Denny JA: Percakapan Dengan Prabowo dan Kisah Naga Terakhir Asia yang Sedang Bangkit

Catatan dari Paris (3)

PERCAKAPAN DENGAN PRABOWO DAN KISAH NAGA TERAKHIR ASIA YANG SEDANG BANGKIT

Oleh Denny JA

ORBITINDONESIA.COM - Pada malam yang basah di Paris, ketika hujan musim semi turun perlahan di atas jalan-jalan tua, saya membaca sebuah kalimat yang langsung tertinggal dalam pikiran.

Kalimat itu muncul dalam dosier khusus Opinion Internationale yang diterbitkan bertepatan dengan kunjungan kenegaraan Presiden Prabowo Subianto ke Prancis pada Mei 2026.

Di sana, Indonesia disebut sebagai “naga besar terakhir Asia yang sedang bangkit.” Saya berhenti cukup lama pada ungkapan itu. Kata “naga”, “terakhir”, dan “bangkit” seolah membuka lorong panjang sejarah Indonesia.

Ini sebuah negeri yang terlalu kaya untuk tetap miskin, terlalu besar untuk terus diabaikan, namun masih berjuang mengubah kekayaan yang dimilikinya menjadi kesejahteraan yang merata.

Dari metafora tersebut muncul pertanyaan yang lebih mendasar: mungkinkah bangsa yang selama berabad-abad menjadi objek sejarah kini mulai mengambil peran sebagai penentu arah sejarahnya sendiri?

Saya hadir di Paris bukan sebagai pengamat netral. Saya pernah menjadi konsultan politik Prabowo pada Pilpres 2024. Catatan ini saya tulis dengan kesadaran penuh akan posisi itu.

-000-

Dalam salah satu artikel dosier itu, Pierre-Marie Relecom, Presiden Relecom & Partners, menyebut Indonesia sebagai Asia’s last great dragon awakening.

Ungkapan tersebut tidak hanya mencerminkan apresiasi diplomatik, tetapi juga menandai perubahan cara dunia memandang Indonesia: sebagai negara yang berpeluang menjadi salah satu aktor penting dalam tatanan global yang sedang berubah.

Keunggulan Indonesia terletak pada kombinasi yang jarang dimiliki banyak negara: populasi lebih dari 280 juta jiwa, letak strategis di persimpangan Samudra Hindia dan Pasifik, serta kekayaan sumber daya alam yang melimpah.

Tantangannya adalah bagaimana seluruh modal itu diterjemahkan menjadi kemajuan yang nyata dan berkelanjutan.

Karena itu, sebutan “naga terakhir” mengandung makna yang lebih dalam daripada sekadar sanjungan. Jepang, Korea Selatan, Taiwan, Tiongkok, dan Vietnam telah lebih dahulu menempuh jalan transformasi ekonomi.

Indonesia berada pada persimpangan penting: memanfaatkan momentum untuk melompat maju atau terus terjebak dalam narasi tentang potensi yang belum terwujud.

-000-

Sudah lama saya tidak berbicara intens empat mata dengan Prabowo seperti dahulu ketika saya menjadi konsultan politiknya pada Pilpres 2024. Kini di Paris, antara 26 hingga 29 Mei 2026, kesempatan itu kembali hadir.

Kadang kami berbicara berdua, tapi di ruangan yang hadir orang lain. Kadang ada dua atau tiga orang lain yang ikut dalam percakapan. Namun suasananya tetap terasa personal, seperti seseorang yang sedang membuka peta besar di hadapan sejarah.

Saya melihat sesuatu yang menarik. Prabowo tidak terutama berbicara tentang kekuasaan, jabatan, atau seremoni kenegaraan. Ia berbicara tentang sejarah, ekonomi, angka-angka, kebocoran kekayaan nasional, dan masa depan.

Tak persis kata per- kata seperti ini. Saya memformulasikannya kembali melalui memori.

Dengan wajah yang menyala, ia mengingatkan bagaimana Belanda pada masa Zaman Keemasan pernah menjadi salah satu pusat perdagangan dan keuangan dunia.

Amsterdam membesar karena kapal, bursa, modal, dan jaringan dagang global. Namun dalam jaringan itu, kekayaan Nusantara menjadi salah satu sumber yang amat penting.

