Tur Ed Sheeran AS Retak, Artis Mundur Bela Macklemore Palestina
ORBITINDONESIA.COM – Tur Ed Sheeran di Amerika Serikat memanas setelah sejumlah artis pembuka mundur, menyusul Macklemore dikeluarkan karena seruan “Free Palestine”. Finneas, Aaron Rowe, Beoga, dan Lukas Graham memilih keluar, menuding ada tekanan pemilik venue dan lobi pro-Israel yang membungkam suara pro-Palestina. (Orbit dari berbagai sumber, 18 September 2026)
Dalam artikel sumber berbahasa Inggris disebutkan, Macklemore (Ben Haggerty) memicu kontroversi ketika berbicara tentang Palestina saat tampil di MetLife Stadium, New Jersey. Ia menyebut Gaza dan Tepi Barat yang diduduki, lalu meneriakkan “Free Palestine” serta menyebut negara lain yang menurutnya mengalami penindasan. (Orbit dari berbagai sumber, 18 September 2026)
Reaksi keras muncul cepat, termasuk petisi dari Israeli-American Council agar Macklemore dicoret dari tur. Macklemore tetap membela pernyataannya, dan menilai keinginan agar semua manusia diperlakukan setara “seharusnya tidak kontroversial”. (Orbit dari berbagai sumber, 18 September 2026)
Ed Sheeran kemudian mengonfirmasi Macklemore dikeluarkan dari sisa tur, tetapi menyatakan itu bukan keputusannya. Sheeran menyalahkan promotor AS, dan mengatakan sejumlah venue mengancam membatalkan pertunjukan jika Macklemore tetap tampil. (Orbit dari berbagai sumber, 18 September 2026)
Nama Robert Kraft, miliarder pemilik Gillette Stadium, ikut terseret. Menurut unggahan Macklemore, Kraft menolak dirinya tampil, dan disebut mendorong pemilik stadion lain memberi ultimatum kolektif. (Orbit dari berbagai sumber, 18 September 2026)
Kraft mengakui perannya mencegah Macklemore tampil di stadion miliknya, namun membantah motifnya untuk meniadakan penderitaan warga Palestina. Ia menegaskan advokasi tidak boleh “mengorbankan komunitas Yahudi” dan menyinggung tanggung jawab Hamas atas penderitaan yang terjadi. (Orbit dari berbagai sumber, 18 September 2026)
Efek domino terjadi ketika para artis pembuka memilih mundur sebagai bentuk solidaritas. Finneas, Aaron Rowe, Beoga, dan Lukas Graham menyatakan keputusan itu di media sosial tak lama setelah pernyataan Sheeran. (Orbit dari berbagai sumber, 18 September 2026)
Finneas menulis, “Artists must not be silenced when they speak up for the oppressed,” lalu menegaskan, “I stand with Palestine and its people.” Ia dan Billie Eilish sebelumnya juga dikenal vokal soal Palestina dan menyebut akar keluarga Irlandia mereka. (Orbit dari berbagai sumber, 18 September 2026)
Aaron Rowe mengambil posisi paling politis dengan menarik garis sejarah Irlandia. Ia menyebut orang Irlandia paham “genocide, forced famine and violent occupation,” dan menolak “billionaires” memakai kuasa untuk membungkam suara yang menyorot kematian anak-anak. (Orbit dari berbagai sumber, 18 September 2026)
Beoga, band pengiring Sheeran, menyatakan mundur “following the silencing of Macklemore by Zionist lobbies.” Mereka menekankan persahabatan lebih dari 10 tahun dengan Sheeran, namun tetap memilih keluar sambil menyebut dialog sebagai jalan memperjuangkan nasib Palestina. (Orbit dari berbagai sumber, 18 September 2026)
Lukas Graham menyorot dimensi kemanusiaan dan kebebasan berbicara. Vokalis Lukas Forchhammer menulis, “Money doesn’t give you the right to own the conversation,” dan menolak saldo rekening menentukan siapa boleh bicara tentang penderitaan sipil. (Orbit dari berbagai sumber, 18 September 2026)
Kontroversi ini juga memperlihatkan mekanisme “veto venue” di industri tur stadion Amerika. Jika ancaman pembatalan venue benar terjadi, promotor dan musisi berada dalam posisi tawar yang timpang terhadap pemilik stadion dan jejaring bisnisnya. (Orbit dari berbagai sumber, 18 September 2026)
