OnePlus Tutup di AS-Eropa, OxygenOS Diganti ColorOS
ORBITINDONESIA.COM – Kabar “OnePlus mati” bukan lagi clickbait, karena Oppo disebut menghentikan OnePlus di AS dan Eropa. OxygenOS akan ditinggalkan, dan perangkat OnePlus beralih ke ColorOS mulai Android 17. (Orbit dari berbagai sumber, 29 Juli 2026)
Terjemahan akurat artikel sumber: Penulis menyebut OnePlus “mati—kali ini benar-benar,” lalu menoleh ke pengalaman pribadinya memakai ponsel OnePlus yang naik-turun. Ia mengaku sedih, karena OnePlus sempat memunculkan “rasa gembira” yang jarang ia temukan pada merek lain, bahkan melahirkan dua ponsel Android favoritnya. (Orbit dari berbagai sumber, 29 Juli 2026)
Ia merangkum kabar pekan ini: OnePlus berhenti, setidaknya di AS dan Eropa, karena Oppo “mencabut colokan.” India disebut menyusul meski ada bantahan OnePlus, sementara pembaruan perangkat lunak tetap berjalan. OxygenOS akan hilang, dan semua perangkat OnePlus akan pindah ke ColorOS mulai Android 17. (Orbit dari berbagai sumber, 29 Juli 2026)
Menurut penulis, tanda-tandanya sudah lama terlihat dan narasi “merek antusias pada akhirnya akan mengkhianati Anda” terbukti. OnePlus dianggap meninggalkan akar, lalu berubah menjadi Oppo versi global. Ciri khas awal seperti kedekatan dengan CyanogenMod atau Android yang terasa “murni” dinilai memudar hingga nyaris tak dikenali. (Orbit dari berbagai sumber, 29 Juli 2026)
Keputusan mengganti OxygenOS ke ColorOS menutup satu bab penting: diferensiasi perangkat Android bukan hanya soal chipset, tetapi soal identitas software. Ketika antarmuka, filosofi desain, dan ritme pembaruan diseragamkan, OnePlus kehilangan alasan emosional untuk dipilih. (Orbit dari berbagai sumber, 29 Juli 2026)
Penulis menegaskan sorotan OnePlus berbeda bagi tiap orang, ada yang mencintai hardware dan ada yang mengidolakan software. Namun baginya, dua rilis menjadi puncak yang terasa seperti “kebangkitan” singkat, sebelum harapan itu runtuh. Dua rilis itu adalah OnePlus Open dan OnePlus 13. (Orbit dari berbagai sumber, 29 Juli 2026)
OnePlus Open disebut sebagai salah satu ponsel lipat terbaik yang pernah dirilis, bahkan “masih” layak disebut demikian. Ia menilai hardware-nya berada di garis terdepan, dengan bodi tipis tanpa mengorbankan baterai atau kamera. Ia juga menyatakan kamera Open masih mengungguli ponsel lipat terbaru Samsung. (Orbit dari berbagai sumber, 29 Juli 2026)
Inovasi kunci yang disebut adalah “Open Canvas,” yaitu cara multitasking yang seolah-olah menyediakan layar lebih luas dari ukuran sebenarnya. Pengguna bisa berpindah antar aplikasi dengan cepat, dan pendekatan ini dianggap brilian. Android memang mengadopsi versi serupa, tetapi penulis menilai rasanya tidak sama. (Orbit dari berbagai sumber, 29 Juli 2026)
Setelah itu, OnePlus 13 dipuji sebagai momen langka ketika OnePlus “meyakinkan” penulis bahwa mereka mampu membuat ponsel yang secara inheren bagus. Ia menyebut hampir satu dekade sebelumnya dipenuhi salah langkah pada software, kamera, harga, dan faktor lain. OnePlus sering berada di posisi canggung, tidak pernah menjadi pilihan utama dibanding pesaing. (Orbit dari berbagai sumber, 29 Juli 2026)
Di OnePlus 13, penulis menilai semuanya menang: baterai luar biasa yang belum tertandingi flagship Android lain di AS. Ia juga memuji performa dan manajemen panas, serta kondisi “Oppo-fication” OxygenOS yang dianggap sudah cukup matang. Ia menyindir tren industri yang sedang berlomba meniru estetika Apple “Liquid Glass.” (Orbit dari berbagai sumber, 29 Juli 2026)
