Resident Evil Reboot Zach Cregger: Film Horor Paling Segar 2026

The Hollywood Reporter

The Hollywood Reporter

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Resident Evil reboot garapan Zach Cregger mengubah reputasi adaptasi game yang lama dicap hambar menjadi film horor-komedi yang ngebut, brutal, dan cerdas. Alih-alih mengulang formula lama, film ini menempatkan penonton dalam thriller 90 menit yang terasa seperti bermain gim, tetapi tetap sinematik dan penuh kejutan.

Ketika diumumkan Zach Cregger akan menggarap reboot Resident Evil, reaksinya sempat terasa seperti langkah mundur. Setelah Barbarian dan Weapons dipuji sebagai horor orisinal paling nekat dalam satu dekade terakhir, kembali ke IP mapan tampak seperti kompromi kreatif.

Kekhawatiran itu masuk akal karena enam film Resident Evil sebelumnya dan upaya reboot Resident Evil: Welcome to Raccoon City kerap dinilai tidak memuaskan. Adaptasi video game sering terjebak pada fan service dangkal atau aksi generik, sehingga kehilangan atmosfer dan ketegangan khas sumbernya.

Namun film ini justru memilih jalur berisiko: meninggalkan karakter ikonik gim dan film terdahulu. Keputusan itu sempat memantik keberatan penggemar lama, tetapi menjadi fondasi bagi Cregger untuk membangun versi yang benar-benar baru.

Terjemahan akurat artikel sumber menyebut Cregger “sepenuhnya meremajakan” seri ini dan “meninggalkan enam film asli dan reboot yang salah arah dalam debu.” Intinya, film ini tidak sekadar memperbaiki, tetapi mengganti standar adaptasi Resident Evil di layar lebar.

Cregger menulis dan menyutradarai dengan energi yang memadukan jump scare dan humor deadpan yang terasa seperti one-liner visual. Struktur filmnya episodik seperti level video game, sehingga tiap lokasi menjadi tantangan baru tanpa membuat ritme mengendur.

Tokoh utama Bryan diperankan Austin Abrams, seorang kurir medis yang menerima tugas mendadak pada malam bersalju. Ia diminta mengantar paket darurat ke rumah sakit di Raccoon City, dan bagi siapa pun yang kenal waralaba ini, misi itu jelas pertanda bencana.

Musibah pertama terjadi ketika mobil Bryan menabrak perempuan yang tiba-tiba berjalan di jalan sepi. Bryan yang berniat baik memasukkan korban berdarah itu ke mobil, mengabaikan posisi tubuhnya yang terpuntir aneh dan sikapnya yang seperti katatonik.

Ketegangan naik saat polisi menghentikannya, lalu memindahkan perempuan itu ke mobil patroli dan menawarkan pengawalan ke rumah sakit. Adegan ini menanam rasa tidak nyaman yang kuat, karena kebaikan hati Bryan selalu berujung petaka.

Setelah itu, film bergerak dari satu lokasi ke lokasi lain, mirip progres permainan yang memaksa pemain beradaptasi cepat. Bryan kehilangan mobil dan tiba di rumah pertanian yang tampak kosong, lalu hampir tewas oleh anjing penjaga dan penghuni rumahnya.

Di momen itu, film membuka kartu monster: tentakel, rahang menganga, dan gigi tajam. Artikel sumber menegaskan bahwa infeksi mengubah manusia menjadi makhluk mirip zombie di Raccoon City, dan ancamannya menyapu cepat.

Cregger bersama penulis Shay Hatten membangun running gag dari pola “menolong orang lalu nyaris mati.” Bryan juga payah memakai senjata dan sial saat mencoba menembak gembok, sehingga komedi lahir dari frustrasi yang sangat manusiawi.

Masuk kota, Bryan menumpang Carl, ilmuwan Umbrella Academy yang diperankan Paul Walter Hauser, serta Maxine, sopir sekaligus pengawal bersenjata yang dimainkan Kali Reis. Mereka memberi latar bahwa paket yang dibawa Bryan adalah antidot yang sangat dibutuhkan untuk menahan wabah.

Film lalu menyajikan set piece yang terus menanjak, termasuk hilangnya Maxine saat turun membasmi zombie. Bryan mengejar dan berakhir di selokan, bertemu pria obesitas yang perutnya meledak dan memunculkan kejutan menjijikkan berikutnya.

Durasi 90 menit disebut “menyegarkan karena tanpa lemak,” dan itu terasa pada kepadatan adegan. Salah satu sekuens paling menonjol adalah saat Bryan menghindari “lorong maut” tubuh-tubuh meledak, ketika zombie menjatuhkan diri dari gedung tinggi tepat ke jalurnya.

Ketika Bryan akhirnya mencapai rumah sakit, film berubah menjadi odyssey menuju lantai teratas. Ada adegan bangsal bersalin yang digambarkan seperti lukisan Hieronymus Bosch, lalu klimaks yang “operatik” dan sengaja berlebihan.

Sesekali Cregger memakai sudut pandang orang pertama, membuat penonton melihat lewat mata Bryan seperti mekanik gim. Strategi ini bukan gimmick semata, karena ia menjahit pengalaman bermain menjadi bahasa sinema yang tetap jelas dan efektif.

Keputusan membuang karakter ikonik gim adalah taruhan besar, tetapi justru menyelamatkan film dari beban nostalgia. Cregger terlihat paham bahwa “setia” bukan berarti menyalin, melainkan memindahkan rasa takut, rasa jijik, dan rasa panik yang membuat Resident Evil hidup.

Humor film ini juga punya fungsi dramaturgis, bukan sekadar selingan. Ketika Bryan menggerutu “Apa lagi ini?” atau “Tadi apaan itu?”, penonton diberi jangkar emosi yang realistis di tengah kegilaan tubuh, tentakel, dan ledakan gore.

Secara industri, reboot ini menunjukkan bahwa adaptasi gim bisa menang bila berani memilih perspektif tunggal yang kuat. Abrams menjadi faktor kunci karena daya tarik “orang biasa” yang compang-camping, namun terus bertahan, membuat horor terasa dekat dan bukan sekadar parade efek.

Meski demikian, pendekatan episodik berpotensi membuat sebagian penonton merasa seperti “berpindah level” tanpa napas dramatis yang panjang. Tetapi artikel sumber menilai kepadatan ritme justru menjadi keunggulan, karena film menghindari adegan pengisi yang sering merusak horor modern.

Resident Evil versi Zach Cregger melampaui premis sederhana dengan kecerdikan sinematik, gore bergaya barok, dan imajinasi set piece yang liar. Ia membuktikan bahwa IP besar tidak harus mematikan keberanian, asalkan sutradara berani menguasai materi dan menertawakan kengerian dengan presisi.

Pertanyaannya kini bukan lagi apakah Resident Evil bisa jadi film bagus, tetapi apakah studio akan memberi ruang bagi lebih banyak adaptasi gim yang berani “mencipta ulang” alih-alih “mengulang.” Jika horor adalah cermin kecemasan kolektif, reboot ini mengingatkan bahwa ketakutan paling efektif sering datang dari hal paling manusiawi: niat baik yang selalu salah tempat.

(Orbit dari berbagai sumber, 18 September 2026)