Gugatan Produser Obsession: Leonora Darby Klaim Dirampok Profit
ORBITINDONESIA.COM – Gugatan produser Obsession meledak di Los Angeles, setelah Leonora Ann Darby menuding dua eksekutif produser lain “merampok” imbalan yang dijanjikan kepadanya. Dalam dokumen 135 halaman, Darby menyebut pola tujuh tahun perlakuan tidak setara dan janji kompensasi yang diingkari, tepat ketika film horor Obsession meraup sekitar US$510 juta box office global.
Terjemahan akurat artikel sumber menyebut Darby mengajukan gugatan pelanggaran kontrak pada 28 Agustus di Pengadilan Tinggi Los Angeles. Gugatan itu menuduh dua produser film pria yang lebih tua, James Harris dan Mark Lane dari Tea Shop Productions, memperlakukan Darby sebagai bawahan dan tidak membayar sesuai janji.
Darby mengklaim ia direkrut pada 2019 saat perusahaan disebut “gagal” dan “baru tumbuh,” dengan iming-iming status produser setara. Kesetaraan itu mencakup kompensasi, arah perusahaan, keputusan proyek, transparansi finansial, dan akses peluang bisnis.
Inti janji yang dipersoalkan adalah pembagian keuntungan bersih. Pada 2024, Darby disebut dijanjikan menerima sepertiga (33,33%) dari net profit yang menjadi hak Tea Shop untuk film-film yang ia pimpin sebagai lead producer, plus partisipasi langsung dalam perjanjian akun pengelolaan koleksi.
Dokumen gugatan menegaskan Darby menjalankan bagiannya. Ia disebut berkembang dari eksekutif pengembangan dan produksi menjadi satu dari tiga produser Tea Shop, sambil menginisiasi proyek, memasang sineas, merakit pendanaan, dan mengawal film dari pra-produksi hingga penyerahan.
Darby juga mengklaim kerap “menambal” pekerjaan saat Harris atau Lane membutuhkan orang lain untuk mengangkat beban. Ia menyebut Obsession menjadi titik pecah, karena ia turun tangan menyelamatkan film itu secara kreatif dan pascaproduksi.
Kasus ini menarik karena menyatukan dua hal yang jarang dibuka terang-terangan: “net profit” dan relasi kuasa di balik layar. “Net profit” di Hollywood terkenal lentur, karena biaya, fee, dan alokasi internal bisa membuat film laris tetap terlihat “tidak untung” di atas kertas.
Namun gugatan Darby tidak berhenti pada keluhan abstrak tentang akuntansi. Ia menuding dipotong dari “overall net profits” Obsession, kecuali satu pembayaran awal, meski film itu disebut berbiaya kurang dari US$800.000.
Jika angka box office global sekitar US$510 juta benar, jurang antara biaya produksi dan pendapatan terlihat ekstrem. Meski box office bukan laba bersih, skala tersebut membuat klaim “Do the profit-participation math!” dalam gugatan menjadi semacam sindiran yang mudah dipahami publik.
Darby mengakui menerima pembayaran tambahan US$300.000 untuk Obsession di akhir. Namun korespondensi email dalam gugatan disebut menunjukkan ia tetap mendapat “ujung yang pendek,” serta mengalami pengucilan publik dan media oleh Harris dan Lane.
Gugatan juga meminta “equitable accounting and inquiry” atas Obsession dan sejumlah judul lain seperti A Banquet, Banquet, Bull, The Wasp, The Cut, Into the Deep, Tornado, dan The Surfer. Permintaan audit semacam ini biasanya menjadi kunci, karena memaksa pembukaan catatan yang selama ini tertutup bagi pihak yang merasa dipinggirkan.
Detail paling strategis adalah klaim Darby tentang perannya mengembalikan sutradara-penulis Curry Barker ke “kursi pengemudi.” Darby juga mengklaim kontribusinya membuat Obsession siap terjual US$16,2 juta ke Focus Features di Toronto Film Festival tahun lalu, sebelum rilis lebar pada 15 Mei.
Yang tidak kalah penting, Focus Features tidak menjadi tergugat, begitu pula eksekutif produser Jason Blum. Ini memberi sinyal bahwa sengketa diarahkan ke internal Tea Shop dan individu Harris-Lane, bukan ke distributor yang merilis film.
Gugatan produser Obsession ini terasa seperti pelajaran tentang bagaimana “kesetaraan” di industri kreatif sering berhenti di presentasi, bukan di pembukuan. Darby menggambarkan dirinya sebagai penggerak yang mengurus sistem, vendor, staf, dan krisis, tetapi tetap diposisikan sebagai bawahan.
Frasa dalam gugatan tentang perlakuan “merendahkan dan bergender” menambah lapisan yang lebih tajam. Ini bukan semata sengketa angka, melainkan sengketa pengakuan, akses informasi, dan siapa yang berhak menyebut diri sebagai penyelamat proyek.
Di titik ini, publik biasanya tergoda menilai cepat: siapa yang benar dan siapa yang serakah. Namun isu yang lebih besar adalah struktur kontrak dan transparansi, karena pihak yang tidak memegang kontrol rekening dan laporan akan selalu berada pada posisi rapuh.
Jika Darby benar memegang janji 33,33% net profit, maka pemotongan aksesnya bukan sekadar wanprestasi, melainkan penguncian pintu terhadap mekanisme verifikasi. Jika Tea Shop punya versi berbeda, mereka tetap perlu menjelaskan mengapa pembayaran hanya berujung pada “satu pembayaran awal” dan tambahan US$300.000.
Kasus Leonora Darby melawan Tea Shop Productions menunjukkan betapa sukses box office tidak otomatis berarti keadilan di balik layar. Ketika film kecil berbiaya di bawah US$800.000 berubah menjadi fenomena ratusan juta dolar, pertanyaan paling mendasar justru kembali ke hal sederhana: siapa yang dibayar, berapa, dan berdasarkan catatan apa.
Gugatan ini pada akhirnya menguji satu prinsip yang sering diucapkan industri, tetapi jarang dipraktikkan tanpa paksaan pengadilan, yaitu transparansi. Jika “penyelamat” proyek bisa merasa dirampok setelah film menjadi hit global, berapa banyak pekerja lain yang bahkan tidak punya akses untuk menggugat?
Di tengah gegap gempita Obsession, sengketa ini mengingatkan bahwa karya besar sering lahir dari kerja tak terlihat yang mudah dihapus dari narasi resmi. Barangkali pertanyaan yang perlu dibawa pulang pembaca adalah: apakah industri film akan belajar membagi kredit dan keuntungan dengan cara yang dapat diaudit, atau terus menunggu skandal berikutnya untuk berubah?
(Orbit dari berbagai sumber, 3 September 2026)