VOC membangun monopoli rempah sejak awal abad ke-17. Sistem kolonial kemudian memperluas penghisapan melalui kopi, gula, nila, dan komoditas lain yang diambil dari tanah jajahan.

Nusantara bukan hanya sebuah wilayah jauh di peta, tetapi salah satu mesin ekonomi yang menggerakkan kemakmuran Eropa.

Di balik gedung-gedung indah, kanal-kanal tertata, dan kota dagang yang makmur, ada keringat petani, pekerja, dan rakyat jajahan yang suaranya tidak pernah ditulis dengan cukup adil dalam buku-buku sejarah.

Lalu Prabowo berhenti sejenak. Ia berkata kurang lebih begini: “Kini kita sudah merdeka. Tapi kekayaan Indonesia masih banyak yang bocor keluar.”

Ia berbicara mengenai under invoicing, transfer pricing, pengalihan laba, manipulasi harga ekspor-impor, dan arus modal yang secara diam-diam meninggalkan negeri.

Dalam bahasa yang lebih sederhana, ia sedang mengatakan bahwa kemerdekaan politik belum otomatis berarti kedaulatan ekonomi.

Angka-angka kebocoran itu memang harus diperlakukan secara hati-hati karena metode penghitungannya berbeda-beda.

Bagi saya, inti masalahnya bukan sekadar apakah angka finalnya kerugian Rp200 triliun, Rp466 triliun, per tahun, atau per-sekian tahun. Intinya adalah bahwa kebocoran itu nyata, sistemik, dan menghantam langsung masa depan bangsa.

Uang yang bocor itu seharusnya dapat menjadi sekolah yang lebih baik, rumah sakit yang lebih manusiawi, jalan desa yang menghubungkan ekonomi rakyat, riset teknologi, beasiswa anak-anak miskin, dan fondasi industri nasional.

Bangsa yang kaya tidak akan pernah benar-benar makmur jika hasil kerjanya terus mengalir keluar tanpa kendali.

-000-

Saya kemudian merespons Prabowo dengan menyebut sebuah konsep besar dalam ilmu politik ekonomi: developmental state, atau negara pembangunan.

Dalam model ini, negara tidak hanya menjadi penjaga malam dan wasit pasar. Negara juga menjadi arsitek pembangunan, pengarah modal, pembangun industri strategis, penjaga disiplin nasional, dan perancang visi jangka panjang.

Model ini pernah bekerja di Jepang pasca Perang Dunia II, ketika negara mengarahkan industri melalui koordinasi birokrasi yang kuat.

Ia juga tampak dalam kebangkitan Korea Selatan, ketika negara mendorong industrialisasi, ekspor, dan konglomerasi nasional dengan disiplin keras.

Singapura menggunakannya dengan birokrasi yang bersih dan terukur. Tiongkok mengadaptasinya dalam skala raksasa setelah reformasi Deng Xiaoping.

Dalam semua kasus itu, negara hadir bukan untuk mematikan pasar, melainkan untuk membentuk pasar agar bekerja bagi kepentingan nasional.

Namun saya juga mengatakan bahwa developmental state bukan mantra ajaib. Ia dapat berhasil jika birokrasi kompeten, target jelas, pengawasan kuat, dan korupsi ditekan.

Tetapi ia dapat gagal jika negara berubah menjadi alat rente, jika elite menangkap kebijakan, jika proyek strategis menjadi ladang kroni, dan jika kekuasaan terlalu kuat sementara akuntabilitas terlalu lemah.

Di titik itulah negara pembangunan dapat berubah menjadi negara pemangsa.

Saya mengatakan kepada Prabowo bahwa jika gagasan ini berhasil, ia dapat dikenang sebagai Bapak Kemandirian Bangsa.

Ia bisa menjadi tipe strong leader non-Barat yang bukan hanya kuat secara politik, tetapi kuat karena mampu mengubah struktur ekonomi bangsanya.

Namun saya juga mengingatkan bahwa sejarah tidak hanya menilai niat besar. Sejarah menilai hasil, institusi, dan kemampuan sebuah bangsa membangun sistem yang bertahan melampaui tokoh.

Jika berhasil, Indonesia akan memenuhi pujian media Perancis itu sebagai naga asia mutakhir yang sedang bangkit.

