Trump Ancam Pickaxe Mountain, Situs Nuklir Iran Jadi Target Baru
ORBITINDONESIA.COM – Ancaman Donald Trump untuk menyerang Pickaxe Mountain, fasilitas bawah tanah Iran dekat Natanz, muncul lagi saat perang AS-Israel melawan Iran memasuki bulan-bulan panjang tanpa ujung jelas. Beberapa jam setelah ancaman itu, media Iran melaporkan sebuah kapal tanker minyak di lepas Pulau Kharg dihantam empat rudal AS, menambah sinyal bahwa eskalasi bisa datang kapan saja. (Orbit dari berbagai sumber, 9 September 2026)
Trump mengatakan Washington bisa menyerang Pickaxe Mountain “segera”, sambil mengklaim AS mengetahui “semua orang yang bergerak di Pickaxe” dan di seluruh Iran. Ucapan ini mengulang ancaman pertengahan Juli, ketika ia menyebut akan “menghabisi Pickaxe Mountain” dan meminta Iran “bersiap”. (Orbit dari berbagai sumber, 9 September 2026)
Ancaman terbaru datang lebih dari enam bulan sejak perang yang diluncurkan AS dan Israel pada 28 Februari, dengan pesan pemerintah AS yang sering bertabrakan. Trump bahkan menyebut perang itu “urusan kecil”, sementara Wakil Presiden JD Vance menyiratkan konflik “bukan perang” dan “tidak ada tembak-menembak aktif saat ini”. (Orbit dari berbagai sumber, 9 September 2026)
Namun, fakta di lapangan tidak sepenuhnya sejalan dengan narasi mereda. AS dan Iran masih saling serang pekan ini, termasuk serangan AS dekat infrastruktur ekspor minyak Iran di Pulau Kharg yang menangani sekitar 90 persen ekspor minyak Iran. (Orbit dari berbagai sumber, 9 September 2026)
Di sisi diplomasi, perundingan nuklir Iran terkatung-katung setelah jendela negosiasi 60 hari berakhir pada pertengahan Agustus tanpa kesepakatan. Iran menyatakan tidak melakukan pekerjaan apa pun di Natanz, tetapi kecurigaan Barat tetap bergerak mengikuti citra satelit dan laporan intelijen. (Orbit dari berbagai sumber, 9 September 2026)
Pickaxe Mountain, yang di Iran dikenal sebagai Kuh-e Kolang Gaz La, berada sekitar 220 km selatan Teheran di Provinsi Isfahan. Lokasinya hanya sekitar 2 km dari pabrik pengayaan Natanz, sehingga setiap eskalasi di sana akan langsung bersinggungan dengan simbol utama program nuklir Iran. (Orbit dari berbagai sumber, 9 September 2026)
Laporan intelijen AS menyebut fasilitas itu digali jauh di dalam gunung, terlindungi ratusan meter batu granit. Ruang utama diduga berada setidaknya 100 meter di bawah tanah, dirancang untuk menahan bom penembus bunker. (Orbit dari berbagai sumber, 9 September 2026)
Sejumlah analis Barat berspekulasi gunung itu disiapkan untuk menampung fasilitas pengayaan yang tidak diumumkan sebagai “cadangan” bila situs resmi diserang. Institute for Science and International Security yang memantau lewat satelit menilai situs itu masih dalam konstruksi dan belum operasional. (Orbit dari berbagai sumber, 9 September 2026)
Yang membuat Pickaxe Mountain menonjol adalah satu kata: utuh. Saat serangan AS pada Juni 2025 menghantam Fordow, Natanz, dan Isfahan di akhir perang 12 hari Israel-Iran, Pickaxe Mountain dibiarkan, dan nyaris luput dari perang berjalan ini. (Orbit dari berbagai sumber, 9 September 2026)
Lembaga pemantau itu hanya mencatat penghancuran sebuah kendaraan di tumpukan material galian dekat lokasi. Dengan basis manufaktur sentrifugal dan aula pengayaan di situs lain rusak, terowongan Pickaxe terlihat sebagai tempat paling logis untuk membangun kembali produksi komponen, perakitan, atau pengayaan. (Orbit dari berbagai sumber, 9 September 2026)
Wall Street Journal melaporkan pada Juli bahwa Israel mengirim intelijen ke Washington yang menyebut ribuan sentrifugal dipindahkan ke dalam fasilitas itu akhir tahun lalu. AS tidak mengonfirmasi klaim tersebut, dan Trump terdengar kurang alarmis dibanding Israel. (Orbit dari berbagai sumber, 9 September 2026)
Di titik ini, perdebatan teknis menjadi penting. Sentrifugal hanya berarti jika ada uranium untuk diproses, karena mesin itu memekatkan gas uranium, dan tanpa pasokan bahan, ia tidak menghasilkan apa pun. (Orbit dari berbagai sumber, 9 September 2026)
Skala kerusakan situs nuklir Iran tetap diperdebatkan, tetapi banyak taksiran menyebutnya besar. European Council on Foreign Relations menilai serangan 2025 kemungkinan menghancurkan banyak dari sekitar 18.000 sentrifugal yang beroperasi di Natanz dan Fordow, serta beberapa lokasi produksi sentrifugal dan pabrik penggilingan yellowcake Ardakan. (Orbit dari berbagai sumber, 9 September 2026)
