Florida Basis Republik: Peta Gerrymander DeSantis Ubah Pemilu

The New York Times

The New York Times

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Pemilu pendahuluan (primary) Florida menegaskan satu hal: negara bagian yang dulu “swing state” terbesar Amerika kini berubah menjadi benteng Partai Republik. Kontestasi yang dulu menegangkan hingga memicu penghitungan ulang, kini makin sering terasa selesai bahkan sebelum hari pemungutan suara.

Dalam pemilu kali ini, pemilih memilih kandidat kongres berdasarkan peta distrik baru yang digambar ulang oleh legislator Republik dan menambah empat kursi yang condong Republik. Demokrat menyebutnya perebutan kekuasaan, sementara bagi Gubernur Ron DeSantis, ini tampak seperti kemenangan besar terakhir sebelum masa jabatannya berakhir karena batasan periode.

Florida juga memilih kandidat untuk Senat dan menyeleksi calon penerus DeSantis, tetapi tensinya tidak setinggi satu dekade lalu. Bahkan ketika Partai Republik menghadapi tahun pemilu paruh waktu yang berat karena turunnya angka jajak pendapat Donald Trump, struktur politik Florida tetap memberi mereka keunggulan.

Data pendaftaran pemilih menjelaskan perubahan itu secara telanjang. Pada 2018, Demokrat unggul sekitar 250.000 pemilih terdaftar, namun kini Republik unggul lebih dari 1,5 juta pemilih terdaftar.

DeSantis mengklaim perubahan itu lahir dari kerja politik yang konsisten dan kepercayaan pemilih yang dibangun dari waktu ke waktu. “Kami benar-benar menghormati para pemilih dan bekerja keras membangun kepercayaan dan dukungan itu,” katanya pada Juni, menyoroti pembalikan angka registrasi tersebut.

Efeknya terasa di Kongres, karena Florida pernah mengirim 13 Demokrat hanya enam tahun lalu. Dengan peta baru, jumlah Demokrat bisa merosot menjadi hanya empat tahun depan bila semua kursi yang “dirancang” itu jatuh ke Republik.

Kompetisi riil kini menyusut, sehingga mayoritas dari 28 pemilihan distrik kongres Florida praktis ditentukan di primary. Republik paling mencemaskan Distrik Kongres ke-7 di timur laut Orlando, tempat Cory Mills maju lagi di tengah skandal dan penyelidikan Komite Etik DPR.

Dua anggota DPR Republik bahkan mendukung penantangnya, dengan argumen sederhana: jangan mempertaruhkan kursi karena kandidat bermasalah. DeSantis pun memberi sinyal dingin dengan menyatakan pekan lalu bahwa Mills tidak mendapat dukungannya.

Peta gerrymander juga menghapus distrik dua Demokrat di Florida Selatan, Jared Moskowitz dan Debbie Wasserman Schultz. Moskowitz maju di Distrik ke-25 yang baru, membentang di pesisir Palm Beach, Broward, dan Miami-Dade, serta disebut satu-satunya kursi terbuka yang kompetitif.

Namun definisi “kompetitif” di Florida hari ini terasa ironis. Trump menang di distrik itu dengan selisih sembilan poin pada 2024.

Untuk bisa bertarung di pemilu umum, Moskowitz harus melewati primary Demokrat melawan Oliver Larkin, seorang sosialis demokrat. Larkin mengakui ada “rintangan” karena ketakutan publik terhadap sosialisme, tetapi ia menilai ada selera perubahan di dalam Partai Demokrat.

Wasserman Schultz, petahana 11 periode, memilih maju di Distrik ke-20 yang aman bagi Demokrat. Distrik itu mencakup komunitas Afrika-Amerika dan Karibia-Amerika di Broward, serta historis diwakili politisi kulit hitam.

Keputusan Schultz memicu frustrasi empat Demokrat kulit hitam yang sudah maju lebih dulu. Karena mereka gagal menyatu pada satu kandidat, suara berpotensi terpecah dan membuka jalan bagi Schultz menang.

