Denny JA: Elon Musk, Thomas Alva Edison dan Mengapa Negara Kita Memerlukan Inovator
ELON MUSK, THOMAS ALVA EDISON DAN MENGAPA NEGARA KITA MEMERLUKAN INOVATOR
Oleh Denny JA
ORBITINDONESIA.COM - Seorang investor tua berkata: “uang terbesar yang pernah saya peroleh bukan datang ketika saya menemukan perusahaan yang menghasilkan laba.
Uang terbesar datang ketika saya menemukan perusahaan yang mengubah cara manusia hidup.”
Saat itu saya belum sepenuhnya memahami makna kalimat tersebut.
Namun bertahun-tahun kemudian, ketika melihat bagaimana telepon pintar mengubah cara manusia berkomunikasi, bagaimana internet mengubah perdagangan, dan bagaimana kecerdasan buatan mulai mengubah cara manusia bekerja, saya mengerti satu hal yang sangat penting.
Kekayaan terbesar dalam sejarah hampir selalu mengikuti inovasi terbesar dalam sejarah.
Di balik setiap lompatan peradaban, selalu ada sosok yang tidak sekadar mencari keuntungan. Ia mengubah cara manusia hidup, bekerja, berpikir, dan bermimpi.
Dunia mengenang mereka bukan karena jumlah uang yang mereka miliki. Dunia mengenang mereka karena mereka mengubah arah zaman.
-000-
Tidak semua pengusaha adalah inovator penggerak zaman. Tidak semua penemu adalah inovator penggerak zaman.
Pengusaha biasa membangun perusahaan. Penemu biasa menciptakan sesuatu yang baru. Namun inovator penggerak zaman melakukan sesuatu yang jauh lebih besar: mereka mengubah perilaku kolektif manusia dalam skala peradaban.
Banyak orang menemukan teknologi. Hanya sedikit yang mampu mengubah teknologi menjadi kebiasaan baru umat manusia.
Banyak orang membangun bisnis yang sukses. Hanya sedikit yang mampu menciptakan industri yang sebelumnya tidak ada.
Inovator penggerak zaman berada di persimpangan antara imajinasi, teknologi, bisnis, dan keberanian mengambil risiko.
Ia melihat dunia bukan sebagaimana adanya, tetapi sebagaimana dunia itu mungkin menjadi. Lalu ia menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk memaksa kemungkinan itu menjadi kenyataan.
Karena itu, inovator penggerak zaman sesungguhnya bukan sekadar pencipta produk. Ia adalah arsitek masa depan.
-000-
THOMAS ALVA EDISON: MANUSIA YANG MEMPERPANJANG SIANG HARI
Ketika membicarakan inovator penggerak zaman, salah satu nama pertama yang muncul adalah Thomas Alva Edison.
Ia lahir pada tahun 1847 di Ohio, Amerika Serikat. Secara formal ia hanya memperoleh pendidikan sekolah yang sangat singkat. Sebagian besar ilmunya diperoleh melalui rasa ingin tahu yang nyaris tanpa batas.
Dunia sering mengingat Edison sebagai penemu bola lampu.
Namun sesungguhnya kontribusinya jauh lebih besar daripada itu.
Sebelum Edison, malam adalah batas alami produktivitas manusia. Setelah matahari terbenam, sebagian besar aktivitas ekonomi melambat. Pabrik berhenti. Kantor tutup. Kehidupan bergerak mengikuti ritme alam.
Edison mengubah keadaan tersebut.
Melalui pengembangan sistem penerangan listrik yang praktis dan dapat digunakan secara massal, ia tidak hanya menciptakan lampu. Ia memperpanjang siang hari.
Manusia kini dapat bekerja, belajar, membaca, memproduksi barang, dan beraktivitas jauh melampaui batas yang sebelumnya ditentukan oleh matahari.
Dalam bahasa ekonomi modern, Edison meningkatkan jumlah jam produktif peradaban.
Tetapi pengaruh Edison tidak berhenti di sana.
Ia juga mengembangkan fonograf yang memungkinkan suara direkam dan diputar kembali. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, suara manusia tidak lagi mati bersama waktu.
Ia berkontribusi pada perkembangan film bergerak yang kemudian melahirkan industri hiburan global bernilai triliunan dolar.
