Xi Jinping Dukung Timur Tengah Tolak Campur Tangan Asing

CNN Indonesia

CNN Indonesia

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Xi Jinping menegaskan dukungan China agar negara-negara Timur Tengah menolak campur tangan pihak luar saat bertemu Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi. Pesan itu terdengar sederhana, tetapi ia datang di tengah perang Gaza, ketegangan Laut Merah, dan perebutan pengaruh global yang kian terbuka.

Pernyataan Xi kepada Sisi bukan sekadar basa-basi diplomatik, melainkan bagian dari narasi besar China tentang “kedaulatan” dan “non-intervensi.” Mesir penting bagi Beijing karena menguasai simpul logistik Terusan Suez dan menjadi jangkar politik di dunia Arab.

Di sisi lain, Timur Tengah selama puluhan tahun menjadi arena intervensi, perang proksi, dan perubahan rezim yang sering dibenarkan atas nama stabilitas. Publik regional semakin sensitif terhadap keterlibatan asing, terutama ketika konflik berkepanjangan tidak kunjung selesai.

China membaca ruang itu sebagai peluang untuk tampil berbeda dari model Barat yang kerap melekat dengan syarat politik dan keamanan. Namun, “menolak campur tangan” juga bisa menjadi payung retoris yang lentur, tergantung siapa yang mendefinisikan campur tangan dan kapan ia dianggap sah.

Dalam beberapa tahun terakhir, Beijing memperluas jejaknya lewat investasi, energi, dan infrastruktur, termasuk proyek-proyek yang terhubung dengan Belt and Road Initiative (BRI). Mesir sendiri menjadi salah satu mitra penting BRI, terutama di kawasan ekonomi Terusan Suez yang diproyeksikan sebagai pusat manufaktur dan logistik.

Dari sisi energi, Timur Tengah tetap vital karena sebagian besar impor minyak China berasal dari kawasan Teluk. Ketika keamanan pasokan dipertaruhkan oleh konflik dan sanksi, China berkepentingan mendorong stabilitas tanpa harus mengirim pasukan atau memimpin koalisi militer.

Xi juga memetik keuntungan reputasional dari peran mediasi, seperti ketika China memfasilitasi pemulihan hubungan Saudi-Iran pada 2023. Walau dampaknya fluktuatif, momen itu mengirim sinyal bahwa Beijing ingin dikenal sebagai broker politik, bukan hanya pembeli minyak.

Namun, dukungan “anti-intervensi” tidak otomatis netral, karena ia berkelindan dengan persaingan strategis China-AS. Ketika Washington mempertahankan jaringan pangkalan dan aliansi keamanan, Beijing menawarkan paket ekonomi dan bahasa kedaulatan yang terasa lebih nyaman bagi banyak rezim.

Mesir, pada saat yang sama, memainkan politik keseimbangan yang pragmatis. Kairo menerima kerja sama ekonomi dengan China, tetapi tetap menjaga hubungan militer dan bantuan dengan Amerika Serikat, karena kebutuhan stabilitas internal dan modernisasi pertahanan belum sepenuhnya tergantikan.

Di level regional, seruan menolak campur tangan bisa dibaca sebagai dukungan moral bagi negara-negara yang ingin menentukan nasibnya sendiri. Tetapi ia juga mengandung risiko: jika semua pihak menutup pintu pada tekanan eksternal, siapa yang memaksa akuntabilitas ketika pelanggaran kemanusiaan terjadi?

Pernyataan Xi kepada Sisi tampak seperti pelajaran etika geopolitik, tetapi ia juga strategi komunikasi yang efektif. Dengan satu kalimat, China memosisikan diri sebagai pembela kedaulatan sekaligus mengikis legitimasi rival yang dianggap terlalu sering “mengatur” kawasan.

Masalahnya, publik Timur Tengah tidak hanya butuh slogan, melainkan hasil yang bisa dirasakan: gencatan senjata yang bertahan, ekonomi yang pulih, dan keamanan maritim yang terjaga. Jika China ingin kredibel, dukungan menolak campur tangan harus diikuti keberanian menanggung biaya diplomatik ketika pihak-pihak kuat melanggar norma.

Mesir pun perlu berhati-hati agar narasi anti-intervensi tidak berubah menjadi pembenaran untuk membungkam kritik domestik atau menunda reformasi. Kedaulatan adalah hak, tetapi ia juga tanggung jawab, termasuk melindungi warga dan membuka ruang kebijakan yang transparan.

Di titik ini, pertemuan Xi dan Sisi mencerminkan pergeseran tatanan: Timur Tengah tidak lagi sekadar objek, melainkan pasar pengaruh yang bisa memilih. Tetapi pilihan itu tidak pernah gratis, karena setiap mitra besar membawa kepentingan, syarat tersirat, dan konsekuensi jangka panjang.

Seruan Xi Jinping agar negara-negara Timur Tengah menolak campur tangan pihak luar terdengar selaras dengan luka sejarah kawasan. Namun, ia juga menguji kedewasaan politik regional: bisakah kedaulatan dijaga tanpa menutup mata dari pelanggaran, korupsi, dan kekerasan?

Pada akhirnya, pertanyaan terpenting bukan siapa yang paling lantang bicara non-intervensi, melainkan siapa yang paling konsisten membela martabat manusia ketika krisis datang. Jika Timur Tengah ingin benar-benar merdeka dari bayang-bayang kekuatan besar, ia harus membangun institusi yang kuat, bukan sekadar mengganti patron. (Orbit dari berbagai sumber, 8 September 2026)