Teleskop Nancy Grace Roman NASA Aktifkan Kamera, Misi 22 Tahun

Live Science

Live Science

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Teleskop Nancy Grace Roman NASA akhirnya menyalakan kamera inframerah 300 megapikselnya, dan hasil uji pertama membuat bintang-bintang tampak seperti “donat” hijau. Di balik gambar aneh itu, tersimpan kabar besar: kamera utama Roman mulai hidup, dan umur misi yang semula 10 tahun kini diproyeksikan bisa mencapai 22 tahun.

Bayangkan membuka mata untuk pertama kali dan mendapati langit dipenuhi donat hijau. Itulah “pemandangan perdana” dari Nancy Grace Roman Space Telescope ketika NASA mengaktifkan kamera inframerahnya untuk pertama kali.

Roman diluncurkan ke luar angkasa pada 30 Agustus dan sedang menjalani proses commissioning berbulan-bulan. Dalam fase ini, ilmuwan NASA menguji dan menyetel setiap instrumen sambil Roman menempuh perjalanan sekitar satu juta mil atau 1,6 juta kilometer menuju titik Lagrange L2.

L2 adalah “parkir orbit” tempat tarikan gravitasi Bumi dan Matahari saling menyeimbangkan sehingga wahana bisa stabil. Di lokasi yang sama, Teleskop Luar Angkasa James Webb (JWST) dan sejumlah misi sains lain juga beroperasi.

Sistem kamera Roman bernama Wide Field Instrument (WFI) belum difokuskan sepenuhnya. Karena itu, bintang pada citra uji tampak seperti lingkaran hijau limau, namun NASA menyatakan seluruh sistem bekerja sesuai harapan.

Targetnya jelas: pada awal 2027 Roman mulai mengirim citra sains penuh ke Bumi. NASA menegaskan ketajaman gambar Roman akan setara Hubble, tetapi luas cakupannya 100 kali lebih besar dalam satu bidikan.

Josh Schlieder, kepala ilmuwan WFI di NASA Goddard Space Flight Center, menyebut aktivasi ini sebagai tonggak besar. “Setelah bertahun-tahun membangun dan menguji instrumen di darat, kini kami mendapat konfirmasi bahwa instrumen itu beroperasi di luar angkasa,” kata Schlieder dalam pernyataan NASA.

Gambar uji Roman menampilkan deretan kotak bergelombang yang terlihat seperti mosaik. Setiap kotak mewakili satu dari 18 detektor Roman yang mengubah foton dari sumber cahaya jauh menjadi sinyal listrik untuk menyusun citra raksasa alam semesta.

Konsekuensi teknisnya adalah banjir data. NASA memperkirakan Roman akan mengirim sekitar 1,4 terabyte data per hari, setara kira-kira lima hingga 10 kali kapasitas penyimpanan ponsel rata-rata.

Di era astronomi modern, kekuatan teleskop tidak lagi hanya ditentukan oleh cermin, tetapi juga oleh kemampuan memetakan langit secara cepat dan luas. Roman dirancang sebagai “mesin survei” yang melengkapi JWST, yang sangat tajam namun cenderung mengamati area langit yang lebih sempit.

Survei jangka panjang terhadap galaksi jauh akan dipakai untuk menemukan objek baru dan menghitung laju pemuaian alam semesta. Dari situ, NASA berharap Roman dapat memberi petunjuk baru tentang energi gelap, fenomena misterius yang diduga mendorong percepatan ekspansi kosmos.

Roman juga diposisikan sebagai pemain penting dalam pencarian kehidupan alien, meski jalurnya tidak sensasional. Dengan coronagraph bawaan yang dapat “memblokir” cahaya bintang, Roman bisa mengamati eksoplanet lebih presisi tanpa silau bintang induk.

NASA menyebut coronagraph itu juga telah diuji pekan ini dengan hasil sukses. Jika performanya konsisten, observasi Roman berpotensi meningkatkan jumlah dunia asing yang diketahui dari lebih dari 6.000 saat ini menjadi lebih dari 100.000 pada akhir misi 10 tahun yang direncanakan.

Klaim itu sekaligus mengundang pertanyaan kritis tentang definisi “ditemukan.” Dalam praktik astronomi, lonjakan katalog sering berasal dari metode survei yang lebih sensitif, bukan tiba-tiba alam semesta menambah planet.

Namun, justru di situlah nilai Roman: ia mengubah keterbatasan sampel menjadi statistik kosmik. Ketika jumlah eksoplanet yang terdeteksi membengkak, ilmuwan bisa lebih berani menguji pola pembentukan planet dan peluang adanya planet mirip Bumi.

Kabar paling strategis datang dari sisi operasional. NASA menyatakan pembakaran pendorong yang sukses, ditambah “bonus” bahan bakar saat peluncuran, membuat Roman mungkin memiliki daya untuk 22 tahun, bukan 10 tahun.

Perpanjangan umur misi bukan sekadar bonus waktu, melainkan bonus kedalaman sains. Semakin panjang rentang pengamatan, semakin kuat pula kemampuan membedakan perubahan nyata di langit dari kebetulan statistik.

Donat hijau pada citra perdana Roman mudah dijadikan lelucon, tetapi sebenarnya itu tanda proses kalibrasi yang sehat. Dalam dunia instrumen optik, “buruk di awal” sering berarti sistem sedang jujur menunjukkan apa yang perlu disetel, bukan menutupi masalah.

Yang patut digarisbawahi adalah arah investasi ilmiah NASA: memperluas bidang pandang tanpa mengorbankan ketajaman. Jika Hubble mengajari publik cara “melihat” alam semesta, Roman bisa mengajari ilmuwan cara “menghitung” alam semesta dengan skala yang belum pernah ada.

Meski begitu, narasi “100.000 planet” berisiko memicu ekspektasi publik yang keliru tentang penemuan kehidupan. Roman lebih mungkin memperkaya peta kandidat dan statistik populasi planet, sementara bukti biologis tetap membutuhkan rangkaian observasi lanjutan yang jauh lebih sulit.

Namun, di tengah kompetisi geopolitik dan tekanan anggaran, misi yang berpotensi hidup 22 tahun adalah argumen kuat bahwa sains dasar masih punya daya tahan. Seperti Hubble yang melampaui parameter awalnya, Roman bisa menjadi infrastruktur pengetahuan yang terus memberi hasil ketika generasi penelitinya sudah berganti.

Aktivasi kamera 300 megapiksel Roman menandai awal era survei langit yang lebih luas, lebih cepat, dan lebih kaya data. Jika target awal 2027 tercapai, publik akan melihat gambar setajam Hubble, tetapi dengan cakupan 100 kali lebih besar.

Di ujung cerita, pertanyaan besarnya bukan hanya apa yang akan ditemukan Roman, melainkan bagaimana kita memaknai temuan itu. Ketika alam semesta dipetakan dalam terabyte harian dan misi bisa bertahan dua dekade, apakah rasa ingin tahu manusia akan ikut tumbuh, atau justru tenggelam dalam banjir data?

(Orbit dari berbagai sumber, 22 September 2026)