East Potomac Golf Links: Trump vs Hakim soal Renovasi

The New York Times

The New York Times

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – East Potomac Golf Links mendadak jadi panggung benturan Trump vs pengadilan federal setelah Presiden Donald Trump mengumumkan renovasi besar untuk mengubah lapangan golf kota itu menjadi venue profesional. Hakim federal Ana C. Reyes menilai ada kejanggalan, karena pemerintah bersikeras belum ada keputusan final, tetapi pekerjaan disebut akan dimulai “SEGERA!”.

Sidang tentang nasib East Potomac Golf Links di Washington pada Senin berubah menjadi kebuntuan panjang, ketika hakim berusaha melacak siapa pengambil keputusan sebenarnya atas lahan tersebut. Hakim juga ingin memastikan apakah rencana perombakan lapangan golf itu sengaja disembunyikan dari pengadilan.

Di akhir sidang seharian, Hakim Ana C. Reyes menyatakan sedang mempertimbangkan perintah untuk menghentikan pekerjaan di lokasi dan menilai seberapa luas larangan yang perlu dikeluarkan. Pertimbangan itu muncul setelah serangkaian kesaksian yang diminta untuk menguji konsistensi pernyataan pemerintah di pengadilan.

Sidang berlangsung sehari setelah Trump mengumumkan pemerintahannya akan mengubah lapangan golf munisipal itu menjadi venue golf profesional. Hakim memanggil sejumlah pejabat untuk menjawab dugaan bahwa pemerintah merancang renovasi sambil bersumpah di pengadilan bahwa belum ada keputusan.

Taruhannya tampak kecil, karena hanya menyangkut satu lapangan golf kota di sebidang tanah dekat monumen Washington. Namun kasus ini menjadi simbol benturan terbaru antara Trump dan pengadilan federal, serta uji batas seberapa jauh ia mendorong proyek yang jelas ia anggap penting.

Hakim Reyes memeriksa keputusan penebangan ratusan pohon yang dilakukan dengan pemberitahuan hanya beberapa jam. Ia sebelumnya meminta pemberitahuan untuk perubahan besar, agar dapat menilai legalitas langkah itu dalam gugatan kelompok pelestari yang ingin menghentikan proyek.

Departemen Kehakiman membalas dengan menuduh hakim yang ditunjuk Presiden Joe Biden itu bias dan meminta ia mundur dari perkara. Hakim menolak, dan menyiratkan kesabarannya menipis menghadapi barisan pengacara pemerintah, termasuk pejabat nomor tiga tertinggi di departemen tersebut.

Menurut hakim, klaim pemerintah bahwa penebangan pohon hanyalah pemeliharaan rutin sulit diterima, apalagi Trump kini menggaungkan renovasi di media sosial. “Tidak ada semesta di mana semua ini kebetulan terjadi pada saat yang sama,” kata hakim kepada para pengacara.

Dalam unggahan Minggu, Trump menyebut lapangan akan tutup untuk renovasi 14 bulan mulai 15 November. Pada Senin, ia menambahkan pekerjaan dijadwalkan dimulai “SEGERA!”.

Pengumuman mendadak itu membayangi sidang, karena pejabat Departemen Kehakiman tetap mengatakan belum ada rencana final dan hakim tidak berwenang menghentikan pekerjaan sebelum rencana diformalkan. Robert N. Stander, deputi asisten jaksa agung, berkata rencana masih “dalam pengembangan”, dan pernyataan itu memicu pertanyaan tajam hakim.

“Kalau masih dalam pengembangan, mengapa kita mulai segera?” tanya hakim, merujuk unggahan Trump. Stander menjawab unggahan itu setara arahan presiden seperti perintah eksekutif, namun butuh waktu bagi staf National Park Service dan lembaga lain untuk mengeksekusinya.

Hakim lalu membacakan ulang unggahan Trump, menekankan frasa bahwa Departemen Dalam Negeri “di bawah naungan Menteri Doug Burgum” telah “mengembangkan rencana membangun Lapangan Golf Kejuaraan Kelas Dunia” di lokasi East Potomac Golf Links. Hakim mempertanyakan bagaimana pengadilan harus menyikapi pesan presiden kepada publik, ketika Departemen Kehakiman meminta pengadilan mengabaikannya.

Hakim sudah memerintahkan penghentian penebangan pohon setidaknya sampai 26 Oktober, tetapi sidang juga membuka peluang larangan kerja yang lebih luas. Di awal sidang, terjadi drama ketika hakim meminta semua pejabat Departemen Kehakiman di ruang sidang mengangkat tangan bila mereka setuju dengan dokumen pengajuan hari Minggu, lalu memerintahkan mereka menambahkan nama mereka.

