Alasan Prabowo Prioritaskan Makan Bergizi Gratis dan Meja Makan Rakyat

Kompas.com

Kompas.com

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi prioritas nasional karena, menurut Presiden Prabowo Subianto, pembangunan harus diukur dari “meja makan keluarga-keluarga biasa”. Pernyataan itu ia sampaikan di Eastern Economic Forum (EEF) ke-11 di Vladivostok, Rusia, Kamis (3/9/2026), saat menjelaskan arah pembangunan ekonomi Indonesia.

Selama bertahun-tahun, indikator pembangunan kerap dibaca dari angka besar: pertumbuhan, investasi, dan proyek infrastruktur. Namun di banyak rumah tangga, ukuran “maju” justru terasa dari hal paling dasar: apakah makan bergizi bisa hadir setiap hari.

Prabowo menempatkan meja makan sebagai kompas moral kebijakan publik. Ia menyebut pembangunan tidak boleh “menguntungkan segelintir orang”, melainkan harus terlihat pada daya beli, akses pangan, dan kualitas hidup keluarga sederhana.

Dalam pidatonya, ia merinci ukuran yang sangat operasional: kemampuan membeli makanan bergizi, akses pupuk, harga jual hasil produksi yang adil, rumah layak, pekerjaan produktif untuk anak muda, hingga listrik yang menjangkau desa. Rangkaian ini menegaskan bahwa MBG bukan kebijakan berdiri sendiri, melainkan simpul dari ekosistem kesejahteraan.

Menjadikan MBG sebagai prioritas berarti negara memilih intervensi langsung pada konsumsi dan kesehatan, bukan hanya menunggu efek tetesan ekonomi. Logikanya sederhana: gizi memperbaiki kualitas belajar, memperkuat kesehatan, dan dalam jangka panjang menaikkan produktivitas tenaga kerja.

Di banyak negara, program makan sekolah dipakai sebagai alat memutus rantai kemiskinan antargenerasi. Studi World Food Programme (WFP) kerap menekankan bahwa makan sekolah dapat meningkatkan kehadiran dan konsentrasi, sekaligus menjadi jaring pengaman saat harga pangan naik.

Namun MBG juga memindahkan beban dari “niat baik” ke “kapasitas negara”. Skala nasional menuntut rantai pasok yang stabil, standar keamanan pangan, dan tata kelola anggaran yang rapi agar program tidak berubah menjadi kebocoran baru.

Prabowo mengaitkan MBG dengan swasembada pangan dan energi, serta percepatan hilirisasi industri. Ini memberi sinyal bahwa pemerintah ingin memastikan bahan baku, logistik, dan pembiayaan tidak rapuh saat terjadi guncangan global.

Di titik ini, MBG bisa menjadi pengungkit ekonomi lokal jika pengadaan menyerap produksi petani dan UMKM pangan secara adil. Tetapi efek itu hanya terjadi bila desainnya mencegah monopoli vendor, memastikan pembayaran cepat, dan menjaga kualitas menu.

Prabowo juga menekankan pemberantasan korupsi dan pengelolaan sumber daya nasional. Pernyataan ini relevan karena program berbasis pengadaan rentan “mark-up”, permainan kualitas, dan jaringan rente jika pengawasan lemah.

Meja makan sebagai indikator pembangunan adalah narasi yang kuat, karena mengembalikan politik ekonomi pada pengalaman sehari-hari rakyat. Bahasa ini mudah dipahami, dan secara komunikasi publik lebih membumi daripada jargon makroekonomi.

Tetapi narasi yang kuat harus bertemu dengan mekanisme yang kuat. Jika MBG dipromosikan sebagai simbol keadilan sosial, maka standar transparansi dan evaluasi harus lebih tinggi daripada program biasa.

Ukuran keberhasilan tidak cukup pada jumlah porsi yang dibagikan. Ukurannya harus menyentuh kualitas gizi, ketepatan sasaran, dampak pada kesehatan anak dan ibu hamil, serta efek pada ekonomi lokal.

Di sisi lain, Prabowo menyebut tiga filosofi ekonomi: realisme, pragmatisme, dan “kebaikan terbesar bagi sebanyak-banyaknya orang”. Kalimat ini menuntut konsistensi, karena pragmatisme tanpa pagar etika bisa berubah menjadi pembenaran kebijakan yang serba cepat tetapi kurang akuntabel.

Janji melindungi yang lemah juga mengandung konsekuensi politik: pemerintah harus berani menertibkan pasar yang timpang. Tanpa perbaikan tata niaga pangan, petani bisa tetap terjepit meski negara membiayai makan gratis.

MBG pada akhirnya adalah ujian kemampuan negara mengorkestrasi banyak sektor sekaligus. Ia menuntut disiplin fiskal, integritas birokrasi, dan keberanian memperbaiki data penerima agar bantuan tidak salah alamat.

Pidato Prabowo di Vladivostok menegaskan bahwa pembangunan versi pemerintahannya ingin dibaca dari meja makan, bukan dari panggung seremoni. MBG ditempatkan sebagai jalan cepat untuk memperbaiki kualitas hidup, sekaligus simbol bahwa negara hadir pada kebutuhan paling dasar.

Namun meja makan juga jujur: ia tidak bisa dibohongi oleh angka, spanduk, atau laporan yang indah. Jika piring anak tetap kosong atau gizinya tetap buruk, maka seluruh narasi pembangunan akan runtuh di ruang makan itu sendiri.

Pertanyaannya kini sederhana, tetapi menentukan: mampukah negara membuat program besar tetap bersih, tepat, dan bermutu hingga ke desa terakhir. Sebab di sanalah “kebaikan terbesar bagi sebanyak-banyaknya orang” akan benar-benar diuji. (Orbit dari berbagai sumber, 7 September 2026)