The Open Championship 2026: Jackson Suber Kejutkan Royal Birkdale
ORBITINDONESIA.COM – The Open Championship 2026 langsung punya cerita tak terduga di Royal Birkdale, ketika debutan Jackson Suber memimpin putaran pertama. Pegolf 26 tahun itu mencetak 5-under 65, mengungguli nama besar seperti Bryson DeChambeau dan juara bertahan Scottie Scheffler.
Jackson Suber belum pernah bermain di The Open Championship sebelum tahun ini, dan pengalaman major-nya pun sangat minim. Sebelum pekan ini, ia baru lolos ke dua turnamen major, sebuah catatan yang biasanya tidak identik dengan pemimpin klasemen awal.
Yang lebih mengejutkan, Suber mengaku baru mulai menyentuh golf links pada Senin, dan total baru memainkan 27 hole sebelum ronde pertamanya. “Monday was my first round of links golf… I've never been to Europe,” ujarnya, menegaskan betapa asingnya panggung ini baginya.
Di sisi lain, sorotan juga mengarah pada Bryson DeChambeau yang datang dengan beban kritik tentang kemampuan bermain di lapangan links. Nick Faldo, juara British Open tiga kali, bahkan menyindir DeChambeau “zero clue” soal cara memainkan links course.
Secara angka, Suber memimpin dengan -5, unggul satu pukulan dari Sungjae Im dan Dan Brown yang sama-sama -4. Di papan atas juga muncul DeChambeau dan sejumlah pemain di -3, sementara Scheffler bertahan di -2 setelah sempat panas di awal ronde.
Ronde 65 Suber terasa “tidak masuk akal” jika hanya melihat CV-nya, karena ia belum pernah menang di Korn Ferry Tour, apalagi PGA Tour. Namun performa terbaru memberi konteks: T6 di John Deere dua pekan lalu, T4 di Canadian Open pada Juni, dan finis keempat di Byron Nelson pada Mei.
Artinya, kejutan ini bukan sekadar keberuntungan satu hari, melainkan puncak dari tren performa yang menanjak. Tetapi The Open selalu menguji daya tahan mental, karena links golf menuntut disiplin arah pukulan, kontrol spin, dan pengambilan keputusan yang tidak bisa “dipaksa” oleh ego.
DeChambeau merespons kritik Faldo dengan cara paling efektif: skor 67 (-3) dan narasi yang rapi tentang strategi. “I think you've got to be a lot more strategic… placing it in the right places,” katanya, seolah mengubah serangan personal menjadi pembuktian teknis.
Dalam konteks Royal Birkdale, kata “strategic” bukan sekadar jargon PR, melainkan kunci bertahan dari jebakan angin, bunker, dan penalti posisi. Jika DeChambeau biasanya identik dengan kekuatan, ronde ini menunjukkan ia juga bisa bermain dengan rem, bukan hanya gas.
Sementara itu, Scheffler memberi contoh betapa cepatnya momentum berubah di major. Ia membuat empat birdie dalam enam hole pertama, tetapi dua bogey di akhir menahannya di -2, cukup dekat namun terasa “kurang” untuk standar juara bertahan.
Rory McIlroy menjadi kontras paling jelas dari euforia papan atas. Ia menutup hari dengan 2-over 72 setelah birdie di hole terakhir, dan posisinya berada di sisi rawan cut line potensial (top 70 dan ties) jika Jumat kembali berat.
The Open Championship 2026 seperti mengingatkan bahwa reputasi tidak otomatis menang melawan kondisi lapangan. Ketika Suber yang “baru 27 hole links” bisa memimpin, itu menampar asumsi bahwa pengalaman Eropa adalah tiket wajib untuk bersaing.
Namun ada sisi lain yang lebih tajam: cerita underdog sering dipuja, tapi major tidak memberi piala pada pemimpin Kamis. Tantangan Suber bukan lagi membuktikan ia bisa membuat skor rendah, melainkan membuktikan ia bisa mengulang proses yang sama saat tekanan mulai memakan keputusan kecil.
DeChambeau juga menarik, karena ia membalik kritik Faldo menjadi panggung pembenaran diri. Tetapi publik perlu jujur, satu ronde “strategic” belum cukup untuk menutup debat, karena links golf menguji konsistensi membaca risiko selama empat hari.
Di sinilah drama sesungguhnya: apakah papan atas akan kembali “normal” saat gelombang tee time berubah pada Jumat. Suber akan start di early wave pukul 2:30 a.m. ET, sementara DeChambeau dan Scheffler berangkat 10:04 a.m. ET, dan perbedaan kondisi bisa menjadi faktor yang tidak adil namun nyata.
Putaran pertama di Royal Birkdale membuka The Open Championship 2026 dengan pertanyaan yang lebih besar dari sekadar skor. Apakah golf modern masih bisa ditentukan oleh ketenangan, penempatan bola, dan keputusan sederhana, bukan hanya nama besar dan rekam jejak?
Jika Suber bertahan, ini bukan hanya kisah mengejutkan, melainkan pelajaran bahwa kompetensi kadang muncul lebih cepat daripada pengakuan. Jika ia runtuh, publik tetap mendapat pengingat bahwa major adalah ujian karakter yang menghukum satu kesalahan kecil dengan keras.
Pada akhirnya, The Open selalu memaksa pemain berdamai dengan ketidakpastian, dan itulah keindahannya. Pertanyaannya, siapa yang paling siap menerima bahwa “strategi” dan “ketenangan” bisa lebih menentukan daripada status bintang? (Orbit dari berbagai sumber, 26 Juli 2026)