

Apakah Israel tidak berhak eksis?

Bagian paling kontroversial buku ini adalah penolakan Moser terhadap pertanyaan yang lazim diajukan dalam perdebatan Israel: apakah Israel memiliki hak untuk eksis?

Moser menggeser titik tolaknya. Menurutnya, hak yang paling mendasar melekat pada manusia, bukan pada negara sebagai entitas abstrak. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah orang Yahudi dan Palestina dapat hidup dengan hak, keamanan, dan martabat yang setara.

Dari sudut pandang ini, ia menolak anggapan bahwa keberadaan negara Israel dalam bentuk nasionalisme eksklusif merupakan satu-satunya jalan untuk menjamin keselamatan orang Yahudi.

Ia juga mengkritik Zionisme liberal dan kultural yang, menurutnya, berusaha mempertahankan gambaran Zionisme sebagai proyek pembebasan tanpa menghadapi sepenuhnya konsekuensi yang ditanggung warga Palestina.

Moser memandang sejarah pengusiran, pendudukan, dan ketimpangan hak sebagai persoalan mendasar, bukan sekadar penyimpangan yang dapat diselesaikan dengan memperbaiki kebijakan pemerintah.

Dalam wawancaranya, ia membayangkan masa depan ketika warga Yahudi dan Palestina dapat hidup berdampingan dengan hak yang setara. Namun, buku ini tidak menawarkan rancangan terperinci mengenai bagaimana bentuk negara, konstitusi, keamanan, dan mekanisme politik untuk mewujudkan masa depan itu.

Di sinilah pembaca perlu bersikap kritis. Menolak gagasan bahwa negara memiliki hak absolut untuk eksis tidak otomatis menyelesaikan persoalan keselamatan penduduknya. Apa pun bentuk penyelesaian politik yang dipilih, orang Yahudi Israel tidak boleh kehilangan hak hidup aman, sebagaimana rakyat Palestina tidak boleh terus hidup di bawah pendudukan atau sistem yang menyangkal kesetaraan mereka.

Buku penting, tetapi bukan kata akhir Sejarah

Anti-Zionism: A Jewish History memiliki keberanian intelektual untuk mengangkat kembali suara-suara yang kurang mendapat tempat dalam narasi dominan. Buku ini mengingatkan pembaca bahwa sejarah Yahudi tidak identik dengan sejarah Zionisme, dan bahwa solidaritas terhadap Palestina tidak harus berarti permusuhan terhadap orang Yahudi.

Meski demikian, pilihan dua belas tokoh membuat buku ini lebih tepat dibaca sebagai sejarah intelektual melalui potret biografis daripada sebagai sejarah Zionisme yang menyeluruh.

The New Yorker, misalnya, menilai bahwa Moser kadang memperlakukan Zionisme seolah-olah merupakan satu ideologi tunggal, padahal gerakan itu memiliki beragam aliran, tujuan, dan konteks sejarah. Kritik ini penting agar pembaca tidak mengganti satu penyederhanaan dengan penyederhanaan lainnya.

Pada akhirnya, kekuatan buku ini terletak pada pertanyaan yang diajukannya: apakah identitas suatu bangsa harus diwujudkan melalui negara nasional yang mengutamakan kelompok tersebut, dan apa yang terjadi ketika proyek itu berbenturan dengan hak bangsa lain?

Bagi pembaca Indonesia, pertanyaan itu relevan bukan hanya karena solidaritas terhadap Palestina, melainkan juga karena pengalaman hidup dalam masyarakat majemuk. Identitas agama, kebudayaan, dan kebangsaan tidak selalu harus dilebur menjadi satu proyek politik.

Buku Moser tidak mengakhiri perdebatan tentang Zionisme, apalagi menawarkan jawaban mudah bagi konflik Israel–Palestina. Namun, ia membuka ruang untuk memahami bahwa perlawanan terhadap Zionisme juga tumbuh dari dalam sejarah Yahudi sendiri. Dan mungkin, pelajaran terpentingnya adalah ini: membela hak suatu bangsa tidak seharusnya menuntut penghapusan hak bangsa lain.

Moser memenangkan Pulitzer Prize 2020 untuk biografinya tentang Susan Sontag, Sontag: Her Life and Work.

(Satrio Arismunandar)

WA: 081286299061 ***