Hipotesis Silurian: Peradaban Purba dan Jejak Perubahan Iklim
ORBITINDONESIA.COM – Hipotesis Silurian kembali memantik rasa ingin tahu publik tentang peradaban purba dan jejak perubahan iklim di Bumi. Dua ilmuwan NASA dan astrobiologi bertanya: jika pernah ada peradaban maju sebelum manusia, apakah catatannya masih terbaca hari ini?
Semua bermula dari percakapan tahun 2017 ketika astrobiolog Adam Frank mendatangi ilmuwan NASA Gavin Schmidt dengan pertanyaan ganjil: apakah alien mengalami perubahan iklim. Schmidt justru membalas lebih tajam, memotong asumsi Frank bahwa “tentu tidak pernah ada peradaban lain di Bumi,” dengan pertanyaan, “Bagaimana kamu tahu itu?”
Dari momen “rekaman tergores” itu, keduanya merumuskan “Hipotesis Silurian,” dinamai dari ras reptil fiksi di serial Doctor Who. Mereka menerbitkan makalah pada 2018, bukan untuk membuktikan peradaban purba itu nyata, melainkan untuk memetakan jenis bukti apa yang seharusnya dicari.
Hipotesis ini terasa relevan karena manusia sedang mengubah iklim secara cepat lewat pembakaran bahan bakar fosil. Ilmuwan atmosfer Katharine Hayhoe menyebutnya eksperimen pikiran yang membuka “kerentanan global” kita, karena ia memaksa kita menatap masa depan sekaligus masa lalu.
Schmidt tertarik karena ada anomali iklim besar sekitar 55 juta tahun lalu, ketika suhu global melonjak hingga sekitar 15 derajat Fahrenheit dan ekosistem kolaps. Periode itu dikenal sebagai Paleocene-Eocene Thermal Maximum, yang sejak 1990-an diduga dipicu letusan vulkanik raksasa atau pelepasan metana mendadak, tetapi penyebab pastinya masih diperdebatkan.
Kemiripannya dengan zaman sekarang membuat pertanyaan menjadi tidak nyaman: apakah semua lonjakan karbon dan kepunahan selalu murni alami. Frank dan Schmidt menjawabnya dengan pendekatan forensik, yakni menelusuri kemungkinan jejak peradaban lewat geologi, fosil, dan kimia sedimen.
Bukti langsung seperti bangunan atau artefak dinilai paling rapuh terhadap waktu. Hanya sekitar 1% permukaan Bumi saat ini yang terurbanisasi, dan dalam jutaan tahun, tektonik, erosi, serta vulkanisme dapat menghapusnya hampir tanpa sisa.
Bahkan daratan “tua” pun ternyata muda dalam skala geologi. Dalam laporan itu disebutkan hamparan daratan besar tertua yang tersisa adalah Gurun Negev di Israel selatan, berumur sekitar 1,8 juta tahun, yang menunjukkan betapa cepat permukaan Bumi “direset.”
Mereka lalu menoleh ke fosil, tetapi catatan fosil juga sangat tidak lengkap. Dinosaurus hidup sekitar 180 juta tahun, namun hanya beberapa ribu fosil nyaris lengkap yang ditemukan, sehingga peradaban yang bertahan 100.000 tahun bisa saja menjadi sekadar kedipan dalam 400 juta tahun sejarah kehidupan kompleks.
Karena itu, fokus bergeser ke “sidik jari” kimia yang lebih tahan lama. Frank memberi analogi lapisan batuan seperti di Grand Canyon, di mana setiap strata menyimpan memori kimia Bumi pada masanya, termasuk perubahan karbon yang bisa menandai gangguan besar.
Penulis juga menimbang “teknofosil” yang mungkin ditinggalkan manusia modern. Plastik, hormon sintetis pertanian, bahan kimia persisten yang sulit terurai, hingga logam berat dari elektronik berpotensi mengendap sebagai sinyal yang dapat dibaca jutaan tahun mendatang.
Namun, tidak semua ilmuwan sepakat bahwa jejak itu mudah luput. Geolog dan paleontolog Jan Zalasiewicz menilai hipotesis ini “indah dan sangat menggugah,” tetapi ia mengkritik bahwa Frank dan Schmidt meremehkan besarnya transformasi manusia modern dan efektifnya proses fosilisasi dalam merekam sejarah planet.
Zalasiewicz bahkan berseloroh kita tidak bisa menutup kemungkinan “dinosaurus yang bisa menyanyi aria kompleks” atau amonit Jura yang menulis puisi. Tetapi begitu ada kota, peleburan logam, produksi dan pembuangan plastik, jejaknya akan menjadi sangat jelas dan sulit disamarkan oleh waktu.
Karena itu, ia nyaman menyingkirkan kemungkinan pernah ada peradaban “seperti kita” sebelum manusia. Ia menyebut tipe itu sebagai peradaban yang rakus energi, manipulatif, sangat konstruksional, dan menghasilkan limbah dalam jumlah kolosal.
Di titik ini, Hipotesis Silurian lebih mirip cermin ketimbang teka-teki arkeologi. Ia memaksa kita menguji kesombongan modern bahwa manusia adalah satu-satunya spesies yang mampu mengubah planet, sekaligus menguji ketakutan bahwa perubahan itu mungkin berakhir tragis.
Frank sendiri mengakui posisi mereka ganjil karena menulis studi tentang teori yang tidak mereka yakini benar, hanya saja belum bisa sepenuhnya disingkirkan. Baginya, tujuan utamanya adalah daftar pencarian: apa yang harus dicari “dengan resolusi lebih tinggi” agar klaim masa lalu bisa diuji secara ilmiah.
Nilai terkuat hipotesis ini justru berada pada pertanyaan tentang umur peradaban teknologi. Jika peradaban yang memanen energi skala global cenderung memicu krisis iklim, maka masalahnya bukan sekadar sains iklim, melainkan desain peradaban itu sendiri.
Kalimat Frank terdengar seperti peringatan yang menyamar sebagai spekulasi: kita cukup cerdas membangun teknologi, tetapi mungkin tidak cukup cerdas mengelola konsekuensi penggeser iklimnya. Ia bertanya, “Apakah kita eksperimen yang dijalankan planet ini, yang akan gagal?”
Hipotesis Silurian tidak meminta kita percaya ada peradaban purba tersembunyi, tetapi meminta kita jujur pada bukti dan rendah hati pada ketidakpastian. Ia juga mengingatkan bahwa jejak terbesar peradaban mungkin bukan monumen, melainkan perubahan kimia atmosfer dan sedimen yang bertahan jauh lebih lama dari nama-nama kita.
Jika benar Bumi mampu “menghapus” kota dan mesin dalam skala jutaan tahun, maka yang tersisa adalah pelajaran tentang batas-batas pertumbuhan. Pertanyaannya kini bukan apakah ada Silurian, melainkan apakah manusia bisa menjadi peradaban yang tidak hanya canggih, tetapi juga panjang umur.
(Orbit dari berbagai sumber, 5 Agustus 2026)