Harga Minyak Dunia Naik 4% Usai Serangan Saudi dan Hormuz

Yahoo Finance

Yahoo Finance

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Harga minyak dunia melonjak lebih dari 4% dan menyentuh level tertinggi 16 pekan setelah serangan baru ke infrastruktur energi Arab Saudi dan serangan terhadap kapal di Timur Tengah. Kenaikan harga minyak Brent dan WTI ini menegaskan bahwa risiko geopolitik kembali menjadi penggerak utama pasar energi global.

Dalam laporan Reuters, minyak Brent naik 4,5% menjadi US$109,29 per barel, sementara WTI naik 4,2% menjadi US$104,26 pada Senin pagi waktu New York. Lonjakan ini menempatkan kedua patokan itu menuju penutupan tertinggi sejak 19 Mei dan bertahan di wilayah “overbought” secara teknikal selama lebih dari sepekan.

Kekhawatiran pasokan membesar setelah negara-negara Arab di Teluk membatalkan pertemuan dengan Iran yang sedianya digelar Senin. Pada saat yang sama, kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman meluncurkan serangan baru ke Saudi, memperluas eskalasi konflik di kawasan.

Houthi mengklaim menembakkan puluhan rudal dan drone ke pangkalan udara militer Saudi di Khamis Mushait dekat perbatasan. Mereka menyebut sasaran mencakup hanggar pesawat, sistem radar, landasan pacu, dan depot amunisi.

Serangan ini datang setelah insiden Jumat ketika pipa minyak timur-barat Saudi lumpuh akibat serangan yang Riyadh tuduhkan pada pejuang pro-Iran di Irak. Jalur pipa ini penting karena memungkinkan Saudi mengalihkan ekspor ke Laut Merah dan mengurangi ketergantungan pada Selat Hormuz.

Reuters menulis gangguan pipa itu mengancam hingga 4% pasokan minyak global, angka yang cukup untuk mengguncang harga dalam hitungan jam. Sebelum serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada akhir Februari, sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz.

Data pelacakan kapal awal menunjukkan transit kapal komoditas melalui Selat Hormuz turun menjadi satu digit per hari pada akhir pekan. Angka itu jauh di bawah rata-rata 10 hari sebesar 14 kapal per hari, sehingga pasar menangkap sinyal “penyempitan” logistik yang nyata.

Dengan pipa tidak beroperasi, pelabuhan Yanbu di Laut Merah harus mengandalkan stok penyimpanan. Tiga sumber industri memperkirakan stok itu hanya cukup untuk menutup ekspor selama lima hingga tujuh hari.

Janiv Shah dari Rystad menilai reaksi harga yang relatif “terkendung” menunjukkan pasar masih berharap persediaan Saudi bisa menahan ekspor dalam jangka pendek. Namun ia menegaskan, bila gangguan melampaui bantalan lima sampai tujuh hari, arah harga bisa berubah cepat.

Di Laut Merah, Houthi dilaporkan mencapai Pulau Perim pada Jumat dan memperketat kontrol atas Selat Bab el-Mandeb. Titik sempit ini adalah gerbang selatan Laut Merah yang menentukan arus kapal menuju Terusan Suez dan pasar Eropa.

Iran juga mengeluarkan daftar 77 kapal yang disebut melanggar protokol operasional di Hormuz. Langkah administratif semacam ini bisa menjadi instrumen tekanan, karena meningkatkan ketidakpastian dan potensi penahanan atau pengalihan rute.

John Evans dari PVM menyimpulkan pasar seperti mencari “vaksin” agar Brent tidak menembus US$120, karena perang yang memengaruhi harga belum berhenti dan masalah kapasitas kilang global belum sembuh. Ia menyinggung gangguan kilang Rusia dan stok yang menurun sebagai faktor yang membuat pasar makin rapuh.

Kenaikan harga minyak kali ini bukan sekadar respons emosional terhadap berita serangan, melainkan refleksi dari rapuhnya arsitektur pasokan global. Ketika satu pipa besar lumpuh dan dua selat strategis berada di bawah ancaman, pasar segera menghitung risiko dengan cara paling sederhana, yaitu premi harga.

Yang paling mengkhawatirkan adalah “efek berantai” dari gangguan logistik, karena kapal tidak hanya butuh minyak, tetapi juga butuh jalur yang aman dan dapat diprediksi. Penurunan transit di Hormuz menjadi satu digit per hari adalah alarm, karena pasar energi modern berjalan di atas kepastian jadwal dan biaya angkut.

Namun ada ironi yang perlu dicatat, karena pasar tampak menunda kepanikan dengan bertaruh pada bantalan stok Saudi di Yanbu. Taruhan ini masuk akal untuk beberapa hari, tetapi berbahaya bila eskalasi berubah menjadi pola serangan berulang yang menggerus cadangan dan kepercayaan sekaligus.

Di sisi lain, isu kilang dan persediaan global menunjukkan bahwa masalah energi bukan hanya soal produksi, tetapi juga kemampuan mengolah dan mendistribusikan. Ketika kapasitas kilang ketat dan stok menurun, setiap gangguan di hulu atau di jalur pelayaran akan terasa lebih tajam di harga ritel dan inflasi.

Publik sering menganggap harga minyak naik karena “perang jauh di sana,” padahal dampaknya dekat, dari ongkos logistik, harga pangan, hingga tekanan biaya industri. Karena itu, konflik geopolitik di Timur Tengah bukan hanya berita luar negeri, melainkan variabel domestik yang merembes ke dompet warga.

Lonjakan harga minyak Brent dan WTI setelah serangan ke Saudi serta pengetatan di Hormuz dan Bab el-Mandeb memperlihatkan satu hal, yaitu dunia masih sangat bergantung pada beberapa titik sempit energi. Selama titik-titik itu mudah diguncang, volatilitas akan menjadi norma, bukan pengecualian.

Pertanyaannya bukan apakah harga bisa menembus US$120, melainkan seberapa lama pasar sanggup hidup dari bantalan persediaan dan harapan diplomasi. Jika keamanan jalur pelayaran dan infrastruktur energi tak segera dipulihkan, dunia akan kembali belajar bahwa energi adalah politik dalam bentuk paling nyata.

(Orbit dari berbagai sumber, 15 September 2026)