Setelah primary, kampanye 76 hari menuju hari pemilu akan didominasi kontestasi puncak yang tetap berat bagi Demokrat. Di Senat, Ashley Moody dari Republik, yang ditunjuk DeSantis menggantikan Marco Rubio saat Rubio menjadi menteri luar negeri, maju untuk menyelesaikan sisa dua tahun masa jabatan.

Moody nyaris tanpa lawan serius di primary, tetapi masih kurang dikenal pemilih meski pernah dua periode menjadi jaksa agung negara bagian. Demokrat melihat peluang mereka sedikit lebih baik melawan senator yang ditunjuk, dibanding menghadapi petahana yang teruji melalui pemilu berulang.

Unggulan Demokrat adalah Alex Vindman, mantan ahli Dewan Keamanan Nasional dan saksi dalam pemakzulan pertama Trump, yang dilaporkan mengumpulkan dana lebih besar dari Moody. Namun Vindman harus lebih dulu menghadapi Angie Nixon, anggota DPR negara bagian yang progresif dan berkampanye soal layanan kesehatan universal serta penghapusan ICE, dan baru bergabung dengan Democratic Socialists of America.

Di Florida, pemilihan gubernur sering menjadi panggung paling menarik, dan kali ini pun demikian. Dua tahun lalu, kursi penerus DeSantis diperkirakan diperebutkan para “nama besar” Republik, karena DeSantis menunjukkan betapa kuatnya posisi gubernur lewat ekspansi kekuasaan eksekutif dan ketenaran era Covid.

Yang terjadi justru sebaliknya: Byron Donalds, anggota DPR dari Naples, mendominasi setelah mendapat dukungan Trump pada Februari 2025, bahkan sebelum resmi mendeklarasikan pencalonan. Donalds mendukung Trump ketimbang DeSantis pada 2024, dan Trump membalas dukungan itu.

Selama berbulan-bulan, elite Republik Florida menunggu DeSantis menunjuk pewaris, membayangkan duel kandidat “Trump” vs kandidat “DeSantis”. Ketika DeSantis mengganti wakil gubernur dengan Jay Collins yang loyal, banyak yang membaca itu sebagai persiapan Collins untuk maju.

Namun Collins lemah dalam penggalangan dana dan kurang meyakinkan di panggung kampanye. DeSantis sempat mempertimbangkan istrinya, Casey, tetapi rencana itu terganggu penyelidikan terkait kegiatan amalnya.

Akhirnya DeSantis tidak mendukung siapa pun, sesuatu yang mengejutkan mengingat ia sebelumnya membantu Republik menang di banyak level. Kekosongan itu membuat Donalds, yang kuat dalam dana dan organisasi kampanye, melaju sebagai kandidat dominan.

Florida kini memperlihatkan model konsolidasi kekuasaan yang lengkap: desain distrik, dominasi jabatan negara bagian, dan perubahan registrasi pemilih. Republik memegang semua jabatan terpilih tingkat negara bagian dan supermayoritas di dua kamar legislatif, sehingga mereka bisa mengunci agenda sekaligus memengaruhi aturan main.

Gerrymandering tidak sekadar menggambar peta, melainkan menggambar ulang insentif politik. Ketika kursi aman bertambah, kompetisi berpindah dari pemilu umum ke primary, dan pemilih moderat kehilangan daya tawar karena kandidat lebih takut pada penantang dari sayap sendiri.

Di sisi Demokrat, energi baru memang muncul setelah dua kemenangan pemilu khusus dan momentum progresif nasional. Namun Florida menuntut lebih dari sekadar semangat, karena struktur demografi pemilih terdaftar dan peta distrik membuat setiap kesalahan strategi terasa mahal.

Kursi “kompetitif” pun menjadi relatif, karena standar kemenangan Republik sudah tinggi, seperti contoh distrik yang masih disebut kompetitif meski Trump menang sembilan poin. Ini menandakan pergeseran baseline politik, di mana Demokrat harus berlari lebih kencang hanya untuk mencapai garis start.