Dokumen itu berupaya menyelaraskan pernyataan pemerintah di ruang sidang dengan komentar Trump di media sosial. Isinya menyebut lembaga federal masih mempelajari rencana, dan penebangan pohon tidak sama dengan penentuan masa depan lapangan.

Stanley E. Woodward Jr., associate attorney general, menyebut permintaan hakim “tidak pantas” dan menyatakan akan memerintahkan koleganya tidak mengikuti perintah itu. Hakim membalas keras, “Saya yang menentukan bagaimana kita bergerak hari ini, bukan Anda,” yang mencerminkan ketegangan ekstrem antara pejabat tinggi eksekutif dan hakim yang sedang memimpin perkara.

Hakim sempat memerintahkan Woodward menjelaskan secara tertulis mengapa Departemen Kehakiman tidak wajib mematuhi arahannya, namun kemudian mencabut permintaan itu. Meski begitu, momen tersebut memperlihatkan inti persoalan, yakni soal otoritas, kepatuhan proses, dan transparansi kebijakan.

Kesaksian kemudian datang dari Gregory Wischer, deputi kepala staf Departemen Dalam Negeri, dan Jessica Bowron, pelaksana tugas direktur National Park Service. Di bawah pertanyaan Abbe Lowell, pengacara kelompok penggugat, Wischer menyebut penebangan pohon sekadar keputusan estetika dan merujuk laporan 2019 yang merekomendasikan penghilangan pohon untuk memulihkan tata letak asli lapangan.

“Kami hanya mencoba mencari cara untuk merapikan lapangan,” kata Wischer. Bowron bersaksi ia menghadiri beberapa rapat pemeliharaan taman, tetapi “tidak ada rencana final untuk East Potomac Park yang dibahas,” dan ia mengaku tidak diberi tahu soal rencana penutupan 15 November seperti yang dinyatakan Trump.

Dalam menolak mundur, Hakim Reyes menekankan ia konsisten menolak permintaan prematur dari kelompok pelestari untuk memblokir pekerjaan. Ia menyebut dirinya “pragmatis”, dan pada Juli mendorong para pihak mencari kesepakatan sendiri, sambil meminta pemerintah memberi pemberitahuan sebelum pekerjaan besar dilakukan.

Kasus East Potomac Golf Links memperlihatkan pola klasik benturan antara politik pengumuman dan politik dokumen. Ketika presiden mengumumkan “rencana kelas dunia” kepada publik, tetapi aparat hukum negara berkata rencana belum final, yang dipertaruhkan bukan sekadar lapangan golf, melainkan kredibilitas negara di hadapan hakim.

Di sini, kata-kata presiden berfungsi seperti kebijakan, meski birokrasi bersikeras itu baru “arah umum”. Celah ini berbahaya, karena memungkinkan tindakan di lapangan berjalan lebih cepat daripada pengujian legalitas, terutama saat penebangan pohon dilakukan dengan pemberitahuan singkat.

Ketegangan juga menguji batas etika dan disiplin litigasi pemerintah. Upaya menekan hakim agar mundur, lalu penolakan terang-terangan pejabat tinggi terhadap instruksi hakim di ruang sidang, menandai eskalasi yang dapat mengikis wibawa peradilan jika dibiarkan menjadi preseden.

Namun hakim pun berada di medan yang rumit, karena ia harus membedakan pemeliharaan rutin dari persiapan proyek besar tanpa dokumen final. Pilihan hakim untuk meminta pemberitahuan lebih dulu, alih-alih langsung memblokir, menunjukkan kehati-hatian, tetapi juga membuka ruang bagi “fakta di lapangan” terlanjur terbentuk.

Dalam konteks demokrasi modern, konflik ini adalah pelajaran tentang dua jenis kekuasaan. Kekuasaan narasi bekerja cepat di media sosial, sedangkan kekuasaan hukum berjalan lambat, tetapi menentukan sah atau tidaknya sebuah tindakan.

East Potomac Golf Links kini menjadi cermin kecil tentang bagaimana kebijakan publik bisa bergeser dari rapat tertutup ke unggahan presiden, lalu kembali diuji di ruang sidang. Jika pekerjaan dimulai “segera” sementara rencana disebut belum final, publik berhak bertanya, siapa sebenarnya yang memegang kendali proses dan siapa yang diminta percaya begitu saja.

Pada akhirnya, perkara ini bukan hanya soal pohon yang ditebang atau lapangan yang direnovasi, melainkan soal akuntabilitas ketika negara berbicara dengan dua suara. Pertanyaannya sederhana tetapi menentukan, apakah hukum masih menjadi rem yang efektif ketika kekuasaan memilih melaju lebih dulu. (Orbit dari berbagai sumber, 23 Oktober 2026)