Di ruang publik, narasi bergeser dari sekadar pernyataan politik menjadi isu sensor dan kolusi. Colin Kaepernick menyebut para pemilik NFL “openly colluding,” mengaitkannya dengan pola lama ketika protes atlet “taking a knee” dulu berujung pada terhentinya kariernya. (Orbit dari berbagai sumber, 18 September 2026)
Sheeran berupaya mengambil posisi “jembatan” dengan menyatakan ngeri pada penderitaan “di kedua sisi,” serta mengaku sudah berbicara panjang dengan venue termasuk Kraft. Namun, ia juga menegaskan tidak ingin mengecewakan penggemar, kru tur, dan pekerja yang bergantung pada rangkaian konser. (Orbit dari berbagai sumber, 18 September 2026)
Masalahnya, publik menilai netralitas Sheeran tidak konsisten. Ia pernah menggalang dana untuk Ukraina lewat remix “2step” dan berkata, “To all Ukrainians, I love you, I stand with you,” sehingga sikap “apolitis” tampak selektif. (Orbit dari berbagai sumber, 18 September 2026)
Kontras itu diperkuat oleh kritik aktivis dan musisi lain. Roger Waters menyebut Macklemore melakukan hal benar, sementara menyindir Sheeran dengan bahasa tajam, dan sebagian warganet menyorot lirik lagu Sheeran “What Do I Know” yang dulu terdengar pro-revolusi. (Orbit dari berbagai sumber, 18 September 2026)
Kasus “Ed Sheeran US Loop Tour” bukan sekadar drama artis, melainkan uji stres bagi kebebasan berekspresi di panggung hiburan arus utama. Ketika pemilik venue bisa mengancam membatalkan konser, pesan yang muncul adalah: panggung bukan milik publik, melainkan milik pemodal. (Orbit dari berbagai sumber, 18 September 2026)
Solidaritas para artis pembuka mengubah kalkulasi reputasi yang biasanya menguntungkan pihak kuat. Mereka mempertaruhkan eksposur besar demi prinsip, dan itu membuat argumen “ini hanya bisnis” terdengar semakin rapuh. (Orbit dari berbagai sumber, 18 September 2026)
Namun, ada sisi lain yang tidak boleh diabaikan, yakni kekhawatiran komunitas Yahudi atas meningkatnya antisemitisme. Pernyataan Kraft menunjukkan ketakutan bahwa advokasi Palestina bisa berubah menjadi serangan identitas, meski kritik terhadap negara dan kebijakan seharusnya bisa dipisahkan dari kebencian etnis-agama. (Orbit dari berbagai sumber, 18 September 2026)
Di titik inilah publik menuntut standar yang sama bagi semua tragedi. Jika Ukraina diberi panggung, mengapa Gaza harus melalui “telepon dan pemecatan,” seperti ditulis pengacara HAM Prabha Nandagopal, sehingga empati tampak seperti hak istimewa geopolitik. (Orbit dari berbagai sumber, 18 September 2026)
Tur stadion adalah industri bernilai raksasa, dan karena itu ia rentan menjadi arena kontrol narasi. Ketika uang “memiliki percakapan,” seperti kata Lukas Graham, maka yang hilang bukan hanya satu artis pembuka, tetapi ruang demokratis untuk menyebut korban sebagai manusia. (Orbit dari berbagai sumber, 18 September 2026)
Perpecahan di tur Ed Sheeran menunjukkan bahwa musik tidak pernah benar-benar steril dari politik, terutama saat perang dan kematian sipil menjadi latar zaman. Keputusan para artis mundur mengingatkan bahwa solidaritas bisa datang dari tempat yang tak terduga, dan kadang justru lahir ketika panggung ditutup. (Orbit dari berbagai sumber, 18 September 2026)
Pertanyaan yang tersisa adalah siapa yang seharusnya menentukan batas ucapan di ruang publik: seniman, penonton, atau pemilik stadion. Jika jawaban terakhir yang menang, maka kita sedang menyaksikan bukan sekadar pembatalan penampilan, melainkan privatisasi suara nurani. (Orbit dari berbagai sumber, 18 September 2026)