-000-

Tentu tidak semua ekonom sepakat. Faisal Basri, salah satu suara paling kritis di Indonesia, lama mengingatkan bahwa hilirisasi nikel justru lebih menguntungkan investor Tiongkok daripada rakyat Indonesia, karena nilai tambah sesungguhnya tetap mengalir ke luar dalam bentuk laba korporasi asing.

Ekonom seperti Thee Kian Wie juga pernah menunjukkan bahwa model developmental state ala Soeharto melahirkan kroni, bukan kemandirian.

Dalam pandangan ini, gagasan negara pembangunan di tangan elite Indonesia berisiko menjadi pengulangan masa lalu: bahasa kemandirian dipakai untuk membungkus konsentrasi rente baru, dan Danantara hanya akan menjadi versi modern dari konglomerasi era Orde Baru.

Kritik ini patut didengar, justru karena masuk akal. Tetapi ia bukan alasan menolak gagasan, melainkan alasan memperkuat syaratnya: birokrasi yang kompeten, audit independen, transparansi Danantara, dan sanksi tegas atas penangkapan kebijakan.

Tanpa pengaman itu, kritik mereka akan terbukti. Dengan pengaman itu, justru sejarah dapat ditulis berbeda.

-000-

Untuk memahami mengapa sebagian bangsa Asia berhasil bangkit dan sebagian lainnya tertinggal, ada dua buku yang sangat relevan.

Buku pertama adalah How Asia Works, ditulis oleh Joe Studwell, diterbitkan oleh Profile Books pada 2013. Buku ini menjelaskan bahwa kebangkitan Asia Timur bukanlah keajaiban budaya, bukan pula sekadar hasil etos kerja yang sering dirayakan secara romantik.

Studwell menunjukkan bahwa keberhasilan Jepang, Korea Selatan, Taiwan, dan kemudian Tiongkok bertumpu pada tiga hal yang sangat konkret.

Yaitu reformasi pertanian yang membuat desa lebih produktif. Juga pembangunan industri manufaktur yang dipaksa kompetitif secara ekspor. Dan pula kontrol negara yang disiplin atas modal serta perbankan.

Bagian paling relevan dari buku ini bagi Indonesia adalah kritiknya terhadap ilusi kekayaan sumber daya alam. Banyak negara kaya komoditas tampak makmur ketika harga dunia naik, tetapi tetap rapuh karena tidak membangun industri, teknologi, dan kualitas manusia.

Studwell menekankan bahwa negara Asia yang berhasil tidak membiarkan pasar berjalan sendiri tanpa arah. Negara hadir, tetapi kehadirannya disiplin.

Perusahaan boleh dibantu, tetapi harus menunjukkan kinerja. Industri boleh dilindungi, tetapi harus belajar bersaing.

Pesan terdalam buku ini sangat penting bagi Indonesia: kemakmuran nasional tidak lahir dari apa yang terkubur di bawah tanah, melainkan dari kemampuan mengubah sumber daya menjadi kapasitas manusia, mesin produksi, teknologi, dan institusi.

-000-

Buku kedua adalah Why Nations Fail, ditulis oleh Daron Acemoglu dan James A. Robinson, diterbitkan oleh Crown Publishing Group pada 2012.

Buku ini mengajukan pertanyaan besar yang menghantui banyak bangsa: mengapa sebagian negara menjadi kaya sementara yang lain tetap miskin?

Jawaban mereka bukan terutama geografi, iklim, agama, atau budaya. Jawabannya terletak pada kualitas institusi. Bangsa maju membangun institusi inklusif, yaitu institusi yang membuka kesempatan luas, melindungi hak warga, memberi kepastian hukum, mendorong inovasi, dan memungkinkan rakyat biasa ikut naik kelas.

Sebaliknya, bangsa yang gagal biasanya dikuasai institusi ekstraktif. Kekayaan mengalir kepada segelintir elite, hukum dipakai secara selektif, monopoli dilindungi, korupsi dibiarkan, dan rakyat banyak hanya menjadi penonton.

Bagi Indonesia, buku ini seperti cermin yang tidak selalu nyaman dipandang. Masalah terbesar kita bukan kekurangan nikel, batu bara, sawit, laut, atau pasar.

Masalah terbesar kita adalah apakah institusi kita cukup kuat untuk memastikan kekayaan itu tidak terus diekstraksi oleh kelompok kecil melalui rente, manipulasi kebijakan, korupsi, dan kebocoran perdagangan.

