Eric Schmidt Kritik Remote Work: Ancaman 996 China di AI

Fortune

Fortune

Money & Career

ORBITINDONESIA.COM – Eric Schmidt kembali menyalakan alarm: remote work dinilai melemahkan daya saing Big Tech Amerika di tengah tekanan budaya kerja 996 China dan perang AI. Dalam wawancara All-In podcast (September 2025), eks CEO Google itu berkata, “If you’re going to be in tech and you’re going to win, you’re going to have to make some tradeoffs,” lalu menegaskan China bekerja 9 pagi sampai 9 malam, enam hari seminggu. (Orbit dari berbagai sumber, 25 Juli 2026)

Pernyataan Schmidt muncul saat industri teknologi memasuki fase “perlombaan model” yang mahal, cepat, dan menuntut iterasi harian. Di titik ini, produktivitas bukan lagi jargon HR, melainkan variabel strategis yang menentukan siapa memimpin AI dan siapa menjadi pengikut. (Orbit dari berbagai sumber, 25 Juli 2026)

Schmidt menilai kerja jarak jauh menggerus pembelajaran informal, terutama bagi pekerja muda yang pintar tetapi minim jam terbang kantor. Ia mengingat masa awal di Sun Microsystems, ketika ia belajar hanya dengan “hadir” dan menyimak perdebatan kolega senior secara langsung. (Orbit dari berbagai sumber, 25 Juli 2026)

Di sisi lain, remote work telah menjadi simbol fleksibilitas pascapandemi dan alat retensi talenta. Banyak perusahaan memakainya untuk memperluas rekrutmen lintas kota, sekaligus menekan biaya ruang kantor. (Orbit dari berbagai sumber, 25 Juli 2026)

Klaim kunci Schmidt bertumpu pada dua hal: intensitas jam kerja dan kualitas kolaborasi tatap muka. Ia menyebut 996 sebagai “work-life balance” versi China, meski praktik itu secara formal dinyatakan ilegal pada 2021. (Orbit dari berbagai sumber, 25 Juli 2026)

Namun, ilegal tidak selalu berarti hilang, terutama ketika target pertumbuhan dan kompetisi global menekan perusahaan. Schmidt bahkan menyatakan “all the Chinese tech companies still do it,” sebuah generalisasi yang sulit diverifikasi tetapi efektif sebagai pesan politik. (Orbit dari berbagai sumber, 25 Juli 2026)

Di Silicon Valley, sinyal pergeseran memang terlihat, terutama di startup AI yang mengejar keunggulan komputasi dan data. Wired melaporkan sebagian startup kini mengharapkan 72 jam kerja per minggu, sebuah angka yang mendekati ritme “hidup di kantor.” (Orbit dari berbagai sumber, 25 Juli 2026)

Wall Street Journal menggambarkan sebagian pekerja usia 20-an justru menyambut budaya “hustle” ala The Social Network. Mereka melihat jam panjang sebagai tiket menuju ekuitas, reputasi, dan kesempatan membangun produk yang “mengubah dunia.” (Orbit dari berbagai sumber, 25 Juli 2026)

Data juga dipakai sebagai amunisi, meski tak selalu kuat secara statistik. Ramp mengklaim transaksi korporat menunjukkan lonjakan kerja hari Sabtu dan menyimpulkan “996 is real,” tetapi kenaikan transaksi restoran dan takeout hanya 0,4% sehingga belum tentu signifikan. (Orbit dari berbagai sumber, 25 Juli 2026)

Di kubu Google, arah angin juga berubah: kebijakan WFH yang longgar mulai dipangkas. Google meminta sebagian karyawan remote kembali minimal tiga hari sepekan, sementara Sergey Brin meminta tim Gemini hadir “setidaknya” setiap hari kerja dan menyebut 60 jam per minggu sebagai “sweet spot,” menurut The New York Times. (Orbit dari berbagai sumber, 25 Juli 2026)