Lebih penting lagi, Edison memahami sesuatu yang tidak dipahami banyak penemu lain.
Penemuan besar tidak cukup. Penemuan harus diproduksi massal.
Penemuan harus memiliki model bisnis. Penemuan harus masuk ke rumah-rumah masyarakat.
Di sinilah letak kejeniusannya. Ia bukan hanya ilmuwan. Ia adalah penghubung antara laboratorium dan kehidupan sehari-hari.
Hasilnya luar biasa. Hingga hari ini, lebih dari satu abad setelah kematiannya, dunia masih hidup di dalam sistem yang sebagian fondasinya dibangun oleh Edison.
Ketika kita menyalakan lampu, menonton film, atau menikmati berbagai bentuk teknologi modern, kita sesungguhnya masih hidup di dalam bayang-bayang warisan seorang pria yang menolak menerima batas-batas zamannya.
Edison mengajarkan bahwa inovasi terbesar bukanlah menemukan sesuatu yang baru. Inovasi terbesar adalah membuat sesuatu yang baru menjadi bagian normal dari kehidupan manusia.
Sejarah menunjukkan bahwa negara yang memimpin dunia bukan selalu negara yang paling kaya sumber daya alamnya.
Negara yang memimpin dunia adalah negara yang berhasil melahirkan manusia-manusia yang mengubah cara umat manusia hidup.
Batu bara dapat habis. Minyak dapat habis. Tetapi imajinasi seorang inovator dapat menciptakan kekayaan yang terus bertambah dari generasi ke generasi.
-000-
ELON MUSK: MANUSIA YANG MENOLAK BATAS MASA DEPAN
Jika Edison adalah simbol revolusi industri kedua, maka banyak pengamat melihat Elon Musk sebagai simbol revolusi teknologi abad ke-21.
Lahir di Afrika Selatan pada tahun 1971, Musk tumbuh sebagai anak yang tenggelam dalam buku-buku sains, teknologi, dan fiksi ilmiah. Sejak muda ia terobsesi pada pertanyaan yang tidak biasa:
Bagaimana manusia dapat mempercepat masa depan?
Sebagian besar pengusaha bertanya bagaimana menciptakan produk yang laku dijual. Sebagian besar investor bertanya bagaimana memperoleh keuntungan terbesar. Musk tampaknya bertanya sesuatu yang berbeda.
Apa persoalan terbesar umat manusia yang belum diselesaikan?
Dari pertanyaan itulah lahir berbagai perusahaan yang kemudian mengubah industri global.
Melalui Tesla, Musk tidak sekadar menjual mobil listrik. Ia memaksa industri otomotif dunia mempercepat transisi energi.
Sebelum Tesla menjadi fenomena global, banyak produsen mobil besar menganggap kendaraan listrik hanya pasar kecil yang tidak menjanjikan. Kini hampir seluruh perusahaan otomotif terbesar dunia berlomba memasuki pasar yang sama.
Melalui SpaceX, Musk melakukan sesuatu yang sebelumnya dianggap mustahil. Ia menciptakan roket yang dapat digunakan kembali. Sebelum SpaceX, peluncuran roket mirip seperti membuang pesawat setelah satu kali penerbangan. Biayanya sangat mahal. SpaceX mengubah logika ekonomi ruang angkasa.
Melalui Starlink, ia membangun jaringan satelit yang menghubungkan wilayah-wilayah terpencil yang selama puluhan tahun berada di luar jangkauan internet.
Melalui berbagai investasi pada kecerdasan buatan, robotika, dan teknologi energi, ia berusaha mempercepat berbagai kemungkinan yang sebelumnya hanya hidup dalam novel fiksi ilmiah.
-000-
Sedikit orang mengingat bahwa Edison mengalami ribuan kegagalan sebelum menemukan sistem penerangan listrik yang layak digunakan secara massal.
Ketika ditanya mengenai kegagalan itu, ia menjawab bahwa dirinya tidak gagal. Ia hanya menemukan ribuan cara yang tidak berhasil.
Musk pun melewati jalan yang tidak lebih mudah. Pada tahun 2008, ketika krisis keuangan melanda dunia, Tesla hampir kehabisan uang dan tiga peluncuran awal SpaceX berakhir dengan ledakan.
