Kasus Pembunuhan D4vd: Ganti Pengacara, Beralih ke Public Defender
ORBITINDONESIA.COM – Kasus pembunuhan D4vd kembali menyita perhatian setelah David Burke (21), musisi yang dikenal sebagai D4vd, mendadak memutus kerja sama dengan tim pengacara privatnya di Los Angeles. Di ruang sidang, ia menyatakan ingin diwakili public defender, keputusan yang membuat jalannya perkara berbelok di tengah sorotan publik.
Di Pengadilan Tinggi Los Angeles County, Hakim Charlaine Olmedo menanyakan langsung, “Apakah itu keinginan Anda, Tuan Burke?” dan Burke menjawab singkat, “Ya.” Momen itu terjadi saat sidang praperadilan yang biasanya rutin, namun berubah menjadi penanda krusial strategi pembelaan.
Burke didakwa membunuh Celeste Rivas Hernandez (14), setelah sisa jasadnya yang membusuk ditemukan di bagasi mobil Tesla yang ditinggalkan. Polisi menyita kendaraan itu dan menemukannya pada 8 September di Hollywood Tow, setelah laporan bau menyengat memancing petugas mendekat.
Dalam berkas perkara, jaksa menyodorkan bukti pada sidang pendahuluan hingga hakim pada 27 Juli memerintahkan Burke menjalani persidangan. Burke ditangkap 16 April di sebuah rumah di Marmont Avenue, Hollywood Hills, dan sejak itu ditahan tanpa jaminan.
Keputusan berganti pengacara di perkara pidana besar bukan hal baru, tetapi tetap jarang terjadi secara terbuka dan mendadak di ruang sidang. Dalam kasus pembunuhan D4vd, pergantian dari pengacara ternama ke public defender memunculkan pertanyaan tentang arah pembelaan, sumber daya, dan kalkulasi risiko di depan juri.
Blair Berk, kuasa hukum sebelumnya, menyatakan pengadilan mengabulkan permintaan mereka untuk mundur setelah “ditentukan David memenuhi syarat untuk penasihat hukum yang ditunjuk.” Pernyataan ini menekankan aspek administratif, namun publik sulit mengabaikan bahwa reputasi, biaya, dan perbedaan strategi sering menjadi pemicu tak terucap.
Pengacara baru, Walid Fouad Kandeel, awalnya duduk di kursi galeri sebelum dipanggil maju dan memperkenalkan diri. Ia meminta agar pembacaan dakwaan hari itu ditunda untuk mempelajari kasus, namun Hakim Olmedo menolak dan memasukkan pleidoi tidak bersalah atas nama Burke.
Penolakan penundaan menunjukkan pengadilan ingin menjaga ritme proses, tetapi juga memberi sinyal bahwa waktu persiapan tetap bisa diatur pada tahap berikutnya. Hakim bahkan menyatakan akan memberi Kandeel lebih banyak waktu bila diperlukan, dan memerintahkan semua pihak kembali pada 19 Oktober.
Di sisi lain, kantor public defender menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban, sambil menegaskan hak terdakwa atas pembelaan yang serius dan pemeriksaan bukti yang cermat. Pernyataan itu penting karena perkara sensitif seperti ini mudah bergeser dari pembuktian hukum menjadi penghakiman sosial.
Detail yang paling mengguncang berasal dari pesan teks antara Burke dan Celeste yang menyebut kehamilan pada usia 13 tahun dan aborsi. Dalam percakapan awal Januari 2024, Burke disebut meminta maaf karena “membuatnya melalui ini,” potongan yang berpotensi memengaruhi persepsi juri, sekaligus membuka ruang perdebatan tentang konteks relasi, kendali, dan kerentanan anak.
Publik sering mengira public defender identik dengan kualitas lebih rendah, padahal banyak kantor pembela publik di kota besar memiliki tim litigasi dan investigator yang sangat terlatih. Dalam kasus pembunuhan D4vd, langkah Burke bisa dibaca sebagai upaya menata ulang strategi dengan tim yang terbiasa menghadapi jaksa dalam perkara berat setiap hari.
Namun keputusan ini juga menyiratkan paradoks ketenaran: seorang figur publik bisa tampak “besar” di panggung, tetapi “kecil” di hadapan sistem hukum. Saat kebebasan dipertaruhkan, nama panggung tidak memberi perlindungan, dan pilihan pengacara menjadi bagian dari narasi hidup-mati di meja pembuktian.
Pernyataan Jaksa Wilayah Nathan Hochman, “Saya yakin public defender akan memberinya pembelaan yang gigih,” terdengar netral tetapi mengandung pesan: negara siap bertarung, dan proses akan berjalan penuh. Di titik ini, yang menentukan bukan opini viral, melainkan disiplin pembuktian, konsistensi kesaksian, dan ketahanan argumen di persidangan.
Yang paling rawan adalah bagaimana publik memperlakukan korban anak sebagai sekadar detail kasus selebritas. Setiap potongan informasi—bau dari bagasi, mobil yang ditinggalkan, pesan teks—mudah menjadi konsumsi sensasional, padahal inti tragedinya adalah hilangnya nyawa remaja dan luka panjang bagi keluarga.
Kasus pembunuhan D4vd kini bergerak ke babak baru: tim pembela berganti, jadwal sidang ditetapkan, dan terdakwa tetap ditahan tanpa jaminan. Di balik drama ruang sidang, ada dua hal yang wajib dijaga bersamaan: martabat korban dan ketelitian proses hukum.
Pergantian pengacara mengingatkan bahwa keadilan bukan hanya soal siapa yang paling terkenal atau paling mahal, melainkan siapa yang paling mampu menguji bukti secara jernih. Pada akhirnya, pertanyaan yang tersisa bagi publik adalah apakah kita sedang mencari kebenaran, atau hanya mencari tontonan dari sebuah tragedi.
(Orbit dari berbagai sumber, 3 September 2026)