Kamera OnePlus 13 disebut mengejutkan karena “punya opini” dan terasa hidup, ketika Pixel yang biasa ia pakai justru membuat foto terasa hambar. Ia menutup pujian dengan kualitas hardware yang terlihat dan terasa premium. Dalam ulasannya, ia menyebut inilah perangkat yang akhirnya memenuhi mantra “Never Settle.” (Orbit dari berbagai sumber, 29 Juli 2026)
Ia masih mengingat momen lain seperti OnePlus 7T dan OnePlus 3, tetapi dua produk tadi dianggap paling tepat sasaran. Setelah itu, Oppo disebut menyimpan ponsel lipatnya yang makin bagus untuk diri sendiri. OnePlus 15 dinilai turun kelas dalam banyak aspek kecuali daya tahan baterai. (Orbit dari berbagai sumber, 29 Juli 2026)
Dari sudut tren pasar, kisah ini memperlihatkan pola konsolidasi: merek “anak” yang awalnya diberi kebebasan bereksperimen, akhirnya disatukan ketika skala dan efisiensi menjadi prioritas. OS tunggal memudahkan pengembangan, tetapi mengikis karakter yang membuat komunitas bertahan. Pada akhirnya, yang tersisa hanya spesifikasi, bukan cerita. (Orbit dari berbagai sumber, 29 Juli 2026)
Yang paling pahit bukan sekadar OnePlus tutup di AS-Eropa, melainkan cara ia berakhir tanpa seremoni. Penulis menyebut tidak ada “perpisahan final,” tidak ada momen penutup yang menegaskan warisan merek. Yang ada justru flagship terakhir yang dianggap banyak orang sebagai kegagalan. (Orbit dari berbagai sumber, 29 Juli 2026)
Kutipan yang dipakai penulis terasa seperti vonis budaya: OnePlus berakhir “bukan dengan dentuman, tetapi dengan rintihan.” Kalimat itu menyiratkan bahwa kejatuhan OnePlus bukan tragedi mendadak, melainkan pelan-pelan kehilangan relevansi. Saat sebuah merek berhenti punya “alasan untuk dicintai,” penutupan hanya formalitas. (Orbit dari berbagai sumber, 29 Juli 2026)
Dalam kacamata jurnalisme teknologi, ini juga kritik bagi ekosistem Android di AS yang makin sempit. Jika OnePlus hilang, pilihan publik praktis mengerucut pada Samsung dan Google, dengan sedikit ruang bagi penantang. Kompetisi yang mengecil sering berujung pada inovasi yang lebih aman, lebih homogen, dan lebih mudah ditebak. (Orbit dari berbagai sumber, 29 Juli 2026)
Pelajaran lain adalah tentang “merek antusias” yang hidup dari komunitas, bukan dari iklan. Ketika komunitas merasa dikhianati—misalnya lewat perubahan identitas software, strategi harga, atau arah produk—kepercayaan sulit dipulihkan. OnePlus sempat mendapat kesempatan kedua lewat Open dan 13, tetapi momentum itu tidak cukup panjang untuk mengubah takdir. (Orbit dari berbagai sumber, 29 Juli 2026)
OnePlus mungkin akan tetap hidup sebagai nama di beberapa pasar, tetapi kematian simboliknya sudah terjadi ketika OxygenOS dilebur dan diferensiasinya menghilang. Penulis mengaku akan merindukan masa singkat antara OnePlus Open dan OnePlus 13, ketika OnePlus kembali terasa berani. Ia menutup dengan pertanyaan kepada pembaca: bagaimana pendapat Anda tentang penutupan ini, dan apakah Anda masih memakai OnePlus. (Orbit dari berbagai sumber, 29 Juli 2026)
Pada akhirnya, kisah OnePlus mengingatkan bahwa teknologi bukan hanya soal perangkat, melainkan relasi emosional antara merek dan pengguna. Ketika relasi itu diputus oleh strategi korporasi, yang tersisa adalah nostalgia, dan pasar yang lebih sepi. Mungkin pertanyaan terpentingnya: merek mana berikutnya yang akan “menjadi dewasa” dengan cara mengorbankan jiwanya sendiri. (Orbit dari berbagai sumber, 29 Juli 2026)