Di ambang kebangkrutan, ia tetap bertahan. Kadang yang mengubah sejarah bukan mereka yang paling cerdas, melainkan mereka yang paling lama menolak menyerah.
Tentu saja Musk bukan sosok tanpa kontroversi.
Ia sering mengeluarkan pernyataan yang mengundang perdebatan. Ia membuat keputusan yang dipandang terlalu berani. Sebagian proyeknya gagal. Sebagian janjinya belum terwujud.
Namun sejarah tidak selalu diubah oleh orang-orang yang sempurna. Sering kali sejarah diubah oleh mereka yang berani membayangkan sesuatu yang belum ada.
Di sinilah kemiripannya dengan Edison.
Keduanya memahami bahwa kemajuan peradaban bukanlah proses yang berjalan otomatis. Kemajuan membutuhkan manusia yang cukup nekat untuk mempertanyakan apa yang dianggap mustahil.
Edison memperpanjang siang hari.
Musk berusaha memperluas cakrawala masa depan.
Keduanya berbicara dalam bahasa yang sama: bahasa kemungkinan.
-000-
Dua buku ini memperkaya wawasan kita soal isu di atas. Pertama, buku berjudul The Innovator’s Dilemma karya Clayton M. Christensen, 1997.
Buku ini menjelaskan sebuah paradoks yang mengejutkan. Banyak perusahaan besar gagal bukan karena mereka tidak kompeten. Mereka gagal justru karena terlalu sukses mempertahankan model bisnis lama.
Christensen menunjukkan bagaimana inovasi besar hampir selalu datang dari pinggiran. Teknologi baru pada awalnya tampak kecil, tidak menguntungkan, dan sering diremehkan. Namun perlahan teknologi itu tumbuh hingga menggantikan pemain lama.
Pelajaran terpenting dari buku ini adalah bahwa peradaban bergerak melalui gelombang disrupsi. Mereka yang hanya mempertahankan masa lalu pada akhirnya akan dikalahkan oleh mereka yang menciptakan masa depan.
Ketika membaca buku ini, kita memahami mengapa tokoh seperti Edison dan Musk begitu penting. Mereka bukan sekadar pemain dalam permainan yang ada. Mereka mengubah aturan permainannya.
-000-
Buku kedua adalah Elon Musk karya Walter Isaacson, diterbitkan oleh Simon & Schuster pada tahun 2023.
Isaacson menggambarkan Musk bukan sebagai tokoh sempurna, melainkan sebagai manusia yang terus-menerus berperang dengan batas kemampuannya sendiri.
Buku ini menunjukkan bahwa inovasi besar sering lahir dari kombinasi yang tidak nyaman: rasa ingin tahu yang ekstrem, keberanian mengambil risiko, ketahanan menghadapi kegagalan, dan obsesi terhadap tujuan jangka panjang.
Salah satu pelajaran paling penting dari buku tersebut inovator besar hampir selalu terlihat tidak masuk akal sebelum mereka berhasil.
Banyak gagasan Musk pernah dianggap fantasi. Mobil listrik massal dianggap mustahil. Roket yang dapat dipakai ulang dianggap tak mungkin. Internet satelit global dianggap terlalu mahal.
Namun sejarah menunjukkan kemajuan sering dimulai dari ide yang pada awalnya terdengar tidak realistis.
Buku ini mengingatkan kita masa depan tidak diciptakan oleh mereka yang selalu benar. Masa depan sering diciptakan oleh mereka yang cukup berani untuk mencoba.
-000-
Saya teringat pengalaman pribadi ketika pertama kali membangun lembaga survei politik puluhan tahun lalu.
Saat itu banyak orang menganggap survei opini publik tidak akan memiliki peran penting dalam politik Indonesia. Demokrasi masih muda. Teknologi informasi masih terbatas. Data belum dianggap aset strategis.
Namun saya percaya bahwa suatu hari keputusan politik akan semakin bergantung pada data dan suara publik. Kepercayaan itulah yang membuat saya bertahan ketika banyak orang meragukan arah yang dipilih.
