Harga Hewan Kurban Gaza Tembus Rp124 Juta, Idul Adha Kian Sunyi
ORBITINDONESIA.COM – Harga hewan kurban di Gaza melonjak hingga US$ 6.000–7.000, setara Rp 106 juta–Rp 124 juta. Kenaikan ekstrem ini membuat Idul Adha di Gaza berubah dari perayaan menjadi penanda krisis kemanusiaan yang tak berujung.
Sebelum perang, hewan kurban di Gaza masih bisa didapat sekitar US$ 500 per ekor. Kini, perang, penutupan perlintasan, dan kehancuran infrastruktur peternakan membuat pasokan tersendat total.
Juru Bicara Kementerian Pertanian yang dikelola Hamas, Raafat Asaliya, menyebut impor berhenti sepenuhnya karena perang dan penutupan perlintasan. Ia menegaskan peternakan, kandang, dan gudang pakan banyak yang hancur, sehingga jalur pasokan runtuh dari hulu.
Data sebelum perang menunjukkan skala kebutuhan yang besar menjelang Idul Adha. Gaza Timur biasanya mengimpor 10.000–20.000 anak sapi dan 30.000–40.000 domba setiap tahun, angka yang kini tinggal catatan masa lalu.
Kenaikan harga dari sekitar US$ 500 menjadi US$ 6.000–7.000 berarti lompatan 12 sampai 14 kali lipat. Ini bukan sekadar inflasi musiman, melainkan gejala ekonomi perang ketika barang langka bertemu daya beli yang runtuh.
Maher al-Tabbaa dari Kamar Dagang Gaza menyebut harga hewan kurban kini menembus kisaran tersebut. Dalam ekonomi yang terisolasi, harga tidak lagi dibentuk oleh kompetisi normal, melainkan oleh akses, risiko, dan kelangkaan.
Pedagang ternak Salah Afana menambahkan bahwa permintaan hewan kurban “hampir tidak ada lagi” karena kemiskinan meluas. Artinya, pasar mengalami paradoks: harga melambung, tetapi pembeli menghilang karena masyarakat kehilangan pendapatan dan rumah.
Di sisi pasokan, kematian ternak akibat serangan udara, kekurangan pakan, dan kolapsnya layanan veteriner memperkecil populasi hewan yang tersisa. Ketika tidak ada ternak yang masuk karena perlintasan ditutup, stok yang ada menjadi semakin rapuh dan mahal.
Dalam konteks Idul Adha, kurban bukan hanya komoditas, tetapi ritual sosial yang menggerakkan distribusi daging ke keluarga miskin. Ketika kurban lenyap dari meja, yang hilang bukan sekadar daging, melainkan mekanisme solidaritas yang selama ini menutup celah ketimpangan.
Tiga tahun tanpa kurban mengubah makna Idul Adha di Gaza menjadi kalender duka yang berulang. Raafat Asaliya bahkan berkata tidak ada yang tahu berapa banyak lagi Idul Adha tanpa kurban yang harus dijalani warga Gaza, sebuah kalimat yang terdengar seperti ramalan kemacetan sejarah.
Ahmed Nashwan menggambarkan tradisi keluarga memilih hewan kurban yang kini tak lagi terjadi selama tiga tahun berturut-turut. Ketika ritual kolektif hilang, perang tidak hanya merusak bangunan, tetapi juga memutus memori bersama yang membangun ketahanan psikologis.
Mohammed al-Hissi, ayah empat anak dari Gaza City, menyebut kurban menjadi hampir mustahil akibat kelangkaan parah dan harga yang melonjak. Ia mengingat anak-anaknya yang dulu bangun pagi dengan pakaian baru, tetapi kini keluarga bahkan tidak bisa memikirkan membeli hewan kurban.
Kenaikan harga hewan kurban Gaza adalah indikator yang mudah dipahami publik, namun pesannya lebih dalam: blokade dan kehancuran logistik menjadikan kebutuhan dasar tunduk pada politik akses. Dalam situasi seperti ini, “pasar” tidak lagi netral, karena jalur hidup masyarakat ditentukan oleh pintu yang dibuka atau ditutup.
Idul Adha di Gaza kini memantulkan satu kenyataan: ketika pasokan terputus dan kemiskinan meluas, tradisi pun menjadi kemewahan. Harga hewan kurban yang menembus Rp 124 juta adalah angka yang menjerit, tetapi yang lebih sunyi adalah keluarga yang tak lagi mampu merayakan.
Jika kurban selama ini menjadi bahasa berbagi, maka ketiadaannya menandai putusnya percakapan sosial antara yang mampu dan yang membutuhkan. Pertanyaannya, berapa lama dunia akan membiarkan sebuah perayaan keagamaan berubah menjadi pengingat bahwa akses pangan dan martabat bisa dibekukan oleh perang.
(Orbit dari berbagai sumber, 4 Juni 2026)