Yellowcake adalah konsentrat uranium berbentuk bubuk dari bijih uranium yang digiling, dan ia adalah simpul awal rantai pasok nuklir. Sekitar 4.000 sentrifugal tambahan sudah terpasang namun menganggur saat itu, dan ada kemungkinan sebagian selamat dari serangan. (Orbit dari berbagai sumber, 9 September 2026)
IAEA mengonfirmasi kerusakan tambahan pada bangunan pintu masuk fasilitas pengayaan bawah tanah Natanz pada Maret 2026, tanpa mendeteksi dampak tambahan pada pabriknya. Institute for Science and International Security melaporkan pada Juni bahwa pintu masuk terowongan di tiga situs utama masih tersegel dan tidak ada bukti pengayaan berlangsung. (Orbit dari berbagai sumber, 9 September 2026)
Kontradiksi juga muncul dari pernyataan Trump sendiri. Setelah serangan Juni 2025, ia menyebut tiga situs “sepenuhnya dan total dilenyapkan”, tetapi beberapa hari kemudian penilaian awal Defense Intelligence Agency yang bocor menyebut situs rusak berat namun tidak hancur, dan kemunduran program diperkirakan kurang dari enam bulan. (Orbit dari berbagai sumber, 9 September 2026)
Ketidakpastian ini makin tebal karena minimnya inspeksi. “Tidak ada yang benar-benar tahu keadaan program nuklir Iran saat ini; ada banyak ketidakpastian dan ambiguitas tentang seberapa besar kerusakan Iran akibat dua perang terakhir,” kata Nader Hashemi dari Georgetown University kepada Al Jazeera. (Orbit dari berbagai sumber, 9 September 2026)
Sebelum serangan AS-Israel pada Juni 2025, IAEA memverifikasi sekitar 10 ton uranium diperkaya, termasuk 440 kg yang diperkaya hingga 60 persen. Kepala IAEA Rafael Grossi mengatakan kepada Al Jazeera pada awal Maret bahwa secara teori jumlah itu, jika diperkaya sampai 90 persen, cukup untuk lebih dari 10 hulu ledak nuklir. (Orbit dari berbagai sumber, 9 September 2026)
Masalahnya, stok itu kini seperti menguap dari radar. Iran menangguhkan kerja sama dengan IAEA setelah serangan, dan IAEA menyatakan tidak punya cara melaporkan ukuran, lokasi, atau komposisi stok, meski meyakini banyak material 60 persen “dibotolkan” di terowongan Isfahan. (Orbit dari berbagai sumber, 9 September 2026)
Ancaman Trump atas Pickaxe Mountain tampak seperti kombinasi strategi militer dan teater politik. Ketika pemerintahannya menyebut konflik “mendingin”, ancaman “segera” memberi sinyal kekuatan tanpa harus mengakui perang yang membesar di depan publik pemilih. (Orbit dari berbagai sumber, 9 September 2026)
Di sisi lain, Iran membaca ancaman itu sebagai dalih yang “diproduksi” untuk menyerang, bukan respons atas bukti baru. Peringatan markas militer pusat Khatam al-Anbiya bahwa pengeboman gunung berarti pembaruan perang regional menunjukkan Teheran ingin menaikkan biaya politik dan keamanan bagi Washington. (Orbit dari berbagai sumber, 9 September 2026)
Pickaxe Mountain juga memotret dilema inti kebijakan nuklir: menghancurkan fasilitas bukan berarti menghapus pengetahuan, jaringan, dan motivasi. Ketika inspeksi terhenti dan stok uranium tak terlacak, serangan tambahan bisa menambah kabut informasi, bukan memperjelas ancaman. (Orbit dari berbagai sumber, 9 September 2026)
Yang paling berbahaya adalah logika “pencegahan” yang berubah menjadi “pembenaran permanen”. Jika definisi target menjadi “setiap lokasi yang bahkan dipikirkan untuk nuklir”, maka perang tak lagi bergantung pada bukti yang dapat diverifikasi, melainkan pada persepsi dan kecurigaan. (Orbit dari berbagai sumber, 9 September 2026)
Pickaxe Mountain kini bukan sekadar gunung, melainkan panggung tempat ketidakpastian nuklir, kepentingan elektoral, dan kalkulasi perang bertemu. Dalam ruang gelap tanpa inspeksi, setiap ancaman terdengar tegas, tetapi setiap bom justru bisa memperpanjang siklus rahasia, balas dendam, dan salah hitung. (Orbit dari berbagai sumber, 9 September 2026)
Pertanyaannya bukan hanya apakah fasilitas itu berisi sentrifugal atau uranium, melainkan apakah dunia masih punya mekanisme untuk membedakan fakta dari narasi perang. Jika diplomasi tetap buntu, maka “utuhnya” Pickaxe Mountain bisa menjadi alasan serangan berikutnya, sekaligus bukti kegagalan mencegah perang sejak awal. (Orbit dari berbagai sumber, 9 September 2026)