Pappas vs Sununu: Pemilu Senat New Hampshire Kian Ketat
ORBITINDONESIA.COM – Pemilu Senat New Hampshire memasuki fase paling menentukan, dan Demokrat Chris Pappas menegaskan timnya “tidak menganggap remeh apa pun” menjelang hari pemungutan suara. Ia menyebut pertarungan ini “berat” di negara bagian ungu (purple state) yang kerap ditentukan selisih tipis, apalagi tanpa opsi early voting.
Dalam wawancara “Face the Nation with Margaret Brennan”, Pappas mengatakan ia optimistis, tetapi menekankan kebutuhan “bekerja” selama 23 hari terakhir kampanye. Pappas, anggota DPR sejak 2019, maju untuk kursi Senat yang ditinggalkan Demokrat Jeanne Shaheen setelah ia menyatakan tidak akan mencalonkan diri lagi.
Lawan Pappas adalah mantan Senator Republik John Sununu, figur lama dengan nama keluarga besar di politik Granite State. CBS News menilai New Hampshire “cenderung Demokrat”, tetapi Pappas mengingatkan bahwa sejarah negara bagian ini sering membantah rasa aman yang berlebihan.
Pappas menekankan strategi ganda: mengunci basis, merebut pemilih independen dan swing voters, serta merangkul sebagian pemilih Republik. Ia juga menyoroti ketiadaan early voting sebagai faktor yang membuat mobilisasi hari-H menjadi penentu nyata, bukan sekadar statistik survei.
New Hampshire punya reputasi sebagai medan “tipis” yang dapat berubah hanya oleh ribuan suara, dan Pappas mengutip pemilu Senat 2016 yang ditentukan “sedikit di atas 1.000 suara”. Dalam konteks itu, setiap kesalahan organisasi lapangan, dari logistik relawan hingga cuaca hari pemungutan, bisa mengubah peta mayoritas Senat.
Taruhannya lebih besar dari satu kursi, karena persaingan ini disebut berpotensi menentukan partai mana yang menguasai Senat. Pappas membingkai kontestasi sebagai referendum de facto atas arah Washington, bukan sekadar duel personal antara dua kandidat.
Sununu membawa modal “trah politik” yang kuat: putra mantan Gubernur John H. Sununu dan saudara mantan Gubernur Chris Sununu. Ia pernah mewakili New Hampshire di DPR dan Senat, lalu kalah dari Shaheen pada 2008, sehingga kampanye “kembali” ini juga menguji daya ingat pemilih terhadap rekam jejak lama.
Menariknya, Sununu disebut memiliki catatan kerap berbeda dengan Donald Trump, dan ia menjaga jarak dari presiden saat berkampanye. Namun Pappas menolak narasi itu dan mengutip pernyataan Trump: “anggap saya ada di surat suara”, lalu menyimpulkan Trump “ada di surat suara” melalui kandidat seperti Sununu.
Dinamika nasional ikut membayang, termasuk “perang yang tidak populer dengan Iran” dan harga bensin tinggi yang disebut dalam artikel sumber. Dalam situasi biaya hidup menekan, isu ekonomi menjadi pintu masuk paling efektif untuk memengaruhi pemilih independen yang tidak loyal pada satu partai.
Pappas menawarkan agenda ekonomi yang konkret, dengan menekankan fokus “seperti laser” pada tantangan ekonomi yang dialami warga. Ia menyebut kebutuhan “kemenangan” bagi pekerja dan kelas menengah, mulai dari investasi perumahan terjangkau hingga upaya mengakhiri perang dan menurunkan harga energi.
Ia juga menyinggung pemulihan pemotongan layanan kesehatan yang, menurutnya, “mencabut ribuan” warga New Hampshire dari asuransi dan menyulitkan akses perawatan. Klaim ini menempatkan layanan kesehatan sebagai isu dompet, bukan sekadar perdebatan ideologis, sehingga lebih mudah diterima pemilih swing.
Di isu penegakan imigrasi, Pappas mengambil posisi reformis yang keras terhadap penyalahgunaan, tetapi tidak mendukung pembubaran ICE seperti sebagian Demokrat lain. Ia menilai realistis bahwa Trump “akan menjadi presiden dua tahun ke depan”, sehingga Demokrat harus mencari “setiap titik ungkit” untuk mengekang “penyalahgunaan menjijikkan” yang ia tuduhkan terjadi.
Pappas menekankan dua rel: menarget “penjahat terburuk” yang melanggar hukum, sekaligus menghormati due process dan menganggap imigran bagian dari “keluarga besar Amerika”. Pernyataan “warga New Hampshire mendukung itu” adalah upaya merebut pusat spektrum politik, tempat pemilu New Hampshire sering dimenangkan.
Pappas tampak memahami bahwa “pemilu Senat New Hampshire” bukan kontes yang bisa dimenangkan hanya dengan label partai, meski rating media memberi keuntungan awal. Ia memilih retorika kewaspadaan, karena di negara bagian kecil, perubahan partisipasi beberapa titik saja bisa menghapus keunggulan di hari pemungutan.
Serangan Pappas terhadap “politikus gagal dengan gagasan gagal dari masa lalu” jelas diarahkan pada Sununu sebagai simbol restorasi. Namun pertanyaannya: apakah pemilih melihat Sununu sebagai masa lalu yang usang, atau justru pengalaman yang menenangkan di masa krisis biaya hidup.
Upaya mengaitkan Sununu dengan Trump juga berisiko dua arah, karena Sununu punya rekam jejak menjauh dari Trump. Tetapi dalam politik Senat, disiplin partai sering lebih menentukan daripada gaya personal, sehingga argumen Pappas tentang “mayoritas” dan kemampuan mengawasi pemerintahan bisa terasa lebih relevan bagi pemilih yang cemas soal akuntabilitas.
Janji-janji ekonomi Pappas terdengar paling kuat ketika menyentuh hal yang terukur: rumah terjangkau, asuransi kesehatan, dan harga energi. Tantangannya adalah membuktikan bahwa “fokus seperti laser” bukan slogan, melainkan rencana yang bisa menembus kebuntuan Washington yang sering membuat pemilih muak.
Sikapnya soal ICE menunjukkan kalkulasi politik yang sadar medan, yakni menolak ekstrem “bubarkan” sambil tetap mengutuk penyalahgunaan. Di New Hampshire yang kompetitif, posisi tengah yang tegas sering lebih efektif daripada seruan maksimalis yang memuaskan basis, tetapi mengasingkan pemilih independen.
Pemilu Senat New Hampshire kini menjadi cermin: apakah pemilih lebih takut pada kembalinya dinasti politik lama, atau lebih takut pada ketidakpastian ekonomi dan konflik luar negeri yang belum reda. Pappas memilih bertaruh pada mobilisasi 23 hari terakhir dan pada pesan bahwa kursi ini menentukan arah mayoritas Senat.
Pada akhirnya, “tidak menganggap remeh apa pun” adalah pengakuan bahwa demokrasi sering ditentukan oleh hal kecil: pintu yang diketuk relawan, pemilih yang diantar ke TPS, dan satu keputusan di bilik suara. Jika selisih 2016 hanya sekitar seribuan suara, pertanyaannya sederhana sekaligus menohok: suara siapa yang kali ini akan menjadi penentu sejarah. (Orbit dari berbagai sumber, 14 Oktober 2026)