Kini di Indonesia data lembaga survei menjadi pedoman pertarungan politik pemilu. Saya gabungkan lembaga survei dengan jasa konsultan politik. Dan saya tercatat ikut memenangkan calon presiden lima kali berturut- turut.
Pengalaman itu mengajarkan satu hal. Setiap inovasi selalu lahir dua kali.
Pertama, ia lahir di dalam imajinasi seseorang. Kedua, ia lahir di dunia nyata setelah bertahun-tahun diperjuangkan.
Jarak antara dua kelahiran itulah yang memisahkan pemimpi dari inovator.
Karena itu saya selalu tertarik mempelajari tokoh-tokoh seperti Edison dan Musk. Bukan karena kekayaan mereka. Bukan pula karena popularitas mereka.
Saya tertarik karena mereka menunjukkan bahwa manusia memiliki kemampuan luar biasa untuk memperluas kemungkinan hidupnya.
Mereka mengingatkan kita bahwa masa depan bukan sesuatu yang menunggu untuk ditemukan. Masa depan adalah sesuatu yang diciptakan.
Namun setiap gelombang inovasi selalu membawa dua kemungkinan: membebaskan atau meninggalkan sebagian orang di belakang.
Indonesia tidak boleh sekadar menjadi penonton yang mengagumi masa depan dari kejauhan. Negara harus hadir menyalakan keberanian para inovator lokal agar teknologi yang lahir tidak hanya menghasilkan keuntungan, tetapi juga memperluas kesejahteraan dan menjaga kedaulatan bangsa.
-000-
Peradaban manusia tidak bergerak maju karena jumlah penduduk bertambah. Ia tidak bergerak maju hanya karena modal semakin besar atau teknologi semakin canggih.
Ketika saya melihat perjalanan Edison dan Musk, saya tidak hanya melihat dua individu yang luar biasa. Saya melihat peringatan bagi setiap bangsa.
Jika kita gagal melahirkan inovator, kita akan menjadi konsumen masa depan yang diciptakan orang lain. Tetapi jika kita berhasil melahirkan mereka, kita ikut menulis arah sejarah.
Indonesia baru menyalurkan 0,30% dari PDB untuk riset, jauh di bawah Malaysia 1,1% dan Korea Selatan 4,8%. Kurangnya dana riset dan insentif pajak menghambat lahirnya inovator besar.
Pemerintah perlu menaikkan target riset ke 1% PDB, memberi insentif pajak 200% untuk pengeluaran R&D perusahaan, dan membangun sepuluh inkubator nasional di perguruan tinggi untuk mempercepat disrupsi teknologi.
Peradaban bergerak maju karena dari waktu ke waktu muncul manusia yang berani membayangkan dunia yang berbeda.
Thomas Alva Edison mengubah malam menjadi ruang produktivitas. Elon Musk berusaha mengubah ruang angkasa menjadi bagian dari ekonomi manusia.
Keduanya menunjukkan inovasi terbesar bukan sekadar menciptakan produk baru, melainkan mengubah cara manusia hidup.
Di tengah berbagai tantangan abad ke-21, dunia tidak hanya membutuhkan lebih banyak pengusaha. Dunia membutuhkan lebih banyak inovator penggerak zaman. Mereka yang mampu melihat kemungkinan ketika orang lain hanya melihat keterbatasan.
Karena pada akhirnya, sejarah tidak diubah oleh mereka yang sekadar menyesuaikan diri dengan zaman. Sejarah diubah oleh mereka yang cukup berani menciptakan zaman baru.
Setiap peradaban besar lahir dua kali: pertama di dalam imajinasi seorang inovator, lalu di dalam kehidupan jutaan manusia yang mengikuti jejaknya.*
Jakarta, 7 Juni 2026
REFERENSI
1. The Innovator’s Dilemma, Clayton M. Christensen, Harvard Business Review Press, 1997.
2. Elon Musk, Walter Isaacson, Simon & Schuster, 2023.
-000-
Ratusan esai Denny JA soal filsafat hidup, political economy, sastra, agama dan spiritualitas, minyak dan energi, politik demokrasi, sejarah, positive psychology, catatan perjalanan, review buku, film dan lagu, bisa dilihat di FaceBook Denny JA's World
https://www.facebook.com/share/p/1Bmw94FFho/?mibextid=wwXIfr ***