Rangkuman Berita: Denny JA Lahirkan Teori Baru Soal Kerusuhan di Era Digital

Ilustrasi rangkuman berita.

Ilustrasi rangkuman berita.

Opini

Rangkuman Berita

DENNY JA LAHIRKAN TEORI BARU SOAL KERUSUHAN DI ERA DIGITAL

- Menjelaskan Penyebab Kerusuhan di Indonesia, Agustus 2025

ORBITINDONESIA.COM - Kerusuhan yang meluas di berbagai kota pada Agustus 2025, setelah kematian seorang pengemudi ojek online bernama Affan Kurniawan, dinilai sebagai salah satu peristiwa sosial paling penting dalam sejarah Indonesia digital.

Peristiwa yang bermula dari kematian Affan di tengah demonstrasi itu dengan cepat berubah menjadi kemarahan nasional. Video dan foto kejadian menyebar luas melalui media sosial, memicu gelombang solidaritas, aksi protes, hingga kerusuhan di berbagai daerah.

Demonstrasi muncul dari Aceh hingga Papua. Sebagian berlangsung damai. Sebagian berubah menjadi bentrokan yang menyebabkan kerusakan fasilitas publik, pembakaran gedung pemerintah, serta jatuhnya korban jiwa.

Fenomena tersebut menimbulkan pertanyaan besar: mengapa kematian seorang pekerja platform digital mampu memicu gelombang kemarahan yang begitu luas dan cepat?

Menurut pendiri LSI Denny JA, peristiwa Agustus 2025 tidak cukup dijelaskan hanya dengan teori-teori sosial klasik yang selama ini digunakan untuk memahami gerakan massa dan kerusuhan.

Dalam esainya berjudul Kerusuhan Agustus 2025 dan Teori Sosial Baru yang Menjelaskannya, Denny JA mengajukan sebuah konsep baru yang ia sebut Teori Kerusuhan Era Digital.

“Dunia telah berubah lebih cepat daripada teori yang kita gunakan untuk memahaminya. Kita hidup di era algoritma, tetapi masih memakai banyak konsep yang lahir sebelum internet ditemukan,” ujar Denny JA.

Menurutnya, teori-teori besar seperti Relative Deprivation Theory dari Ted Robert Gurr, Resource Mobilization Theory, maupun Networked Protest Theory dari Manuel Castells mampu menjelaskan sebagian fenomena, tetapi belum dapat menjelaskan keseluruhan rantai sebab-akibat yang terjadi dalam kerusuhan digital kontemporer.

Karena itu, Denny JA menawarkan kerangka baru yang terdiri atas lima faktor utama yang saling memperkuat:

1. Economic Grievance (keresahan ekonomi),

2. Digitally Vulnerable Class (DVC) atau Pekerja Digital yang Rentan,

3. Social Media Amplification (amplifikasi media sosial),

4. Trigger and Provocation (pemicu dan provokasi),

5. Broken Social Contract (rusaknya kontrak sosial antara negara dan masyarakat).

Kontribusi paling baru dalam teori ini adalah konsep Digitally Vulnerable Class (DVC), yaitu kelompok pekerja yang kehidupannya bergantung pada platform digital, seperti pengemudi ojek online, kurir, freelancer digital, pekerja aplikasi, dan content creator skala kecil.

Menurut Denny JA, kelompok ini menghadapi tiga kerentanan sekaligus: kerentanan ekonomi, kerentanan algoritmik, dan kerentanan harapan.

“Jika proletariat adalah anak mesin industri, maka DVC adalah anak algoritma,” katanya.

Denny JA menilai kerusuhan Agustus 2025 merupakan tanda lahirnya dinamika sosial baru di abad ke-21, ketika keresahan ekonomi bertemu dengan kerentanan digital dan diperbesar oleh algoritma media sosial.

Melalui Teori Kerusuhan Era Digital, ia berharap tersedia kerangka yang lebih utuh untuk memahami mengapa kemarahan sosial kini dapat menyebar jauh lebih cepat dibandingkan era sebelumnya, serta bagaimana negara dapat mencegah konflik serupa di masa depan.

“Sejarah tidak berubah ketika rakyat mulai marah. Sejarah berubah ketika kita akhirnya memahami mengapa mereka marah,” tulis Denny JA dalam penutup esainya. ***