Masalahnya, korelasi antara jam panjang dan inovasi tidak selalu linear. Jam kerja ekstrem dapat menaikkan output jangka pendek, tetapi juga memperbesar risiko burnout, turnover, dan keputusan buruk, terutama saat produk AI menyangkut keselamatan dan akurasi. (Orbit dari berbagai sumber, 25 Juli 2026)

Remote work pun bukan sinonim “malas,” karena sebagian tim global bekerja lintas zona waktu dengan ritme lebih panjang dari jam kantor tradisional. Yang sering hilang bukan jamnya, melainkan kohesi, mentoring spontan, dan kecepatan penyelarasan keputusan. (Orbit dari berbagai sumber, 25 Juli 2026)

Schmidt tampak sedang mengubah isu manajemen menjadi isu geopolitik: kerja dari rumah diposisikan sebagai kelemahan nasional. Dengan menyebut “we’re up against the Chinese,” ia mendorong publik menerima trade-off: lebih sedikit fleksibilitas demi “menang.” (Orbit dari berbagai sumber, 25 Juli 2026)

Namun, framing ini menyederhanakan persoalan, seolah pilihan hanya dua: 996 atau kalah. Padahal, daya saing AI juga ditentukan oleh akses chip, kualitas riset, regulasi, kemampuan produk, dan ekosistem modal, bukan sekadar jam kerja. (Orbit dari berbagai sumber, 25 Juli 2026)

Kritik Schmidt tentang pekerja muda lebih tajam dan lebih relevan. Pembelajaran paling mahal sering terjadi dari observasi langsung, dari konflik ide, dan dari koreksi cepat di ruangan yang sama, sesuatu yang sulit digantikan rapat video. (Orbit dari berbagai sumber, 25 Juli 2026)

Tetapi solusi tidak harus “anti-remote” secara total. Model hibrida yang disiplin, dengan hari kolaborasi wajib, program mentoring terstruktur, dan standar dokumentasi yang ketat, bisa menutup lubang yang Schmidt sebut tanpa mematikan fleksibilitas. (Orbit dari berbagai sumber, 25 Juli 2026)

Di titik ini, pertanyaan etisnya ikut membesar: apakah “menang” berarti menormalisasi jam kerja yang mengorbankan kesehatan mental. Schmidt sendiri menyelipkan sindiran, “I’m in favor of work-life balance, and that’s why people work for the government,” yang menunjukkan betapa budaya jam panjang telah menjadi simbol status di sektor swasta. (Orbit dari berbagai sumber, 25 Juli 2026)

Ironinya, Schmidt pernah menuai kritik saat menyebut Google mengutamakan work-life balance ketimbang menang, lalu menarik ucapannya setelah video Stanford 2024 dihapus. Ini menandakan perdebatan produktivitas di Big Tech bukan murni soal data, melainkan juga soal citra, tekanan investor, dan ketakutan tertinggal di AI. (Orbit dari berbagai sumber, 25 Juli 2026)

Remote work bukan biang tunggal turunnya daya saing, tetapi juga bukan obat mujarab modernitas. Schmidt benar ketika menekankan hilangnya mentoring dan kultur debat langsung, terutama bagi talenta muda yang sedang dibentuk. (Orbit dari berbagai sumber, 25 Juli 2026)

Namun, menjadikan 996 sebagai patokan kemenangan berisiko mengubah inovasi menjadi lomba ketahanan fisik, bukan lomba kualitas ide. Jika AI adalah masa depan, maka pertaruhan terbesar bukan hanya siapa paling lama bekerja, melainkan siapa paling bijak merancang cara kerja yang cepat, sehat, dan bertanggung jawab. (Orbit dari berbagai sumber, 25 Juli 2026)

Perenungan akhirnya sederhana: ketika perusahaan meminta “tradeoff,” siapa yang menentukan batasnya, dan siapa yang menanggung biayanya. Di situlah debat remote work seharusnya berhenti menjadi slogan, lalu berubah menjadi desain kerja yang adil sekaligus kompetitif. (Orbit dari berbagai sumber, 25 Juli 2026)