Pertarungan internal Demokrat juga menambah beban, seperti risiko perpecahan suara di Distrik ke-20. Sementara itu, eksperimen kandidat sosialis demokrat di beberapa distrik memperlihatkan dilema: mereka bisa menyuntikkan ide dan relawan, tetapi juga bisa memperkuat serangan “anti-sosialisme” yang efektif di Florida.

Di kubu Republik, skandal Cory Mills menunjukkan bahwa kursi aman bukan berarti tanpa risiko. Ketika peta memberi keuntungan, partai justru lebih sensitif terhadap kandidat yang dapat mengubah kursi aman menjadi rentan, karena biaya reputasi dan mobilisasi lawan bisa meningkat.

Kontestasi Senat memperlihatkan dinamika lain: Ashley Moody memiliki keuntungan struktural, tetapi kelemahannya adalah pengenalan publik yang terbatas. Alex Vindman mencoba menutup jarak dengan dana kampanye dan narasi nasional, tetapi harus membangun mesin politik Florida dari nol dalam waktu singkat.

Pemilihan gubernur menegaskan bahwa Florida kini juga menjadi laboratorium regenerasi Republik pasca-DeSantis. Donalds memadukan dukungan Trump, jaringan dana, dan janji isu biaya hidup, terutama asuransi rumah yang menjadi keluhan luas di negara bagian itu.

Jika Donalds menang, ia akan menjadi gubernur kulit hitam pertama Florida, sebuah fakta historis yang dapat mengubah simbol politik tanpa mengubah arah ideologi pemerintahan. Ini menunjukkan bagaimana representasi identitas dapat berjalan seiring dengan penguatan agenda konservatif.

Demokrat kemungkinan mengusung David Jolly, mantan anggota DPR yang pernah Republik, lalu independen, dan kini Demokrat. Strateginya jelas moderat untuk merebut pemilih silang, tetapi ia juga rentan diserang sebagai “pembelot” dan mengulang pola kekalahan Charlie Crist yang juga mantan Republik.

Florida memberi pelajaran keras bahwa demokrasi elektoral bisa berubah bukan hanya oleh opini publik, tetapi juga oleh arsitektur kekuasaan. Ketika peta distrik, registrasi pemilih, dan dominasi lembaga negara bagian bergerak searah, pergantian kekuasaan menjadi bukan mustahil, tetapi jauh lebih mahal.

DeSantis mungkin segera meninggalkan jabatan, tetapi warisannya bukan hanya kebijakan sayap kanan, melainkan sistem yang membuat kebijakan itu lebih mudah diteruskan. Ironisnya, ia justru tidak menunjuk pewaris, sehingga panggung diambil oleh kandidat yang paling dekat dengan Trump.

Bagi Demokrat, godaan untuk mengandalkan gelombang nasional bisa menjadi jebakan, karena Florida memiliki ekosistem politik sendiri. Mereka perlu memilih apakah ingin membangun kembali dari pusat yang moderat atau memobilisasi basis progresif, tetapi kedua jalur menuntut disiplin koalisi yang selama ini rapuh.

Bagi Republik, kemenangan terlalu mudah bisa menimbulkan kelemahan baru, yakni kandidat yang merasa kebal dan mengabaikan etika atau kualitas kampanye. Skandal di kursi yang seharusnya aman adalah pengingat bahwa legitimasi politik tidak hanya ditentukan oleh peta, tetapi juga oleh karakter kandidat.

Florida bukan lagi cermin Amerika yang terbelah seimbang, melainkan contoh bagaimana satu partai dapat mengunci keunggulan melalui kombinasi demografi politik dan desain institusional. Pertanyaannya kini bukan sekadar siapa yang menang pada November, tetapi seberapa kompetitif pemilu itu sendiri terasa bagi warga.

Jika demokrasi membutuhkan ketidakpastian yang sehat, Florida sedang bergerak ke arah kepastian yang terlalu nyaman bagi pemenang. Dan ketika pemilu menjadi rutin tanpa kejutan, publik perlu bertanya: apakah yang menang adalah partai, ataukah sistem yang sudah diatur untuk memastikan kemenangan itu? (Orbit dari berbagai sumber, 19 Agustus 2026)