Pesan paling tajam dari buku ini adalah bahwa negara tidak menjadi besar karena memiliki pemimpin besar semata. Negara menjadi besar karena membangun institusi yang lebih besar daripada siapa pun yang sedang memimpinnya.

-000-

Setiap kebangkitan selalu memiliki musuhnya sendiri. Indonesia tidak akan gagal karena kekurangan sumber daya, penduduk, atau peluang.

Jika gagal, penyebabnya kemungkinan besar hanya tiga: korupsi yang menggerogoti negara dari dalam, kualitas manusia yang tertinggal, dan institusi yang terlalu lemah untuk menanggung ambisi besar.

Karena itu revolusi pendidikan menjadi mutlak. Tidak ada negara maju tanpa pendidikan yang kuat, tidak ada bangsa besar dengan guru yang lemah, dan tidak ada kekuatan teknologi tanpa universitas yang serius.

Tambang dapat habis, minyak dapat menipis, dan harga komoditas dapat runtuh. Tetapi kemampuan manusia, jika dirawat dengan benar, tidak memiliki batas yang sama.

Perang melawan korupsi juga harus menjadi agenda moral, bukan sekadar agenda hukum. Korupsi bukan hanya pencurian uang negara.

Korupsi adalah pencurian masa depan. Ia membuat jalan lebih mahal, sekolah lebih buruk, rumah sakit lebih rapuh, investor lebih ragu, dan rakyat kehilangan kepercayaan. Negara yang ingin menjadi naga tidak boleh bocor dari dalam.

Di atas semuanya, Indonesia harus membangun institusi yang lebih kuat daripada tokoh. Pemimpin besar bisa datang sekali, tetapi institusi besar harus bertahan melampaui siapa pun yang memimpin.

Jepang tidak maju karena satu orang saja. Korea Selatan tidak naik kelas karena satu orang saja. Tiongkok tidak bangkit hanya karena satu figur.

Mereka membangun sistem, birokrasi, disiplin nasional, dan visi jangka panjang yang mampu bekerja bahkan ketika generasi pemimpin berganti.

-000-

Pada akhirnya, kejayaan sebuah naga tidak hanya diukur dari gedung yang menjulang, melainkan dari piring nasi yang terisi di meja rakyat jelata dan keadilan yang hadir tanpa perlu diminta.

Kemerdekaan politik telah kita raih pada 1945. Mungkin perjuangan abad ke-21 adalah merebut kemerdekaan ekonomi.

Pada akhirnya, pertanyaan terbesar bukanlah apakah dunia percaya Indonesia akan bangkit. Semakin banyak orang luar justru mulai percaya.

Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah kita sendiri percaya, dan apakah kita cukup disiplin untuk membayar harga dari kepercayaan itu.

Banyak bangsa gagal bukan ketika mereka miskin. Mereka gagal ketika tidak menyadari bahwa mereka sedang berdiri tepat di depan pintu sejarah.

Mereka gagal ketika peluang besar datang, tetapi elite sibuk bertengkar. Mereka gagal ketika masa depan mengetuk, tetapi institusi terlalu rapuh untuk membukakan pintu.

Jika Prabowo berhasil membangun kemandirian ekonomi tanpa mengorbankan demokrasi, memperkuat negara tanpa mematikan kebebasan, dan menjadikan Danantara sebagai instrumen nilai tambah, bukan ladang rente baru, maka sejarah dapat menempatkannya dalam bab yang sangat penting.

Ia tidak hanya akan dikenang sebagai presiden yang memimpin, tetapi sebagai pemimpin yang mencoba mengubah arah dasar ekonomi bangsa.

Jika berhasil, Prabowo membawa Indonesia menjadi Naga berikutnya dari Asia. *

Jakarta, 31 Mei 2026.

REFERENSI

1. Joe Studwell, How Asia Works, Profile Books, 2013.

2. Daron Acemoglu dan James A. Robinson, Why Nations Fail, Crown Publishing Group, 2012.

-000-

Ratusan esai Denny JA soal filsafat hidup, political economy, sastra, agama dan spiritualitas, minyak dan energi, politik demokrasi, sejarah, positive psychology, catatan perjalanan, review buku, film dan lagu, bisa dilihat di FaceBook Denny JA's World

https://www.facebook.com/share/1EFjGceyNG/?mibextid=wwXIfr ***