Qatar Sebut Sanksi Baru AS Terhadap Iran Bersifat 'Sepihak'
ORBITINDONESIA.COM - Qatar pada hari Selasa, 25 Agustus 2026 menyatakan bahwa sanksi baru AS terhadap Iran bersifat "sepihak," seraya menegaskan bahwa Doha terus melanjutkan upaya mediasi untuk menyelesaikan konflik antara Teheran dan Washington melalui perundingan, demikian dilaporkan Anadolu.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri, Majed al-Ansari, dalam taklimat berita mingguan mengatakan bahwa Qatar tetap mendukung upaya mediasi untuk menyelesaikan konflik tersebut dan membawa kembali AS serta Iran ke meja perundingan.
Ia mengatakan bahwa komunikasi Qatar dengan pihak-pihak terkait terus berlanjut dalam beberapa pekan terakhir, namun belum ada perkembangan baru dalam proses mediasi tersebut.
Ansari menegaskan bahwa seluruh negara Teluk mendukung tercapainya solusi damai atas konflik AS-Iran, seraya menyebutkan adanya koordinasi penuh di antara negara-negara Teluk untuk menghadapi berbagai skenario yang mungkin timbul akibat eskalasi apa pun.
Ia memperingatkan bahwa eskalasi lebih lanjut akan berdampak luas, baik bagi kawasan maupun dunia.
Terkait Selat Hormuz, Ansari mengatakan bahwa pemulihan navigasi normal di jalur perairan strategis tersebut tetap menjadi salah satu prioritas Qatar.
Ia menyatakan bahwa situasi di selat tersebut harus kembali seperti sebelum konflik terjadi, serta menekankan perlunya menjamin kebebasan navigasi.
Ansari menuduh Iran menutup Selat Hormuz, tindakan yang melanggar prinsip kebebasan navigasi menurut hukum internasional.
Ia juga menolak upaya Iran untuk melibatkan negara-negara di kawasan tersebut setiap kali Teheran mendapat serangan dari pihak ketiga.
Ansari menegaskan bahwa Qatar tidak memihak salah satu pihak, seraya menyatakan bahwa prioritas utamanya adalah tercapainya kesepakatan di antara pihak-pihak yang bertikai.
Pada hari Senin, AS meluncurkan apa yang mereka sebut sebagai "Operasi Economic Outcast" (Operasi Pengucilan Ekonomi), sebuah kampanye sanksi menyeluruh yang bertujuan mengisolasi Iran dari sistem keuangan global.
Mengenai Gaza, Ansari menyerukan adanya tekanan terhadap Israel untuk mempercepat pelaksanaan kesepakatan gencatan senjata sesuai rencana Presiden AS Donald Trump.
"Jika Israel ingin menjadi bagian dari kawasan ini, mereka harus memenuhi kewajiban-kewajibannya," tambahnya. ***